<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690</id><updated>2012-03-07T02:38:21.926+07:00</updated><category term='Bung Karno'/><category term='Agnosia'/><category term='Puisi'/><category term='Travelling'/><category term='Sejarah'/><category term='Do&apos;a'/><category term='Xenophobia'/><category term='Quotes'/><category term='Makalah'/><category term='Opini'/><category term='Jakarta'/><category term='Music'/><category term='Ganja'/><category term='Islami'/><category term='Resensi'/><category term='Tips'/><category term='Ulumul Hadits'/><category term='Tokoh'/><category term='Cinta'/><category term='meu-Aceh'/><category term='Qoutes'/><category term='Xenomania'/><category term='Politik'/><category term='Lebaran'/><category term='Dominasi Gambar'/><category term='Cerita'/><category term='film'/><category term='Matematika'/><category term='Prosa'/><category term='Tsunami'/><category term='Sepak Bola'/><category term='Metodologi Kajian Keislaman'/><title type='text'>simetris sisi</title><subtitle type='html'>learn to crawl before walk away</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>53</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-6647345774193920986</id><published>2012-02-07T02:31:00.001+07:00</published><updated>2012-02-07T12:58:17.032+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Munsyi Menunggu Selagi Ototis Menyerbu</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Baiklah, aku menunggumu kali ini. Sekali saja, ya, sekali ini saja. Sebab aku tak suka menunggu. Sama sekali tak suka. Tapi sekali ini tak mengapa. Biarlah aku menunggu. Menunggumu sembari membaca beberapa buku. &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt;, aku sedang tak buru-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi menunggu adalah sama juga dengan membiarkan diri menjadi batu. Membatu. Kau tahu, membatu dan menunggu sama-sama membuat keras perilaku? Entahlah, kalau tak percaya. Anggap saja aku sedang mengada-ada. Mengada-ada selagi sibuk membaca. Tapi tahukah kau, membaca dan mengada-ada pernah bertemu di sebuang kampung bernama fiksi? Fiksi, bukan fixi, vixy, atau jenis-jenis kata lain yang ketika dibaca, suaranya sama terdengar di gendang telinga.&lt;br /&gt;"Di mana kampung fiksi?"&lt;br /&gt;"Kampung fiksi di sana."&lt;br /&gt;"Di mana?"&lt;br /&gt;"Ya, di sana!"&lt;br /&gt;"&lt;i&gt;Koq, nggak &lt;/i&gt;ada? &lt;i&gt;Nggak &lt;/i&gt;kelihatan dari sini. Dari tempat kita menunggu ini."&lt;br /&gt;"&lt;i&gt;Yah&lt;/i&gt;, kalau dari sini, ya &lt;i&gt;kagak &lt;/i&gt;kelihatan kali. Kampung fiksi itu jauh. Di sebalik gunung sana. Di ujung selatan, utara atau mungkin juga sebelah barat laut dari arah tenggara."&lt;br /&gt;"&lt;i&gt;Ribet &lt;/i&gt;amat! Kau mengada-ada saja."&lt;br /&gt;"Ya, tapi aku tak berdusta!"&lt;br /&gt;"Kau tak berdusta tapi sedang menunggu dan membaca."&lt;br /&gt;"Tidak juga. Bahkan aku tak mengeluarkan kentut sedari tadi. Apalagi membaca."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus saja menunggu. Ya, menunggu saja di situ, selagi tak diburu waktu. Walau seorang munsyi tak suka menunggu. Biarkan saja. Toh, hanya menunggu sekali ini saja. Hitung-hitung anggap saja menunggu itu sebagai perangkat melatih sabar. Bukankah sabar perlu latihan juga? Selayaknya latihan menulis yang mengharuskan kita banyak-banyak membaca. Ah, sedari tadi, sejak mulai menunggu terus saja kau celotehiku dengan membaca. Aku mesti membaca apa? Bukankah aku menunggumu sambil membaca?&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang ditunggu belum datang juga. Sementara si penunggu sudah habis membaca. Satu dua buku kecil telah habis di baca. Buku-buku semisal karangannya Kundera dan Mahfouz tamat sudah. Sebelum azan &lt;i&gt;maghrib&lt;/i&gt; melalui senja datang membuncah. Namun di dalam tasnya masih ada beberapa buku tebal yang belum di baca; ada Zentgraaf, Seno Gumira Adjiedharma, dan buku bersampul merah dengan judul Kamasutra. Sementara yang ditunggu belum menampakkan batang hidungnya. Si penunggu mulai gelisah. Sebab sedari pagi tadi dia menunggu. Pun begitu, ia tak bisa berbuat sesuatu. Untuk bergerak lalu pun tidak. Mungkin dia telah bertekad bulat untuk terus menunggu. Hingga ketika bulan mulai beranjak naik dan kumandang azan &lt;i&gt;isya&lt;/i&gt; dengan sengit menuju langit, sebentuk makhluk -entah orang, entah hantu- datang mendekat.&lt;br /&gt;"Aha... Kaukah penyair itu?"&lt;br /&gt;"Jangan sebut aku penyair. Telah lama tak ada syair. Kau siapa?"&lt;br /&gt;"Kenalkan, aku Ototis. Panggil saja Tys. Ingat, Tys, dengan rangkaian huruf te, ye, dan es."&lt;br /&gt;"Oke. Gerangan apa kau datang kesini?"&lt;br /&gt;"Aku datang untuk menemanimu yang menunggu dan sedang sendiri."&lt;br /&gt;"Aku tidak sendiri tapi aku memang sedang menunggu. &lt;i&gt;Trus, &lt;/i&gt;bagaimana kau akan menemaniku di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku menemanimu dengan bergelayut di sela-sela gigi. Membuat radang-radang nyeri di gigimu, hingga kau jauh dari sepi."&lt;br /&gt;"Jangan ganggu aku!"&lt;br /&gt;"Aku tak mengganggu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[bersambung ...]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-6647345774193920986?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/6647345774193920986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2012/02/munsyi-menunggu-selagi-ototis-menyerbu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6647345774193920986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6647345774193920986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2012/02/munsyi-menunggu-selagi-ototis-menyerbu.html' title='Munsyi Menunggu Selagi Ototis Menyerbu'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total><georss:featurename>Banda Aceh, Indonesia</georss:featurename><georss:point>5.546182 95.31905400000005</georss:point><georss:box>5.4833105 95.23887150000004 5.6090535 95.39923650000006</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-3399030002887566790</id><published>2012-02-02T18:31:00.000+07:00</published><updated>2012-02-02T18:31:51.189+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>Keluarga Bahagia</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;di kursi-kursi kedai kopi lama kita tertidur&lt;br /&gt;bermimpi dan mendengkur&lt;br /&gt;entah apa lagi yang bisa kita ucapkan,&lt;br /&gt;ketika orang-orang tua kita hilang harga diri&lt;br /&gt;kita hanya bisa menatapnya curiga&lt;br /&gt;sambil sesekali mencibirnya dengan&lt;br /&gt;bibir monyong setelah benci hinggap&lt;br /&gt;di kepala kita dengan sekonyong-konyong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inikah kita? atau, ya, beginilah hidup kita&lt;br /&gt;kehilangan orang tua oleh sebab mereka sibuk&lt;br /&gt;di kantor-kantor pemerintah dan kantoran swasta&lt;br /&gt;sementara kita menyibukkan diri di kedai-kedai kopi&lt;br /&gt;sebab kita sudah &lt;em&gt;kadung &lt;/em&gt;yatim ketika berada di rumah&lt;br /&gt;dan kita temukan orang tua baru di dunia maya&lt;br /&gt;&lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; adalah umpama orang tua&lt;br /&gt;tempat kita meratap sekaligus &lt;em&gt;curhat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;dan dengannya, sebagai orang tua baru yang&lt;br /&gt;mau mendengar segala keluh kesah&lt;br /&gt;sesekali kita adu untung dengan &lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;game-game&lt;/em&gt; yang dihadiahinya, &lt;em&gt;poker &lt;/em&gt;misalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pernah suatu kali, ketika pulang ke rumah&lt;br /&gt;kita dapati orang tua bertengkar tentang&lt;br /&gt;kreditan AC yang menunggak&lt;br /&gt;buru-buru kita putar haluan kembali ke kedai kopi&lt;br /&gt;buru-buru kita keluar&lt;br /&gt;tanpa ganti baju,&lt;br /&gt;tak sempat lepas sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o, orang-orang tua gila kerja&lt;br /&gt;o, orang-orang tua yang selalu ingin&lt;br /&gt;melihat anak-anaknya bahagiasemoga Tuhan&lt;br /&gt;melindungi langkah kalian&lt;br /&gt;walau kami  tahu tentang arah pikiran kalian&lt;br /&gt;tentang kelokan jalan akal hati kalian&lt;br /&gt;kami cukup tahu sebab kami adalah anak-anakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pernah pula di hari lebaran puasa&lt;br /&gt;tahun lewat atau beberapa tahun lalu&lt;br /&gt;kita sekeluarga saling menghilangkan rasa curiga&lt;br /&gt;amsal membuang hati yang menggerutu&lt;br /&gt;atau membunuh habis sifat cemburu&lt;br /&gt;salam takzim, salam tempel dan beberapa&lt;br /&gt;jenis salam-salaman lainnya&lt;br /&gt;sangat terasa kita hidup dalam sebuah&lt;br /&gt;keluarga yang keterlaluan bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o, orang-orang tua tempat kami berbagi bahagia&lt;br /&gt;o, orang tua-tua tempat kami meminta cerita&lt;br /&gt;bersebab nafkah bahagia dicuri waktu kiranya&lt;br /&gt;waktu sibuk,waktu mabuk, dan waktu-waktu suntuk lainnya&lt;br /&gt;sementara ibu hilang ditelan jadwal arisan dan urusan PKK&lt;br /&gt;o, orang-orang tua. o, orang tua-tua&lt;br /&gt;suatu kali kami merasa bukan yatim piatu lagi&lt;br /&gt;kami merasa sebagai anak jadah saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bivak Emperom, Feb. 2012&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-3399030002887566790?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/3399030002887566790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2012/02/keluarga-bahagia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/3399030002887566790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/3399030002887566790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2012/02/keluarga-bahagia.html' title='Keluarga Bahagia'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Banda Aceh, Indonesia</georss:featurename><georss:point>5.546182 95.31905400000005</georss:point><georss:box>5.4833105 95.23887150000004 5.6090535 95.39923650000006</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-7187676634251026570</id><published>2012-01-21T00:24:00.000+07:00</published><updated>2012-01-21T00:24:39.766+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Quotes'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='meu-Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Aceh Aneh, Di sini Januari Kami Bersama DN. Aidit</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-wi-p1RzyE8g/Txmg0E9xkFI/AAAAAAAAAS8/Pvjt2NMSMhw/s1600/DN_Aidit__by_hendryong.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-wi-p1RzyE8g/Txmg0E9xkFI/AAAAAAAAAS8/Pvjt2NMSMhw/s320/DN_Aidit__by_hendryong.jpg" width="238" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;by. Hendryong&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hampir saja Januari lewat. Sementara aku tak pernah singgah di sini. Ini blog saya, kawan. Blog tempat saya menyajikan apa saja yang ada dalam kepala demi mengosongkan berbagai ragam rupa pikiran agar kemudian dapat terisi lagi dengan pikiran-pikiran lain yang segar dan baru. Malam ini, saya singgah lagi. Menulis beberapa kalimat, bercerita apa saja, sembari mengajak otak berjalan-jalan dalam proses ingat mengingat. Maka inilah tulisan saya akhir Januari ini. Mungkin isinya sama sekali tak enak kau baca atau boleh jadi kau tak ingin membacanya sama sekali. Tapi itu tak mengapa, sebab di dunia ini bukan kau saja yang ada. Hmmm...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Januari, bulan awal tahun ini, saya terasa sangat sibuk. Berbagai kegiatan mesti saya kerjakan. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan, kampus, hobby, dan lain-lain lagi saya kerjakan hampir berbarengan. Seolah-olah, saya memiliki tenaga ekstra plus punya beberapa pasang tangan untuk mengerjakannya. Namun begitulah, alhamdulillah, saya dapat mengerjakannya dengan baik walaupun mungkin masih terdapat kekurangan di sana-sini. Cuma ketika menulis tulisan ini, saya berpikir bahwa saya sudah melaksanakan pekerjaan sesuai dengan kapasitas kemampuan saya sendiri. Alhamdulillah juga, saya dapat menikmati secangkir kopi seperti semula. Duduk santai di meja warungkopi, membuka laptop, dan kemudian menuliskan beberapa isi pikiran seperti yang sedang kau baca ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Januari sedang menuju akhir memang. Sedang saya terus saja menikmati hidup dengan apa adanya, dengan sederhana sambil (walaupun tidak terlalu taat) bersyukur kepada Tuhan yang telah menganugerahkan rahmatNya kepada saya sebagai salah satu makhluk terlemah di dunia. Hingga sampai sekarang saya dapat mengerahkan pikiran walau hanya untuk menuliskan suatu tulisan kecil ini. Alhamdulillah. Syukur Alhamdulillah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pun begitu, tentang perihal di atas saya tidak akan memperlebar pembicaraan tentang apa yang saya lakukan minggu-minggu terakhir dalam paragraf ini; juga untuk paragraf-paragraf selanjutnya. Sebab, ada perihal lain yang lebih menarik perhatian untuk disampaikan di sini. Perihal yang saya maksud lebih kepada apa yang sedang terjadi dan ini berhubungan dengan kondisi sosial masyarakat daerah saya sekarang. Provinsi Aceh. Ya, saya tinggal dan berkegiatan di Banda Aceh sekarang. Nah, berbicara masalah Aceh dalam beberapa bulan terakhir, ini kampung memang sudah benar-benar aneh. Dan pernah saya curiga kalau untuk provinsi Aceh; beranjak dari hal-hal aneh yang terus-terusan terjadi, rakyat Aceh akan menamakan &lt;i&gt;tanoh ie&lt;/i&gt;nya ini menjadi provinsi Aneh. Provinsi Aneh, bukan provinsi Aceh. Namun, semoga saja kecurigaan saya tidak pernah ada. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun melihat kondisi yang kadang mengernyitkan dahi ini, bukan tak mungkin pula apa yang saya curigai tadi memang benar adanya. Sebab, siapa yang tidak ingat tentang fakta kembalinya orang-orang 'setengah ghaib' yang pekerjaannya mencabut nyawa -saya tidak menghampirkan keberadaan mereka dengan malaikat pencabut nyawa, tapi perlu dipahami bahwa aksi-aksi mereka mengakibatkan saudara-saudara meninggal dunia- berkeliaran lagi dan menebarkan teror yang sudah hampir sewindu lamanya tidak terdengar lagi. Saya menyebutkan orang-orang biadab ini setengah ghaib dengan alasan bahwa -seperti yang banyak diberitakan- dalam melakukan aksinya mereka berkendaraan sepeda motor, menggunakan senjata api dimana dengannya kita tahu bahwa yang melakukan tindakan biadab ini adalah manusia dengan &lt;i&gt;pure &lt;/i&gt;gaya konvensional manusia pula, namun celakanya ketika ingin menelusuri siapa nama, dimana rumahnya, siapa nama ibu yang telah menetaskan manusia pembunuh tersebut; hal ini sama sekali ghaib. Tak ada identitas apapun yang bisa diterka-terka atau bahkan di klaim oleh pihak berwajib. Ini aneh. Aneh yang sedang terjadi di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranah politik lain lagi. Di Aceh polemik perpolitikan sedang gencar-gencarnya terjadi. Akhir-akhir ini, jelang Pilkada yang akan berlangsung, yang entah kapan waktu pastinya, berita koran di Aceh -lagi-lagi saya katakan- aneh-aneh. Sebenarnya hal keadaan begini adalah perkara-perkara biasa saja. Biasa terjadi di kota-kota besar maupun di kota-kota udik sekalipun. Namanya saja politik. Namun, di Aceh, saya sebagai orang Aceh tetap saja ingin mengatakan bahwa politik di sini benar-benar aneh. Aneh. Sekali lagi saya katakan polemik politik di Aceh adalah benar-benar aneh. Ini saya ungkapkan dengan alasan, melihat kepada kubu-kubu politik yang saling berpolemik. Bayangkan, orang-orang yang dulunya sama-sama bahu membahu berjuang demi membela rakyat kebanyakan, sekarang malah bertikai antar sesama hanya demi memperjuangkan -kelihatannya untuk- kepentingan pribadi atau kelompok saja. Bukankah hal keadaan begini ini adalah aneh adanya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bersoal dengan dua hal keadaan yang saya gambarkan secara garis besar di atas, adalah suatu hal yang tidak musykil jika suatu saat rakyat Aceh mesti bersuara juga akhirnya. Bersuara yang saya maksudkan ini bukanlah bersuara dengan cara pribadi-pribadi tentunya. Melainkan bersuara dengan satu pita suara terbuka dan melalui satu mulut yang dipikul oleh segenap gelombang massa rakyat Aceh semua. Jenis suara ini pun tentu saja bukan sembarang suara. Suara ini berjenis pertanyaan atau bahkan secara tegas kita katakan sebagai GUGATAN atas terjadinya hal-hal aneh ini. Keberadaan hal-hal aneh yang dapat merisaukan nyenyak tidur rakyat kebanyakan, mengganggu keselamatan nyawa rakyat, dan juga menumbuhkan rasa bosan yang berlebihan sehingga menyebabkan stress berat kepala rakyat. Tentu saja jika ditanya kepada siapa mempertanyakannya hal-hal yang demikian, maka jawabannya adalah ya mempertanyakan kepada pihak-pihak yang bertikai itu sendiri. Rakyat punya hak di sini. Rakyat punya banyak hak dalam masalah begini ini. Dan tentu saja rakyat sudah cukup bosan jika dari hari ke hari terus-terusan mendapati keanehan-keanehan yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi yang penuh polemik, saya teringat -ingatan ini muncul secara rekaan setelah membaca bukunya- &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/10/syarat-pemimpin-ala-seokarno.html"&gt;DN Aidit &lt;/a&gt;pernah menyebutkan keadaan sejatinya rakyat ketika menghadapi hal-hal yang tak masuk akal. Sebutnya, pada dasarnya untuk mengukur keberadaan hati rakyat, peribahasa telah mengajarkan bahwa dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu. Tambahnya -mungkin ketika mengaitkan peribahasa ini dengan keberadaan rakyat, Aidit menyeka keringat di dahinya berkali-kali- lagi; "&lt;i&gt;dalam dunia modern sekarang laut yang sedalam-dalamnya mudah diukur, dan bahkan angkasa dapat diukur. Tetapi tak ada dan tidak akan ada alat modern yang bagaimanapun yang dapat mengukur hati rakyat. Hati rakyat hanya dapat diukur dengan hati. Pikiran rakyat hanya dapat diselami dengan pikiran. ... Untuk ini kita harus mementingkan turun kebawah (turba) untuk mengadakan riset. Oleh karena itu, dengan tidak menunggu kesempatan turba untuk mengadakan riset yang tentu harus selalu kita usahakan, kita harus menambah pengetahuan kita dengan banyak belajar dan banyak bertukar pikiran.&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aidit unjuk bicara. Ya, dia berbicara ketika ia sedang duduk dalam jajaran elite politik ini negeri. Ia bicara tentang apa &lt;i&gt;sih &lt;/i&gt;yang ada dipikiran rakyat sekarang ini, padahal ia, waktu membicarakan masalah begini rupa boleh jadi sedang hidup dengan enak, mapan, atau selalu  dalam hidup serba keenakan (sekali lagi saya sebut; boleh jadi yang berarti entah benar pernah terjadi?). Atau mungkin Aidit berbicara seperti ini -sah juga jika kita curigai- hanyalah sebagai hasil pikirannya yang selalu berafiliasi dengan pemikiran komunisme yang dia anut itu. Tapi, dalam hal ini, saya tidak membicarakan masalah arah politik seseorang. Komuniskah ia, atau apapun paham-paham lainnya, adalah tidak penting jika merunut pada keadaan ketika rakyat sedang kejepit. Yang penting adalah bagaimana si tokoh politik yang dengan suaranya dapat keluar kebijakan-kebijakan berbicara tentang rakyat, bekerja untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, dan lain sebagainya demi kebaikan rakyat. Lalu, bagaimana dengan sekarang. Adakah elite-elite politik kita di Aceh seperti ini? Adakah para orang-orang yang sudah merasa jadi tokoh itu berbicara tentang keadaan rakyat? Saya rasa tidak. Tidak ada sama sekali. Yang ada hanyalah statement-statement berkedok untuk kepentingan rakyat padahal jelas-jelas isi statement adalah demi kepentingan pribadi atau kelompoknya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak dari keadaan ini, saya jadi ingin memiliki poster Tuan DN. Aidit tertempel manis di tembok kamar saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam soalan kondisi Aceh yang terasa aneh gara-gara tingkah para &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/09/solilokui-pejabat-bangku-panjang.html"&gt;orang-orang yang merasa ditokohi&lt;/a&gt; sekarang ini, hal yang memusingkan kepala kita bahwa kenapa masih ada orang yang tidak mau tahu tentang pikiran rakyatnya sendiri. Sementara hal yang sering mereka perebutkan adalah kebanyakan urusan kepentingan perut mereka saja. Ini dikatakan dengan pijakan; bacalah koran-koran harian. Catatlah berita-berita yang ada. Ketika teror dan jadwal pilkada hadir dalam waktu yang hampir bersamaan. Berita apa yang lebih banyak terangkat? Sampai di sini, rakyat punya jawabannya saya kira. Selanjutnya, sebab geram juga, saya sebut sajalah: "&lt;i&gt;gampong lahee lon&lt;/i&gt; adalah PROVINSI ANEH!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;gagasan tulisan ini sudah saya tulis sebelumnya akhir desember lalu. cuma dalam kesempatan ini saya tambahkan lagi seperti halnya yang telah kau baca ini. wassalamu!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Source: DN Aidit, &lt;i&gt;Buku Seni &amp;amp; Sastra,&lt;/i&gt; (Radja Minjak, 2002), dan http://www.kaskus.us/ &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bivak Emperom, Medio Desember - Januari.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-7187676634251026570?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/7187676634251026570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2012/01/aceh-aneh-di-sini-januari-kami-bersama.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/7187676634251026570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/7187676634251026570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2012/01/aceh-aneh-di-sini-januari-kami-bersama.html' title='Aceh Aneh, Di sini Januari Kami Bersama DN. Aidit'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-wi-p1RzyE8g/Txmg0E9xkFI/AAAAAAAAAS8/Pvjt2NMSMhw/s72-c/DN_Aidit__by_hendryong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-3500993241157701911</id><published>2011-12-31T00:10:00.000+07:00</published><updated>2011-12-31T00:10:59.553+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Music'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>A Long December *</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-2btB7MYec84/Tv3vBbbIP6I/AAAAAAAAASw/GIxVBPuFA5w/s1600/26589_109442252417289_100000545448293_158282_3809204_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="263" src="http://4.bp.blogspot.com/-2btB7MYec84/Tv3vBbbIP6I/AAAAAAAAASw/GIxVBPuFA5w/s400/26589_109442252417289_100000545448293_158282_3809204_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;A long December and there's reason to believe//Maybe this year will be better than the last// I can't remember the last thing that you said as you were leavin'//Now the days go by so fast// ..., &lt;/i&gt;sebut Adam Duritz, vokalis band Counting Crows dalam lirik lagunya yang berjudul A Long December. Lagu yang ditulis pertengahan Desember 1995, memang masih layak dikonsumsi gendang telinga. Apalagi menjelang tengah malam akhir Desember tahun ini. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Maybe this year will be better than the last".&lt;/i&gt; Ya, mungkin tahun ini, walau ia akan beranjak dalam hitungan jam nanti, adalah tahun yang terbaik dibandingkan tahun-tahun lewat. Kita mesti merenung atau melakukan kilas balik untuk mengetahuinya. Sesuatu yang pernah kita kerjakan, mungkin Januari lalu, atau barangkali keberhasilan kita atas sebuah pekerjaan di ujung Agustus lalu adalah hal yang boleh dikaji ulang. Dengannya kita menarik kesimpulan bahwa ada yang berhasil kita kerjakan. Dan karenanya pula, ketika Desember akan berakhir, kita akan merencanakan suatu rancangan pekerjaan untuk dikerjakan dengan baik tahun depan. Tahun yang akan menampakkan tubuhnya hanya dalam beberapa hari ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember adalah bulan baik untuk merenung, bulan yang elok untuk membuang bingung. Tentu saja, karena Desember adalah bulan yang terletak paling ujung. Dan sekarang kita sedang benar-benar berada di ujung. Terujung untuk kemudian berakhir. Tapi kita juga tak akan mengakui akhir, kecuali maut datang dengan tiba-tiba, singgah ke kepala kita dan untuk mengambil ajal, ianya mampir. Tentang Desember yang segera berakhir, kita tak mengakui bahwa semuanya akan berakhir karena Januari kembali membawakan kita ke titik awal. Ke titik, tempat semua rencana kita di buka dengan sebab sehat akal. Desember bagi kita adalah bulan yang baik untuk mengenang yang sudah-sudah, dan bulan yang elok pula untuk merancang pekerjaan lain agar nantinya ia berjalan mulus dan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika mengenang perihal yang terjadi di belakang pada akhir Desember seperti ini. Kita harus mengakui, bahwa ada yang tak sanggup kita ingat semua. Dalam keadaan seperti ini, Adam Duritz menyebut dalam lagu yang sama; &lt;i&gt;"i can't remember all the times i tried to tell myself, to hold on to these moments as they pass". &lt;/i&gt;Kita tak bisa meyakinkan diri  bahwa semua yang pernah terlewati bisa dikenang semuanya. Dan kita tak bisa berpegang pada semua kenangan yang ada, dimana jika terdapat suatu kenangan buruk, misalnya, kita  bertekad demikian rupa untuk memperbaikinya kali waktu yang lain. Ini tak bisa kita yakini dengan dengan baik, dan tentu saja, bersebab hal keadaan begini, kita tak ingin berulah seperti orang-orang munafik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember yang panjang dan terdapat alasan untuk mempercayai bahwa, barangkali, tahun ini adalah tahun yang terbaik tenimbang tahun-tahun lewat, sebut Adam Duritz dalam lagunya yang berjudul A Long December tahun 1995 lalu. &amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;* Judul salah satu lagu Counting Crows.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-3500993241157701911?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/3500993241157701911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/long-december.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/3500993241157701911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/3500993241157701911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/long-december.html' title='A Long December *'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-2btB7MYec84/Tv3vBbbIP6I/AAAAAAAAASw/GIxVBPuFA5w/s72-c/26589_109442252417289_100000545448293_158282_3809204_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total><georss:featurename>Banda Aceh, Indonesia</georss:featurename><georss:point>5.546182 95.31905400000005</georss:point><georss:box>5.4833105 95.23887150000004 5.6090535 95.39923650000006</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-8996653157689270485</id><published>2011-12-27T13:32:00.000+07:00</published><updated>2011-12-27T13:32:36.684+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Dinasti Abbasiyah</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Arial Baltic","sans-serif";}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Pokok Bahasan:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Pecahnya Dunia Islam &amp;amp; Timbulnya Dinasti-dinasti Kecil di Barat dan Timur Baghdad Pada Masa Dinasti Abbasiyah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 6pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;BAB I&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;A.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Latar Belakang &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Setelah mengikuti beberapa kuliah terakhir mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, dimana di dalamnya telah dibahas tentang dua dinasti besar setelah masa &lt;i&gt;khulafaurrasyidin&lt;/i&gt;, yaitu &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/sanad-hadits-kajian-tentang-naqd-as.html"&gt;Dinasti Umayyah &lt;/a&gt;dan Dinasti Abbasiyah (selanjutnya disebut Abbasiyah saja). Dari pembahasan-pembahasan ini di antara banyak kesimpulan yang telah diambil, penulis mencatat bahwa terdapat satu perbedaan mencolok antara kedua dinasti ini. Perbedaan ini dapat penulis pahami khusus pada aspek perkembangannya masing-masing. Bahwa pada Dinasti Umayyah aspek yang sangat berpengaruh dan berkembang adalah aspek politik. Ini dapat dibuktikan melihat pada luasnya wilayah penaklukan yang dicapai pada masa pemerintahannya. Sedangkan Abbasiyah, aspek yang paling mendominasi –bukan bermaksud berpendapat bahwa aspek lain tidak berkembang sama sekali– dalam perkembangannya selama masa pemerintahannya adalah berkembangnya aspek ilmu pengetahuan secara meluas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Penjelasan di atas adalah salah satu celah yang penulis ambil sebagai hal yang melatarbelakangi dalam menyusun makalah ini. Secara tegas, dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat pada masa Abbasiyah telah memungkinkan pemerintahannya sedikit alpa memperhatikan aspek politik yang berkembang pada wilayah-wilayah kekuasaannya. Kondisi begini rupa pada tahap selanjutnya menjadi salah satu faktor timbulnya dinasti-dinasti kecil, baik di barat maupun di timur pusat pemerintahan Abbasiyah, yaitu Baghdad. Maka pada kesempatan ini, yang menjadi titik fokus pembahasan makalah adalah berbicara tentang Abbasiyah pada bahasan terpecahnya dunia Islam dan berdirinya dinasti-dinasti kecil di barat dan di timur Baghdad. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Selanjutnya, setelah membaca beberapa buku yang berkenaan dengan sejarah peradaban Islam, penulis menemukan suatu ungkapan dalam buku &lt;i&gt;Mukaddimah Ibnu Khaldun&lt;/i&gt;. Di mana pada Bab III, dalam bahasan yang berjudul: “Apabila Negara telah berdiri teguh ia dapat meninggalkan solidaritas sosial”, dijelaskan bahwa: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Ketika kedudukan raja telah ditegakkan dan diwarisi keturunan demi keturunan, atau dinasti demi dinasti, maka orang akan lupa keadaannya yang asal. Rakyat tunduk kepada mereka yang memerintah sebagaimana tunduk kepada ajaran agama, serta berjuang untuk mereka sebagaimana berjuang untuk agama sendiri. Dalam tingkat ini orang yang memerintah tidak lagi bergantung kepada kekuatan angkatan bersenjata yang besar, sebab kekuasaan telah diterima sebagai kehendak Allah yang tidak bisa diubah atau ditentang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sejak itu dan seterusnya kekuasaan raja berpangkal kepada orang-orang yang mendapat perlindungan dari rumah tangga istana, ialah orang-orang yang dibesarkan di bawah perlindungannya; atau kalau tidak, maka raja bergantung kepada barisan-barisan bersenjata asing yang bekerja padanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Contoh mengenai ini diberikan oleh oleh Dinasti Abbasiyah. Dalam zaman Khalifah Al-Mu’tasim dan anaknya Al-Watsiq, semangat dan kekuatan bangsa Arab telah menjadi lemah, sehingga raja-raja bergantung sebagian besar kepada orang-orang yang mendapat perlindungan yang diambil dari bangsa-bangsa Persia, Turki, Dailami, Saljuk, dan lain-lainnya. Orang-orang asing ini dengan segera dapat menguasai provinsi-provinsi, sedang kekuasaan Abbasiyah sendiri hanya terbatas pada daerah sekitarnya saja.”&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Maka berdasarkan kutipan di atas, penulis memahami bahwa ketika suatu pemerintahan telah berjalan sedemikian lamanya, telah lama berdiri dengan tegaknya, telah lama pula berkuasa dengan mapannya, akan terdapat suatu celah yang memungkinkan pemerintahan tersebut mundur suatu ketika.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;B.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Rumusan Masalah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mencoba merumuskan suatu titik permasalahan, dimana dalam makalah ini, penulis mencoba menelaah tentang &lt;i&gt;Pecahnya Dunia Islam &amp;amp; Berdirinya Dinasti-Dinasti Kecil Di Timur Dan Barat Baghdad&lt;/i&gt;. Daripadanya pula penulis menyusun kerangka tulisan menjadi beberapa bagian, sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Periodeisasi Pemerintahan Dinasti Abbasiyah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Wilayah-wilayah kekuasaan Bani Abbasiyah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Berdirinya Dinasti-dinasti Kecil di Barat dan Timur Baghdad&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br clear="all" style="page-break-before: always;" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br clear="all" style="page-break-before: always;" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 17.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;A.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Periodeisasi Pemerintahan Dinasti Abbasiyah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Di antara &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/pendekatan-antropologis-dalam-kajian.html"&gt;para ahli sejarah&lt;/a&gt;, terdapat perbedaan pendapat dalam mengklasifikasikan periode-periode masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Dimana dalam membagikan periode-periode yang dimaksud, ada sejarawan yang berpendapat bahwa masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah terbagi atas dua periode. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ahmad al-Usairy, bahwa; “pemerintahan Dinasti Abbasiyah, sebagaimana banyak diistilahkan kalangan sejarawan dibagi menjadi dua periode: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;1.&amp;nbsp; Periode - I, yaitu dimulai sejak tahun 132&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;247 H/749&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;861 M. Periode ini merupakan masa kejayaan para Dinasti Abbasiyah. Ada sepuluh penguasa pada periode ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Periode – II, dimulai dari tahun 247&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;656 H/861&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;1258 M. Masa ini adalah masa lemahnya para khalifah dan lenyapnya kekuasaan mereka. Terdapat 27 khalifah yang memimpin pemerintahan pada masa ini.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Di sisi lain, ada juga yang berpendapat bahwa masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah terbagi atas 5 periode. Ini adalah merujuk kepada apa yang pernah diungkapkan oleh Ahmadi Wahid, yaitu: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black; line-height: 150%;"&gt;Periode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M) periode pengaruh Persia pertama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black; line-height: 150%;"&gt;Periode kedua (232 H/847 M – 234 H/945 M) masa pengaruh Turki pertama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black; line-height: 150%;"&gt;Periode ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M) masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan daulat (masa pengaruh Persia kedua).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black; line-height: 150%;"&gt;Periode keempat (447 H/1055 M/ – 590 H/1194 M) masa kekuasaan dinasti Saljuk dalam pemerintahan (masa pengaruh Turki kedua).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black; line-height: 150%;"&gt;Periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Lain halnya dengan dengan pendapat Abu Su’ud dalam Islamologi, bahwa masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang memerintah selama 508 tahun dibagi menjadi tiga periode penting. Dimana tiga periode ini dijelaskan berdasarkan tiga keturunan yang berkuasa, yaitu Bani Abbas, Bani Buwaih, dan Bani Saljuk. Dengan rincian, Bani Abbas berkuasa pada tahun 750 – 932 M dengan jumlah 18 khalifah, Bani Buwaih berkuasa pada 932 – 1075 M dengan jumlah 8 khalifah, dan Bani Saljuk berkuasa tahun 1075 – 1258 M dengan jumlah 11 khalifah. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Dari tiga pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pembagian periode masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang berjalan selama lima abad ini, para ahli sejarah mengklasifikasikannya menurut aspek yang ditelaahnya masing-masing. Keadaan inilah yang memungkinkan terdapat perbedaan pendapat tentang periodeisasi masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah itu sendiri. Dapat dipahami pula bahwa ada sejarawan yang membagi masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah melihat kepada masa naiknya pemerintahan dengan masa kemunduran pemerintahan, sehingga ia membaginya dalam dua periode saja. Ada sejarawan yang membagi periode masa pemerintahan setelah mengkaji pada pola pemerintahan yang diusung oleh para khalifah yang memimpin pada masa tertentu.Yaitu, p&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black;"&gt;ola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik., sosial, dan budaya, sehingga sejarawan yang meneliti dari aspek ini menyimpulkan bahwa masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah terbagi atas 4 periode atau lebih. Di samping itu, terdapat pula pendapat yang mengemukakan bahwa masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dibagi atas tiga periode berdasarkan pengamatannya terhadap asal-usul para khalifah yang memegang tampuk pimpinannya.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;B.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Wilayah-Wilayah Kekuasaan Dinasti Abbasiyah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Tentang wilayah-wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah dijelaskan dalam sebuah artikel sejarah peradaban Islam bahwa; pembagian wilayah masa dinasti Umayyah ke dalam provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur (amir) adalah sama dengan pola pemerintahan pada kekuasaan Bizantium dan Persia. Pembagian ini tidak mengalami perubahan berarti pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Provinsi Dinasti Abbasiyah mengalami perubahan dari masa ke masa, dan klasifikasi politik juga tidak selalu terkait dengan klasifikasi geografis, seperti yang terekam dalam karya Al-Istakhri, Ibn Hawqal, Ibn Al-Faqih, dan karya-karyanya yang sejenis. Dari sini diketahui bahwa provinsi-provinsi utama pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah adalah: 1). Afrika di sebelah barat gurun Libya bersama dengan Kep. Sisilia; 2). Mesir; 3). Suriah dan Palestina; 4). Hijaz dan Yamamah (Arab Tengah); 5). Yaman dan Arab Selatan; 6). Bahrain dan Oman; 7). Sawad atau Irak (Mesopotamia Bawah) dengan kota utamanya Kufah dan Wash setelah Baghdad; 8). Jazirah (kawasan Assyiria Kuno, bukan semenanjung Arab); 9). Azerbaijan dengan kot-kota besarnya seperti Ardabil, Tibriz, dan Maraghah; 10). Jibal (perbukitan Media Kuno kemudian dikenal dengan Irak Ajami atau Irak-nya orang Persia) dengan kota utamanya Ramadan.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 17.85pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;C.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Pecahnya Dunia Islam &amp;amp; Berdirinya Dinasti Kecil di Barat dan Timur Baghdad&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Setelah memahami periodeisasi masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah secara menyeluruh dan setelah melihat luas daerah kekuasaannya, dalam bahasan ini kita dapat mengkaji tentang pecahnya dunia Islam dan berdirinya dinasti-dinasti kecil dalam lingkup wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah itu sendiri. Yang dimaksud pecahnya dunia Islam di sini, menurut penulis adalah lebih berbicara dalam konteks politik masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, dimana ia pada tahap selanjutnya menjadi penyebab muncul dinasti-dinasti kecil dan hancurnya dinasti ini secara menyeluruh. Hal keadaan ini adalah merujuk pada bahasan Philip K. Hitti dalam &lt;i&gt;History of The Arabs,&lt;/i&gt; pada Bab XXII, di mana ia menulis “Kekhalifahan Terpecah: Dinasti-dinasti Kecil di Barat” sebagai judul bab yang dimaksud. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa; lima tahun setelah berdirinya kekhalifahan Abbasiyah, Abd Al-Rahman muda, satu-satunya keturunan Dinasti Umayyah yang luput dari pembantaian missal tiba di sebuah tempat, jauh di daratan Cordova, Spanyol. Setahun kemudian, tahun 756, dia mendirikan sebuah dinasti yang kelak menjadi dinasti besar.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ungkapan di atas merupakan sinyal yang dapat diketahui, bahwa pecahnya dunia Islam yang dimaksud di sini lebih berbicara pada perpecahan yang disebabkan kepentingan politik masing-masing pihak atau kelompok, hingga memungkinkan padanya banyak terjadi perebutan kekuasaan antara umat Islam itu sendiri. Kasus-kasus seperti ini sudah terjadi pada masa-masa awal perkembangan Islam sejak akhir masa &lt;i&gt;khulafaurrasyidin&lt;/i&gt; memerintah&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;, dan tak terkecuali pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah sekalipun. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 140%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 140%;"&gt;Maka beranjak dari pemahaman di atas, khusus pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah seperti dalam bahasan ini, dinasti-dinasti kecil yang muncul dapat diketahui sebagaimana yang telah diulas secara gamblang dalam berbagai buku sejarah peradaban Islam. Dimana berkenaan dengan ini, Jaih Mubarok, menjelaskan dalam bukunya bahwa keberadaan dinasti-dinasti kecil yang dimaksud dapat dibedakan kepada dua segi, yaitu dinasti-dinasti yang timbul dari segi ketundukan kepada khalifah atau tidak, dan segi geografis letak dinasti-dinasti itu berdiri. Oleh karena, bahasan dalam makalah ini adalah dikhususkan kepada dinasti-dinasti kecil menurut geografisnya semata, maka pembagiannya dapat diketahui, sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 140%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 140%;"&gt;Di Barat Baghdad ada, Dinasti Idrisi di Maroko (172-375 H/788-985 M), Dinasti Aghlabi di Tunisia (184-296 H/800-908 M), Dinasti Thulun di Mesir (254-292 H/868-967 M), Dinasti Ikhsyidi (323-357 H/934-967 M), Dinasti Hamdaniah (317-399 H/929-1009 M). Di Timur Baghdad diantaranya: Dinasti Tahiriyah di Khurasan (200-259 H/820-872 M), Dinasti Safariyah di Fars (254-289H/867-903 M), Dinasti Samaniyah di Transoxania (261-389 H/874-999 M), dan Dinasti Ghaznawi di Afganistan (&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 140%;"&gt;351-585 H / 962-1189 M&lt;span style="color: black;"&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 140%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 140%;"&gt;Selanjutnya, berdasarkan beberapa rujukan, dapat dipelajari secara singkat tentang keberadaan dinasti-dinasti kecil yang timbul baik di barat maupun di timur pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah, yaitu Baghdad.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; Dinasti-dinasti Kecil Di Barat Baghdad&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; Dinasti Idrisiyah &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt; &lt;b&gt;Maroko (172-375 H/788-985 M)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;Kerajaan ini didirikan oleh Idris bin Abdullah, cucu Hasan putra Ali. Dia adalah salah seorang tokoh bani Alawiyyin (nisyah Ali bin Abu Thalib). Pada tahun 172 H/788 M, Idris dilantik sebagai imam, dan terbentuklah kerajaan Idrisi dengan ibu kota Walil&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;a. Namun masa pemerintahannya hanya bertahan selama 5 tahun.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;Selanjutnya Idris bin Idris bin Abdullah (Idris II) menggantikan ayahnya sebagai pemerintah (177 H/793 M). Dengan pusat pemerintahannya dipindahkan ke Fes sebagai ibu kota yang baru pada tahun 192 H.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;Ketika Idris II wafat, Pemerintahannya diganti oleh Muhammad Al-Muntashir (213 H/828 M). Pada masa ini, kerajaan Idrisi berpecah-pecah. Akibatnya kerajaan menjadi lemah, terutama selepas Muhammad Al-Muntashir meninggal, pemerintahannya semakin rapuh.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 140%;"&gt;Kerajaan Idrisi adalah kerajaan Syiah pertama dalam sejarah. Zaman kerajaan Idrisi (172-314 H/789-926 M) adalah suatu jangka waktu yang cukup lama dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan yang lain. Dalam aspek dakwahnya, Idrisi yang membawa Islam dan mampu meyakinkan penduduk Maro&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 140%;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 140%;"&gt;o dan sekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 115%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 140%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;Dinasti Aghlabi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;di Tunisia &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;(184-296 H/800-908 M) &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;Dinasti ini didirikan oleh keturunan Ibrahim Ibn Aghlab Ibn Salim Al-Tamimi. Ibrahim Ibn Aghlab Ibn Salim Al-Tamimi diberi wewenang oleh Harun Al-Rasyid untuk memimpin pemerintahan di Tunis. Pusat pemerintahannya terletak di Qairawan. Dinasti ini dipimpin oleh 11 amir; dimana amir yang pertama ialah Ibrahim Ibn Aghlab (w. 184 H/800 M), dan amir yang terakhir adalah Abu Madhar Ziyadatullah (w. 296 H/900 M). Pemerintahan Aghlabi di taklukkan oleh Dinasti Fatimiah pada tahun 296 H/906 M.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 115%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;Dinasti Thulun di Mesir (254-292 H/868-967 M)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Bakbak adalah seorang pemimpin militer berkebangsaan Turki yang diberi jabatan wali (setingkat gubernur) untuk kawasan Mesir oleh Al-Mu’taz (862-866 M) pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Kemudian Bakbak memberikan jabatan tersebut kepada asistennya, Ahmad Ibn Thulun pada tahun 254 H/868 M.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Di bawah kepemimpinan Thulun inilah kemudian Mesir menjadi wilayah yang merdeka dari pemerintahan Abbasiyah di Irak. Pada masanya, dibangun Masjid Jami’ Ibn Thulun yang masih terpelihara hingga sekarang, dan Fusthath dijadikan pusat pemerintahan. Puncak dinasti ini adalah pada zaman Khumariyah Ibn Ahmad Ibn Thulun (270-282 H/884-895 M). Setelah pemimpin ini meninggal, terjadi konflik internal yang menghancurkan ekonomi dan militer pemerintahannya. Dalam situasi konflik internal ini, Dinasti Abbasiyah kembali menundukkan wilayah Dinasti Thulun kedalam wilayah kekuasaannya.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; Dinasti Hamdaniah (317&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;399 H/929&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;1009 M)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Dinasti ini didirikan oleh Hamdan Ibn Hamdun Ibn Al-Harits pada akhir abad ketiga hijriah. Salah satu keturunan Hamdan adalah Al-Husein Ibn Hamdan. Ia sangat terkenal karena kehebatannya dalam berperang. Al-Husein berperang melawan Dinasti Qaramithah. Pada tahun 944 M, dinasti ini berhasil menaklukkan Suriah dan bertahan sampai tahun 1003 M. Abu Hayja (saudara Al-Husein) diangkat menjadi gubernur Mosul oleh Al-Muktafi. Berdirinya Dinasti Hamdaniah di Syuriah bersamaan dengan bangkitnya Byzantium di bawah Macedonia. Oleh karena itu, sebagian besar waktunya digunakan untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya dari serangan Byzantium.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Pun begitu, dalam dinasti ini muncul pula beberapa tokoh intelektual yang sampai sekarang dikenal sebagai ahli dalam bidang kajiannya masing-masing. Dalam bidang ilmu &lt;i&gt;nahwu&lt;/i&gt; muncul nama-nama seperti; Abi Al-Fath dan Ustman Ibn Jinni. Di bidang sastra ada ulama yang terkenal yaitu Abu Thayyib Al-Mutanabbi dan Abu Al-Faraj. Sementara dalam bidang filsafat terdapat filsuf ternama dalam masa pemerintahan dinasti ini, yaitu Al-Farabi.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;Dinasti Ikhsyidi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;, Mesir&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt; (323-35&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt; H/934-96&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt; M)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Ketika Dinasti Fatimiah yang berpusat di utara Afrika menyerang Mesir, seorang yang berkebangsaan Turki bernama Muhammad Ibn Thugi bersama para pengikutnya berhasil mempertahankan sungari Nil dari serangan tersebut. Atas keberhasilan ini, Khalifah Al-Radhi salah satu penguasa Dinasti Abbasiyah yang memimpin tahun 932-934 M mengangatnya sebagai gubernur Mesir. Dari pengangkatan inilah dinasti Ikhsyidi bermula. Dimana pada masa seterusnya penguasa pertama dinasti ini berkuasa antara tahun 934 sampai 941 M.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Setelah dua tahun berkuasa di Mesir, dinasti ini berhasil menundukkan Syiria, Palestina, Mekkah, dan Madinah. Setelah Ibn Thugi meninggal, penggantinya berturut-turut diketahui, yaitu; Abu Al-Qasim Ibn Ikhsyid (954-960 M), Abu Al-Hasan Ali Ibn Al-Ikhsyid (960-965 M), Abu Al-Misk Kafur (965-967 M), dan Abu Al-Fawaris Ahmad Ibn Ali (966-968 M). Setelah masa kepemimpinan Abu Al-Misk Kafur, dinasti ini mengalami masa kemunduran hingga kemudian ditaklukkan oleh Jauhar Al-Saql, salah satu penguasa Dinasti Fatimiah.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Pada zaman Dinasti Ikhsyidi, di Mesir didirikan &lt;i&gt;suq al-warigin&lt;/i&gt;, tempat melakukan pengkajian dan pengembangan intelektual. Pada fase ini tercatat nama besar di bidang intelektual: Muhammad Ibn Al-Tamimi, Abu Ishaq Al-Marwaji, Abu Amr Al-Hindi, dan Al-Mutanabbi. Di samping itu mereka juga meninggalkan istana Al-Mukhtar, taman Bustan al-Kafur, dan &lt;i&gt;Maidan Ikhsyid&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Pun begitu, menurut Philip K. Hitti, selama periode kekuasaannya, Dinasti Ikhsyidi tidak memberikan kontribusi apapun bagi kehidupan seni dan sastra di Mesir maupun Suriah. Selain itu, tidak ada karya-karya publik yang lahir dari tangan mereka.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Dinasti-dinasti Kecil Di Timur Baghdad&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Dinasti Tahiriyah &lt;span style="color: black;"&gt;di Khurasan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt; (200-259 H/820-872 M)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Sebelum meninggal, Harun Al-Rasyid telah menyiapkan dua anaknya untuk diangkat menjadi putra mahkota untuk kemudian menjadi khalifah, yaitu: Al-Amin, dan Al-Ma’mun. Al-Amin dihadiahi wilayah bagian barat, dan Al-Ma’mun dihadiahi wilayah bagian timur. Setelah Harun Al-Rasyid meninggal Al-Amin tidak bersedia membagi wilayahnya dengan Al-Ma’mun. Oleh karena itu, pertempuran dua bersaudara terjadi yang akhirnya dimenangkan oleh Al-Ma’mun. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Menurut sejumlah sejarawan, dalam pertempuran antara dua bersaudara ini, muslim Arab mendukung Al-Amin, dan muslim Persia mendukung Al-Ma’mun. Jadi persaingan antara Al-Amin dengan Al-Ma’mun adalah persaingan antara suku Arab dengan suku Persia.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Setelah perang usai, Al-Ma’mun&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; menyatukan kembali wilayah Dinasti Abbasiyah. Untuk keperluan itu, ia didukung oleh Tahir, seorang panglima militer dan saudaranya sendiri, yaitu Al-Mu’tashim. Sebagai imbalan jasa, Tahir diangkat menjadi panglima tertinggi Bani Abbas dan Gubernur Mesir (205 H). Wilayah kekuasaannya kemudian diperluas sampai ke Khurasan (820-822 M), dengan janji bahwa jabatan itu dapat diwariskan kepada anak-anaknya.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Dinasti ini mengakui khilafah Abbasiyah, dan dipimpin oleh empat amir: Tahir Ibn Husein sebagai pendiri (159-207 H), Thalhah Ibn Thahir (207-213 H), Abdullah Ibn Thahir (213-248 H), dan Muhammad Ibn Thahir (248-259 H). Pada tahap selanjutnya ketika Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh Al-Mu’tamid dan Al-Muwafaq dinasti ini tidak mendapat dukungan lagi dari pemerintah pusat, dan akhirnya takluk setelah di ekspansi oleh Dinasti Safari.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;Dinasti Safari&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;yah di Fars&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt; (254-289H/867-903 M)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 140%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 140%;"&gt;Dinasti Safari didirikan oleh Ya’qub Ibn Laits Al-Shafar yang berkuasa antara tahun 867-878 M. Tokoh pendiri ini adalah perwira militer yang kemudian diangkat menjadi amir wilayah Sajistan pada zaman khalifah Al-Muhtadi (869-870 M). Ya’qub Ibn Laits Al-Shafar mendapat dukungan dari khalifah Al-Mu’tamid untuk memperluas wilayah kekuasaannya hingga berhasil menaklukkan Blakh, Tabaristan, Sind, dan Kabul. Penaklukan yang lakukannya membuat Ya’qub Ibn Laits Al-Shafar semakin kuat dan mengirimkan hadiah kepada khalifah di Baghdad, dan bahkan ia didukung oleh pemerintah pusat untuk menaklukkan Dinasti Tahiri di Khurasan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 140%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 140%;"&gt;Namun pada tahap selanjutnya, ketika dinasti ini semakin gencar melakukan penaklukan-penaklukan, Khalifah Al-Mu’tamid merasa khawatir dan ingin menaklukkan dinasti ini. Akan tetapi Ya’qub Ibn Laits Al-Shafar menantang khalifah dan malah menuntut kemerdekaan wilayahnya secara penuh. Setelah meninggal, Ya’qub digantikan oleh saudaranya, Amr Ibn Al-Laits (878-903 M). Dan pada masa pemerintahan Amr Ibn Al-Laits ini khalifah Dinasti Abbasiyah baru bisa menaklukkan dinasti ini dan berhasil menangkap dan memenjarakan pemimpinnya di Baghdad hingga meninggal pada zaman khalifah Al-Mu’tadhid (870-982 M).&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 140%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;Dinasti Samani&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;yah di Transoxania&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt; (261-389 H/874-999 M)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 140%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 140%;"&gt;Menurut Jaih Mubarok, dalam menelusuri kekuasaan Samani, kita harus kembali pada zaman Al-Ma’mun yang membagi-bagi wilayah kepada para pendukungnya ketika memenangkan pertempuran dengan saudaranya Al-Amin. Pembagian wilayah ini bersamaan dengan pemberian wilayah kepada Tahiri di Khurasan, dan untuk wilayah Transoxiana Al-Ma’mun memberikan kewenangan kepada Asad Ibn Saman untuk memimpinnya. Kemudian dinasti kecil ini menaklukkan wilayah-wilayah di sekitarnya sehingga berhasil menguasai Transoxiana, Khurasan, Sajistan, Karman, Jurjan, Rayy, dan Tabaristan. Dinasti Samani berkuasa hingga Khurasan setelah berhasil membantu khalifah Al-Mu’tadhid pemimpin Dinasti Abbasiyah menyerang Dinasti Safari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 140%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 140%;"&gt;Pada zaman dinasti ini, lahir ulama-ulama besar yang juga melahirkan karya-karya besar dalam dunia Islam. Di antara mereka adalah Al-Firdausi, Umar Khayyam, Ibn Sina, Al-Biruni, Zakaria Al-Razi, dan Al-Farabi.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn20" name="_ftnref20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 140%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 140%;"&gt;Tentang lahirnya tokoh ilmuwan besar ini, dalam bukunya Philip K. Hitti mengungkapkan, bahwa di bawah kekuasaan dinasti Samani kaum muslim berhasil menaklukkan seluruh kawasan Transoxiana. Ibukotanya, Bukhara, dan kota terkemukanya adalah Samarkand, dimana kota ini hampir mengungguli Baghdad sebagai pusat pendidikan dan seni. Pada masa ini, tidak hanya keilmuan Arab yang dilindungi dan dikembangkan, tetapi juga keilmuan Persia. Pada masa ini pula, ilmuwan muslim yang masyhur, Al-Razi mempersembahkan karya utamanya, dalam bidang kedokteran yang berjudul &lt;i&gt;Al-Manshur&lt;/i&gt; kepada pangeran Dinasti Samani, Abu Shalih Manshur Ibn Ishaq dari Sijistan.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn21" name="_ftnref21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 140%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 140%;"&gt; &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;Dinasti Ghaz&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; line-height: 150%;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt; di Afganistan (&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;351-585 H / 962-1189 M&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; line-height: 150%;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Abd Al-Malik Ibn Nuh (khalifah dari Dinasti Samani) mengangkat Alptigin untuk menjadi pengawal kerajaan. Karena kesetiaannya, ia diangkat menjadi komandan pengawal kerajaan; dan akhirnya ia diangkat menjadi amir di Khurasan. Alptigin hanya setia kepada Abd Al-Malik Ibn Nuh, dan ketika Abd Al-Malik meninggal, ia tidak mentaati pemimpin Dinasti Samani yang baru.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; Pada tahun 963 M meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya yang bernama Ishaq. Ishaq yang kurang cakap dalam memerintah akhirnya harus merelakan tahta kekuasaannya jatuh ke tangan yang lain, yaitu Baltigin yang kemudian digantikan pula oleh Firri. Firri kemudian diserang oleh Subuktigin dan ia berhasil menguasai Ghazna pada tahun 977 M. Subuktigin dianggap sebagai pendiri Dinasti Ghaznawi yang sebenarnya. Akan tetapi, Subuktigin masih tunduk kepada Dinasti Samani, yaitu Nuh Ibn Manshur. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Setelah Subuktigin meninggal, pucuk pimpinan dinasti ini digantikan oleh anaknya yang bernama Isma’il. Namun, ia kemudian dikudeta oleh saudaranya, Mahmud. Kemudian Mahmud yang mulai memakai gelar kesultanannya menjadi Mahmud Al-Ghaznawi melakukan perluasan wilayah sampai ke Lahore, Multan, sebagian daerah Sind; dan berturut-turut pada tahun 1025-1026 ia menaklukkan Gujarat, Khawarizmi, Georgia, dan Rayy. Akhirnya kekuasaan Dinasti ini meliputi India Utara, Irak, Persia, Khurasan, Turkistan, sebagian Transoxiana, Sijistan, tepi sungai Gangga, dan Punjab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Mahmud Al-Ghaznawi merupakan khalifah terbaik dinasti ini. Hingga pada tahun 1030 M, ia meninggal dan digantikan oleh putranya bernama Muhammad. Pada masa kepemimpinan ini sampai selanjutnya Dinasti Ghaznawi mulai merosot akibat pertikaian perebutan kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn22" name="_ftnref22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;BAB III&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Dari paparan yang secara singkat telah dibahas pada bab-bab sebelumnya, penulis menarik beberapa kesimpulan, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Dalam masalah pengklasifikasian periode masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang secara keseluruhannya berdiri selama lima abad lebih, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para sejarawan. Hal keadaan ini disebabkan karena berbedanya aspek yang dikaji masing-masing sejarawan dalam kajiannya terhadap pemerintahan Dinasti Abbasiyah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Hal yang paling mendasar bagi timbulnya dinasti-dinasti kecil baik di barat maupun di timur Baghdad ialah pertama sekali disebabkan oleh bertikainya dua putra mahkota Dinasti Abbasiyah sepeninggal Harun Al-Rasyid memegang pucuk pimpinan. Dua putra mahkota ini adalah Al-Amin dan Al-Ma’mun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Selanjutnya yang menjadi faktor lain dari bermunculannya dinasti-dinasti kecil pada masa dinasti Abbasiyah ialah kealpaan para penguasanya sendiri yang terlalu &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;mempercayakan keamanan berlebihan kepada suatu kelompok&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; yang dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;jelas akan berakibat pada lunturnya nilai persatuan di antara masyarakat itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Pelajaran yang dapat diambil dari telaah ini, khusus kepada penulis sendiri, bahwa dalam perkembangan dunia Islam, ajaran agama sering digunakan oleh para penguasa sebagai alat politik demi mencapai apa yang diinginkannya. Hal keadaan ini sudah berlangsung sedemikian lamanya, seperti yang terlihat dalam masa-masa disintegrasi Dinasti Abbasiyah, misalnya, sampai dengan kondisi dunia Islam sekarang ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e.&lt;span style="-moz-font-feature-settings: normal; -moz-font-language-override: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Timbulnya dinasti-dinasti kecil di barat dan timur Baghdad merupakan suatu tahapan awal dari ambruknya suatu Dinasti besar dalam dunia Islam yang dengan peninggalan-peninggalan karya para intelektualnya (baik intelektual di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya) peradaban umat manusia di dunia secara umum mengalami pencerahan dari padanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-size: small;"&gt;  &lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br clear="all" style="page-break-before: always;" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Abu Su’ud, &lt;i&gt;Islamologi, Sejarah, Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, &lt;/i&gt;Jakarta: Rineka Cipta, 2003.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ahmad Al-Usairy, &lt;i&gt;Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Sampai Abad XX,&lt;/i&gt; Terj. H. Samson Rahman, MA., Jakarta: Akbar Media Eka Sarana: 2006, Cet. IV.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ahmadi Wahid, &lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black;"&gt;Sejarah Kebudayaan Islam, Menjelajahi Perada&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black;"&gt;b&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black;"&gt;an Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black;"&gt;, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span lang="IN" style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Badri Yatim, &lt;i&gt;Sejarah Peradaban Islam, &lt;/i&gt;Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ibnu Khaldun, &lt;i&gt;Muqaddimah&lt;/i&gt;, terj. Ahmadi Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008, Cet. VII.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;Jaih Mubarok, &lt;i&gt;Sejarah Peradaban Islam&lt;/i&gt;, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Philip K. Hitti, &lt;i&gt;History of The Arabs, &lt;/i&gt;Terj. R. Cecep Lukman Yasin, dkk. Jakarta: Serambi, 2006, Cet. II.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Siti Maryam, dkk. (ed.), &lt;i&gt;Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern&lt;/i&gt;, Yogyakarta: Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga &amp;amp; LESFI, 2003.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://m.pustaka.abatasa.com/sejarah/allsub/154.html"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://m.pustaka.abatasa.com/sejarah/allsub/154.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.docstoc.com/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://www.docstoc.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://www.hidayatullah.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="font-family: inherit; margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="font-family: inherit; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br clear="all" /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibnu Khaldun, &lt;i&gt;Muqaddimah&lt;/i&gt;, terj. Ahmadi Thoha, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), Cet. VII, hal. 188.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ahmad Al-Usairy, &lt;i&gt;Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Sampai Abad XX,&lt;/i&gt; Terj. H. Samson Rahman, MA., (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana: 2006), Cet. IV, hal. 218.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ahmadi Wahid, &lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black;"&gt;Sejarah Kebudayaan Islam, Menjelajahi Perada&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black;"&gt;b&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black;"&gt;an Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white; color: black;"&gt;, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 2008), hlm. 60.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Abu Su’ud, &lt;i&gt;Islamologi, Sejarah, Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, &lt;/i&gt;(Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 74, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt; &lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dalam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.docstoc.com/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://www.docstoc.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ibid.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn7"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Philip K. Hitti, &lt;i&gt;History of The Arabs, &lt;/i&gt;Terj. R. Cecep Lukman Yasin, dkk. (Jakarta: Serambi, 2006), Cet. II, hal. 570.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn8"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Jaih Mubarok, &lt;i&gt;Sejarah Peradaban Islam&lt;/i&gt;, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005), hal. 132.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn9"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dinasti Idrisiyah, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dalam &lt;/span&gt;&lt;a href="http://m.pustaka.abatasa.com/sejarah/allsub/154.html"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://m.pustaka.abatasa.com/sejarah/allsub/154.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn10"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Jaih Mubarok, &lt;i&gt;op.cit., &lt;/i&gt;hal. 153.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn11"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ibid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. hal. 154.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn12"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ibid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. hal. 154-155.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn13"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ibid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. hal. 156.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn14"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Ahmad Amin, &lt;i&gt;Zhuhr al-Islam, &lt;/i&gt;(Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabiyah, t.th.), Jil. I, hal. 164, dalam &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://www.hidayatullah.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn15"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Philip K. Hitti, &lt;i&gt;op.cit., &lt;/i&gt;hal. 579.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn16"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Badri Yatim, &lt;i&gt;Sejarah Peradaban Islam, &lt;/i&gt;(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 62.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn17"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Siti Maryam, dkk. (ed.), &lt;i&gt;Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern&lt;/i&gt;, (Yogyakarta: Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga &amp;amp; LESFI, 2003)&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;hal 123.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn18"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jaih Mubarok, &lt;i&gt;op.cit&lt;/i&gt;. hal. 133.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn19"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid, &lt;/i&gt;hal. 134. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn20"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref20" name="_ftn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid, &lt;/i&gt;hal. 135. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn21"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref21" name="_ftn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Philip K. Hitti, &lt;i&gt;op.cit., &lt;/i&gt;hal. 587.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn22"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref22" name="_ftn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Jaih Mubarok, &lt;i&gt;op.cit., &lt;/i&gt;hal. 140.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;[Tulisan ini telah dipresentasikan dalam sidang mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, Program Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh].&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-8996653157689270485?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/8996653157689270485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/dinasti-abbasiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/8996653157689270485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/8996653157689270485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/dinasti-abbasiyah.html' title='Dinasti Abbasiyah'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-1506277586389793441</id><published>2011-12-26T13:04:00.000+07:00</published><updated>2011-12-26T13:04:55.966+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='meu-Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsunami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dominasi Gambar'/><title type='text'>Tsunami; Mengenang Kembali</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-1zOkJNmHTQw/TvgF8C0bY7I/AAAAAAAAARU/Wg2rtfQY5Ks/s1600/041229_TsunamiRebels.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="428" src="http://1.bp.blogspot.com/-1zOkJNmHTQw/TvgF8C0bY7I/AAAAAAAAARU/Wg2rtfQY5Ks/s640/041229_TsunamiRebels.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;mungkin ratap. tapi ratap kami dipenuh dengan ratib-ratib&lt;/span&gt;.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kau suruh kami untuk mengenang kembali, tentang pagi minggu yang penuh maut itu. Mohon mengerti. Kami sudah tak tahu mengenang apa lagi. Kami sudah tak tahu bagaimana melupa atau membuang pikiran tentang orang-orang yang mati menggenang atau hanya dengan sekali alir air, orang-orang menghilang. Kami sudah tak tahu bagaimana mengenang dengan baik dan benar, sesuai akal waras dan sehat logika. Jangan katakan kami sedang dilanda traumatis akut pula. Sebab, jauh hari sebelumnya, kami sudah banyak belajar bagaimana menghibur diri ketika menderita kehilangan. Kami sudah tahu bagaimana membendung perasaan ketika suami kami tertembak peluru nyasar, anak kami yang tak pulang-pulang, entah kesasar, hingga jika kau sebut pagi minggu penuh maut itu adalah muasal &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/08/sahoer-atjeh-kini-doeloe.html"&gt;penyakit trauma&lt;/a&gt;. Dengan tegas kami menolak. Kami tak pernah trauma dengan kematian. Kami tidak trauma dengan kematian dalam bentuk apa pun. Kau tahu bagaimana bisa? Jawabannya: kami masih punya keyakinan atau iman dalam dada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-h3bbMVjofJ4/TvgH1VTMT3I/AAAAAAAAARs/2ERZ1XHcUYI/s1600/masjid+ulee+lhee.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://3.bp.blogspot.com/-h3bbMVjofJ4/TvgH1VTMT3I/AAAAAAAAARs/2ERZ1XHcUYI/s640/masjid+ulee+lhee.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Mesjid Ule Lheue&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-idyAn6UJ62Y/TvgICE6cDVI/AAAAAAAAAR0/yfaXhFEGYWI/s1600/yasinaceh-6.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="424" src="http://4.bp.blogspot.com/-idyAn6UJ62Y/TvgICE6cDVI/AAAAAAAAAR0/yfaXhFEGYWI/s640/yasinaceh-6.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;setegak menara ini. kami masih tegak berdiri walau dibalut puing-puing&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-J9bFvNCVB8I/TvgIDqmHcNI/AAAAAAAAAR8/QERmDmhkXy4/s1600/Banda%252520Aceh%252520Powership.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="457" src="http://2.bp.blogspot.com/-J9bFvNCVB8I/TvgIDqmHcNI/AAAAAAAAAR8/QERmDmhkXy4/s640/Banda%252520Aceh%252520Powership.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sesat kapal sebab amuk air, Punge &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-joPUWsiN_xY/TvgIZI1Fd9I/AAAAAAAAASM/g25XFd0pQ3I/s1600/image010.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-joPUWsiN_xY/TvgIZI1Fd9I/AAAAAAAAASM/g25XFd0pQ3I/s640/image010.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;pun begini, kami tahu bahwa kami tak benar-benar sedang sendiri&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-w4-SHM50uqY/TvgKEcJd1hI/AAAAAAAAASY/Q0DcJZf52_o/s1600/1.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://4.bp.blogspot.com/-w4-SHM50uqY/TvgKEcJd1hI/AAAAAAAAASY/Q0DcJZf52_o/s640/1.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;rex peunayong depan hotel medan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8pAssegnZ_o/TvgKZhA_EsI/AAAAAAAAASk/f-Hz8eFKJPE/s1600/DSCF1967.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://4.bp.blogspot.com/-8pAssegnZ_o/TvgKZhA_EsI/AAAAAAAAASk/f-Hz8eFKJPE/s640/DSCF1967.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;bukankah kau mengerti, sebab apa kami masih setegak ini berdiri?&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Image source: berbagai sumber.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-1506277586389793441?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/1506277586389793441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/tsunami-mengenang-kembali.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1506277586389793441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1506277586389793441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/tsunami-mengenang-kembali.html' title='Tsunami; Mengenang Kembali'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-1zOkJNmHTQw/TvgF8C0bY7I/AAAAAAAAARU/Wg2rtfQY5Ks/s72-c/041229_TsunamiRebels.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total><georss:featurename>Banda Aceh, Indonesia</georss:featurename><georss:point>5.546182 95.31905400000005</georss:point><georss:box>5.4833105 95.23887150000004 5.6090535 95.39923650000006</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-6588671533786573839</id><published>2011-12-23T02:46:00.000+07:00</published><updated>2011-12-23T02:46:11.428+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Melanjutkan 'Perkelahian' Hasan Aspahani</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-6V8rOMNSNpI/TvOIcs5GfeI/AAAAAAAAARI/e_GmsfMyVic/s1600/HAH+di+BAF+2008-2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="216" src="http://4.bp.blogspot.com/-6V8rOMNSNpI/TvOIcs5GfeI/AAAAAAAAARI/e_GmsfMyVic/s320/HAH+di+BAF+2008-2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;u&gt;doc. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com/"&gt;Sejuta Puisi Hasan Aspahani&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Barusan, beberapa menit lewat, melalui blog ini, saya melakukan perjalanan jauh di dunia maya. Berjalan selayaknya saya berjalan kaki di siang hari. Banyak singgah di sana-sini. Singgah di blog sana, istirahat di blog lain lagi. Begitulah. Tengah malam jum'at, dalam keadaan dingin begini, blog teman-teman yang saya ikuti, saya singgahi satu-satu. Tak semuanya memang. Tapi boleh dikatakan melebihi setengah dari semua yang ada. Hingga setelah beberapa kali singgah di banyak blog, akhirnya saya menetap lama di blog salah seorang tukang puisi Indonesia yang namanya sering nangkring di media-media cetak nasional. Blog Hasan Aspahani. Blognya ini bertajuk: &lt;a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com/"&gt;"Sejuta Puisi Hasan Aspahani"&lt;/a&gt;. Nah, di sini pula saya menemukan sebuah puisi yang membuat saya menetap lama di sini. Banyak puisi yang dapat saya nikmati di sini. Dan buat malam ini, salah satu puisi yang paling berkesan di hati saya adalah puisi yang berjudul &lt;a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com/2011/12/berkelahilah.html"&gt;"Berkelahilah"&lt;/a&gt;. Setelah membaca puisi ini berkali-kali, dengan perasaan lekas, buru-buru, penuh nafsu, saya komentari puisi ini dalam bentuk puisi lain. Maka adalah hal yang harus jujur dikatakan, bahwa komentar saya ini adalah &lt;i&gt;pure&lt;/i&gt; terinspirasi dari puisi yang dimaksud. Sehingga judulnya saya sebutkan saja seperti judul postingan tulisan ini. Komentar saya yang berupa puisi tersebut, jika kalian ingin membacanya, adalah seperti yang tertulis berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Melanjutkan 'Perkelahian' Hasan Aspahani&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;berkelahilah. sampai keluar itu darah. kelak, kau tahu hakikat merah. makna merah yang menggugah. makna darah yang ketika kau lihat menumpah, setidaknya kau paham tentang riwayat hidup ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anakku, berkelahilah. berkelahilah dengan segenap unsur tubuhmu. dengan akal, dengan tinju. dengan hati, juga dengan berbagai rasa ragu. tak usah takut akan datangnya hukuman. hukuman tak pernah ada, sampai kau benar-benar tahu menggunakan akal logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anakku, ayahmu di sini. di serambi rumah menunggumu sambil membaca koran sore, sambil menyeruput segelas kopi. teruslah berkelahi di sana. dan harap jangan pulang sebelum lebam dan luka tertoreh di wajah dan bahu yang rapuh itu. kelak, dengannya kau mengerti tentang makna memikul beban. kelak, kau paham tentang bagaimana menahan malu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anakku, jangan pulang dulu. selesaikan dengan baik segala urusanmu. teruslah berkelahi, sampai tak ada yang tersumbat di hati. tumpaslah dendam dengan beringas, dengan ganas. namun jangan lupa, kau mesti tetap menggunakan akal waras. dengannya, nanti kau paham tentang bagaimana mendewasakan emosi hingga kau dikenal orang sebagai lelaki yang penuh isi. berisi dan layak dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anakku, berkelahilah. ayahmu ini, dulu, sewaktu masih seumuran denganmu juga sering berkelahi. tak ada yang melarang berkelahi. negara tak melarang, apalagi polisi. negara hanya melarang perang dan korupsi. sedang berkelahi? tak mengapa dengannya. tak usah takut untuk terus mencoba. sebab, dengan berkelahi kau akan mengerti bagaimana membuat taktik dalam hidup. kau lebih mengerti bagaimana memperlakukan seorang musuh selayaknya menyayangi famili yang datang dari jauh. berkelahi adalah milik laki-laki, anakku. karenanya, berkelahilah jika kau ingin membuktikan kelelakianmu itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: small;"&gt;nak, berkelahilah! dan jangan lekas marah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Bivak Emperom, Des. 2011.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-6588671533786573839?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/6588671533786573839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/melanjutkan-perkelahian-hasan-aspahani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6588671533786573839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6588671533786573839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/melanjutkan-perkelahian-hasan-aspahani.html' title='Melanjutkan &apos;Perkelahian&apos; Hasan Aspahani'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-6V8rOMNSNpI/TvOIcs5GfeI/AAAAAAAAARI/e_GmsfMyVic/s72-c/HAH+di+BAF+2008-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-7712892754578746297</id><published>2011-12-19T21:40:00.006+07:00</published><updated>2011-12-19T22:02:20.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Orang-orang Beruang</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;uang ada di tangan. orang-orang yang mabuk selangkangan. orang-orang  yang berebut jatah pendidikan. sayang nian. namun bermulalah uang.  berakhir jua pada kematian. tapi apa pasal itu mati? jikalau hidup  serupa mimpi. jikalau jabatan bisa dibeli. apalagi harga nasi. perkara  mati, begi kami; orang-orang yang lupa diri, adalah perkara yang tak  perlu digurui. sebab, uang sedang demikian penting. kami tak mau  pening-pening. mati adalah urusan lain. &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt;, kami tak hidup di alam lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka bermulalah uang. kemudian perang. kemudian dendam. kemudian  nikmat perawan. kemudian perempuan simpanan. kemudian pesiar mingguan.  kemudian penyakit akut. kemudian perasaan takut. kemudian kulit  berkerut. kemudian malaikat maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi mati, tetap saja urusan lain. &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt;, kami tak hidup di  alam lain. maka kembali kepasal pertama. uang ada di tangan. orang-orang  yang memegang jabatan. orang-orang yang minim keturunan. celaka sudah. &lt;i&gt;ceulaka dua blah,&lt;/i&gt; buat si miskin bermodal &lt;i&gt;aamiiiin.&lt;/i&gt;  sebab uang, kami tak butuh do’a. yang penting ada harga. maka apa pasal  teriakan melengking. jikalau yang halal susah mencarinya. jikalau yang  haram di depan mata. tak ada yang lebih menggiurkan dari pada segepok  uang. bukan sejumput recehan. maka kenapa pula kau bertanya, hukum halal  haramnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;maka bermulalah uang. kemudian pesta. kemudian ganja. kemudian  senggama. kemudian pengalokasian dana-dana. kemudian pencemaran  nama-nama. kemudian studi banding. kemudian sesak kencing. kemudian bau  pesing. kemudian jatuh miskin. kemudian bosan. kemudian sendirian.  kemudian kuburan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Banda Aceh, 7 Maret 2011&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-7712892754578746297?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/7712892754578746297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/puisi-reza-mustafa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/7712892754578746297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/7712892754578746297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/puisi-reza-mustafa.html' title='Orang-orang Beruang'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total><georss:featurename>Band, Urmia, Iran</georss:featurename><georss:point>37.5117941 45.023271799999975</georss:point><georss:box>37.5020176 45.01358979999998 37.521570600000004 45.03295379999997</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-1353726443840970414</id><published>2011-12-18T02:03:00.001+07:00</published><updated>2011-12-18T02:13:20.558+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Xenomania'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='meu-Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Xenophobia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>Barangkali Kita Adalah Sekumpulan Xenomania Belaka</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-aW0GyDwWOwQ/TuzlYTCv1yI/AAAAAAAAAQo/JQo42SXM7Ws/s1600/sesuatu_ilustrasi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-aW0GyDwWOwQ/TuzlYTCv1yI/AAAAAAAAAQo/JQo42SXM7Ws/s400/sesuatu_ilustrasi.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;doc. Rully Shabara Herman&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Akhir-akhir ini perang opini tentang kebijakan pemerintah kota Banda Aceh yang menggaruk keberadaan komunitas punk sangat gencar terjadi. Ada yang pro dengan pemerintah ada juga yang kontra. Berkenaan dengannya, saya ingin katakan begini:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Mungkin, atau boleh jadi, atau barangkali, kita sedang keranjingan untuk terus memusatkan pikiran terhadap hal-hal kecil belaka akhir-akhir ini. Banyak isu-isu (&lt;i&gt;idea-idea&lt;/i&gt;) yang dikembangkan oleh (kebanyakan) Barat (untuk kata ini, kau boleh baca: &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/sanad-hadits-kajian-tentang-naqd-as.html"&gt;&lt;i&gt;orientalis&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;), sekarang ini sudah menjadi &lt;i&gt;trend&lt;/i&gt; para &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/pendekatan-antropologis-dalam-kajian.html"&gt;intelektualis&lt;/a&gt; kita untuk mengadopsinya sebagai landasan berpikir dalam melemparkan gagasan terhadap sebuah masalah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Saya melihat bahwa kebanyakan isu-isu yang dikembangkan Barat merupakan semacam usaha untuk membesar-besarkan sesuatu masalah kecil, sehingga dengannya, para pengamat masalah (baik, masyarakat banyak, akademisi, pejabat pemerintah, PNS honorer, tukang becak, dan lain-lain yang hidup dan secara tidak langsung berhubungan dengan masalah yang ada) menjadi alpa terhadap masalah besar yang sedang ada, atau yang sedang dirancang oleh suatu pihak. Boleh jadi, bisa diartikan pula bahwa isu-isu yang dikembangkan Barat ke dalam pemikiran otak kita adalah semacam &lt;i&gt;kamuflase&lt;/i&gt; (pengalih perhatian) agar apa yang mereka sembunyikan dari kita dapat tersembunyi dengan tenang dan &lt;i&gt;khidmat bin khusyu’&lt;/i&gt; di mana kita terus-terusan buta terhadapnya. Boleh jadi juga, jika kita boleh (semestinya) curiga, Barat menyembunyikan suatu program besar dalam rangka menghancurkan kita dengan cara menggembar-gemborkan suatu masalah kecil yang dengannya kita asyik bertikai sesama. Dengannya pula perhatian kita luput terhadap masalah besar yang melintas dengan semena-mena di depan mata kepala. Begitulah, dengannya kita kadung dungu dan buta!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Celakanya lagi, entah bagaimana, kita sangat getol dan antusias dengan segala apa yang berbau Barat. Entah bagaimana kita menjadi demikian latah terhadap apa saja yang dikembangkan Barat sehingga dengan senang hati kita mencomot dan mengadopsinya dalam menyelesaikan suatu masalah yang ada di tanah kita sendiri. Sehingga pada taraf yang demikian akut, kita merasa diri sebagai orang yang paling keren ketika mengemukakan suatu pemikiran, gaya, atau apa pun hal lain berdasarkan apa yang dikembangkan oleh Barat tersebut. Kita tak sadar sedang menanggalkan jati diri dan kemudian menggadaikan harga diri. Di sini, saya tak punya maksud mengajak Anda untuk anti barat dengan sepenuhnya. Dalam hal ini, saya lebih ingin mengemukakan bahwa kita butuh filter terhadap isu-isu yang dikembangkan oleh barat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Isu Hak Azasi Manusia adalah contoh yang sangat gampang kita temukan di segala sudut kampung dan kota kita sekarang ini. Perkara hak azasi adalah perkara yang sangat sering digembargemborkan ketika seseorang membela diri. Tentang ini saya malah berpikir bahwa ketika kita menuntut &lt;i&gt;hak&lt;/i&gt; tentu kita tak abai terhadap &lt;i&gt;kewajiban&lt;/i&gt;. Sebab &lt;i&gt;hak &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;kewajiban &lt;/i&gt;adalah dua kata yang mengandung atau kita kandung atau kita pikul sebagai seorang manusia dalam hidup di dunia secara bermasyarakat dan merakyat. Ketika rakyat menuntut haknya kepada pemerintah, misalnya, pada dasarnya pemerintah boleh mempertanyakan kewajiban apa yang sudah dilakukan oleh rakyat yang menuntut haknya tersebut. Bukankah begitu, saudaraku? &lt;i&gt;So&lt;/i&gt;, jika sedang begini, coba kita tarik lagi terhadap isu-isu yang dikembangkan oleh Barat sekarang ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Apakah Barat pernah menggembar-gemborkan isu Kewajiban Azasi Manusia sebagaimana mereka mengagung-agungkan Hak Azasi Manusia ke telinga dan otak kita? Saya tak pernah mendengar istilah Kewajiban Azasi Manusia ini dibicarakan dalam ruang publik mana pun. Pernahkah Anda mendengarnya? Jika tidak, berarti Anda sama dengan saya, dan boleh punya pikiran, bahwa isu HAM itu pada dasarnya hanyalah isu yang menjebak. Isu yang membuat kita menjadi kaum penadah hak, kaum peminta-minta hak belaka tanpa tahu kewajiban setiap diri pribadi kita apa. Dengannya etos kerja kita surut. Otak kita sudah dipenuhi dengan pertanyaan mana hak saya? Apa-apa selalu disangkutpautkan dengan: ini adalah hak asasi saya, itu adalah hak asasi saya, tapi ketika ditanyakan kewajiban apa saja yang sudah kau kerjakan, kita bingung murung. Kita seperti orang-orang yang tak tahu untung. Bebas raga dengan jiwa terpasung!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lain lagi masalah &lt;i&gt;gender&lt;/i&gt;. Yang saya tahu, kata &lt;i&gt;gender&lt;/i&gt; berarti jenis kelamin. Oleh Barat kata ini didefinisikan (kurang lebih menurut pemahaman saya) sebagai pembelaan hak-hak perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Terhadap isu ini, harus kita akui, bahwa pada suatu tempat tertentu di belahan bumi ini, keberadaan laki-laki lebih diperhitungkan dalam suatu tatanan sosial. Banyak perempuan terintimidasi oleh berbagai aturan primitive (saya tidak menyebutkan aturan agama, sebab dalam pemahaman saya bahwa agama, khususnya ajaran Islam, tidak pernah mendiskreditkan keberadaan perempuan di bawah dominasi para laki-laki).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dari sini, tentu saja isu gender adalah baik dikembangkan di tempat-tempat yang penduduknya seprimitive itu. Tapi, seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa kita -tanpa sadar- sedang mengidap penyakit latah Barat, isu ini kita bawa juga untuk masuk ke kampung dan kota-kota kita. Ramai-ramai orang kita bikin proposal acara untuk mendakwahi masyarakat tentang isu &lt;i&gt;gender&lt;/i&gt; yang lagi &lt;i&gt;ngetrend&lt;/i&gt; ini. Apakah itu acara seminar, teater budaya, lokakarya, pelatihan, dan lain sebagainya dimana tema utama kesemua acaranya adalah mengangkat isu gender yang dikembangkan barat setinggi langit sampai kadang-kadang beritanya menyaingi jatah tayang iklan deodorant di radio dan televisi. Ketika kelatahan tentang isu gender memuncak di kalangan kita beberapa waktu lalu, saya teringat ibu saya dan ibu teman-teman saya di kampung-kampung.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kemudian, dalam kondisi kekinian, berita paling menghangat yang sekarang banyak dibicarakan oleh teman-teman saya, yang notabene mereka ini adalah para penulis muda, dimana nama-namanya sering nangkring di media massa baik cetak maupun elektronik, baik media lokal maupun ‘interlokal’ adalah bersoal tentang mempertanyakan (kata ini saya perhalus setelah membaca beberapa tulisan mereka yang kebanyakan bernada kasar) kembali kebijakan Pemkot Banda Aceh yang beberapa hari lalu menggaruk keberadaan komunitas punk di kota Banda Aceh. Banyak kritikan-kritikan yang diajukan kepada pemkot dengan kebijakannya ‘menggaruk’ anak-anak punk tersalur melalui tulisan-tulisan di jejaring sosial khususnya &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;. Alasan yang dilontarkan pun cukup beragam. Ada yang menuding bahwa pihak pemerintah tak menjunjung tinggi azas demokrasi, ada yang bilang kebijakan pemkot melanggar HAM, bahkan ada juga yang mengatakan kalau-kalau Pemkot Banda Aceh hanya mampu menggaruk keberadaan Komunitas Punk karena komunitas ini selain secara kasat mata terlihat aneh-aneh dari segi penampilannya, secara financial malah tidak menguntungkan pemerintah sama sekali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-outline-level: 2; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lebih lanjut, komentar yang terakhir saya sebut ini, berakhir dengan analisisnya yang mengemukakan bahwa pemerintah hanya menggaruk komunitas punk, sedang keberadaan lonte-lonte yang disinyalir berkeliaran dari hotel ke hotel tidak digubris sebab para lonte-lonte ini punya penjaga gawang yang kerap menyetor uang dari hasil usaha mereka.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Terhadap anggapan yang terakhir saya mengangguk setuju. Karena boleh saja kita curiga jika pemerintah banyak bermain mata dengan pengusaha-pengusaha yang mengembangkan bisnisnya dalam ranah lendir-lendiran atau selangkangan. Bahkan ada juga pemerintah yang membuat lokalisasi untuk melegalkan usaha ini, seperti di Surabaya sana dengan keberadaan komplek Dolly-nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Namun yang memiriskan hati dan memotivasi saya untuk menulis tulisan ini adalah, setelah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang cerpenis kawakan Aceh bernama Azhari. Artikel ini dimuat dalam sebuah portal berita dengan judul &lt;i&gt;Saya Azhari, Saya Punker: Apa Ada Masalah Besar?&lt;/i&gt; Pada dasarnya ketika membaca tulisan ini, saya mengerti bahwa kemauan sang penulis di dalamnya adalah semacam kritikan terhadap pemerintah yang menurutnya telah berlaku semena-mena terhadap anak-anak tak berdaya dengan memperlihatkan kekuatannya yang sangat besar. Sedang terhadap para koruptor, terhadap para bajingan-bajingan berdasi lain yang mengotori negeri ini, menurut Azhari, pemerintah terlihat tak berdaya sama sekali. Menurutnya pemerintah hanya bisa berdiri perkasa di depan anak-anak tak berdaya, sedang di depan para penjahat kelas kakap pemerintah lesu loyo dan kehilangan gigi taringnya. Saya sangat setuju dengan kritikan yang begini ini. Namun, ketika Azhari menyatakan bahwa perbuatan pemerintah yang menggaruk anak-anak punk adalah ‘melanggar konstitusi di dalam sebuah negara yang melindungi hak-hak warga negaranya’ saya jadi sedikit curiga tentang ke arah mana tulisan ini tertuju.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-outline-level: 2; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kecurigaan ini, adalah berpijak seperti apa yang saya jelaskan dalam beberapa paragraf di atas. Jangan-jangan dalam artikel ini, Azhari sedang mengkampanyekan pemenuhan tuntutan hak rakyat pada pemerintah dengan mengabaikan kewajiban mereka sendiri. Jika kecurigaan ini benar adanya, maka boleh disebut, bahwa kita memang sudah benar-benar latah terhadap pemikiran-pemikiran Barat. Sehingga kita mesti menguras pikiran, memaksa kerja otak dengan keras, agar dapat menulis sebaik mungkin hanya demi membela anak-anak punk yang digaruk pemerintah. Sedang ketika kasus anak-anak yatim yang terlantar dan tidak digubris pemerintah, misalnya, kita hanya berdiam diri dan malah enak-enakan mengongkangkan kaki di warung-warung kopi tanpa sedikit pun bersuara tentangnya untuk mengemukakan sikap peduli. Inilah yang saya takutkan dari kencanduan intelektual kita terhadap pemikiran barat. Kita diajak untuk membesar-besarkan, mendramatisasi masalah-masalah kecil sehingga kita alpa atau malah tidak jadi peduli terhadap masalah-masalah yang lebih besar lain. Kita sibuk menyuarakan pemenuhan hak, tanpa mau bertanya sudahkah kau kerjakan apa yang menjadi kewajiban? Untuk ini, semoga kecurigaan saya terhadap Azhari barusan hanyalah isapan jempol kaki saya belaka. Di mana dengannya, kita tak salah kaprah dalam bersuara, dan benar-benar paham dengan idiom &lt;i&gt;ureueng gampong tanyoe&lt;/i&gt;:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-outline-level: 2; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“&lt;i&gt;Ureueng ek u mantong, lheuh jitron baroe dilakee ongkoh&lt;/i&gt;.”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-outline-level: 2; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Maka adalah hal yang menggelikan ketika ada orang-orang yang berintelektual tinggi duluan meminta hak padahal ia belum memenuhi kewajibannya sama sekali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tentunya saya bukanlah &lt;i&gt;&lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/08/agnosia-akut.html"&gt;xenophobikus&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;yang mencurigai ke-Asing-an seseorang dari saudara sendiri yang masih se-iman dengan saya. Apalagi keinginan mengemukakan bahwa kita butuh ayakan terhadap isu-isu yang disolek oleh intelektual Barat. Kemudian, setelah mengayak satu per satu isu-isu tersebut, kita menggado-gadokannya dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada, apakah itu standardisasi kekampungan kita atau bahkan membandingkan dengan latah-latah lain yang menjadi lawan dari kelatahan yang sedang kita telaah itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 150%;"&gt;[Tulisan ini sudah dimuat sebelumnya dalam portal berita &lt;a href="http://acehcorner.com/2011/12/adalah-orang-orang-latah/"&gt;acehcorner.com &lt;/a&gt;dengan judul 'adalah orang-orang latah']&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-1353726443840970414?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/1353726443840970414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/barangkali-kita-adalah-sekumpulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1353726443840970414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1353726443840970414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/barangkali-kita-adalah-sekumpulan.html' title='Barangkali Kita Adalah Sekumpulan Xenomania Belaka'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-aW0GyDwWOwQ/TuzlYTCv1yI/AAAAAAAAAQo/JQo42SXM7Ws/s72-c/sesuatu_ilustrasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-5666394636020436797</id><published>2011-12-16T03:16:00.000+07:00</published><updated>2011-12-16T03:16:51.830+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dominasi Gambar'/><title type='text'>Belajar Pegang Camera</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-fNC44VL91X0/TupGmcKdIvI/AAAAAAAAAPc/duyCgRy1FhI/s1600/DSC_0093.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-fNC44VL91X0/TupGmcKdIvI/AAAAAAAAAPc/duyCgRy1FhI/s1600/DSC_0093.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, saya sedang belajar pegang &lt;i&gt;camera&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Camera&lt;/i&gt; yang sering dipegang oleh photographer-photographer itu. Kamera mahal tentunya, sebab ia bukan kamera pocket, dan bukan juga kamera biasa yang jangkauan zoom-nya hanya beberapa ratus centimeter saja. Tapi, terus terang kamera yang saya pegang bukan kepunyaan pribadi. Punya abang angkat saya, yang sekali waktu datang ke tempat saya. Maka, selagi ada kamera begini, saya minta izin untuk belajar motret dengannya. Mengambil gambar apa saja. Saya tak tahu ilmu &lt;i&gt;photography&lt;/i&gt;; entah itu berkenaan bagaimana cara mengambil gambar yang bagus, sudut pandang, letak objek, angel, dan lain sebagainya. Saya tak tahu tentang hal-hal detil begitu. Jadi, di sini saya memotret suatu objek dengan modal insting yang ada di hati dan kepala. Itu saja. Hasilnya? Kalian boleh lihat seperti gambar di atas dan gambar-gambar berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_UtdgokKE8k/TupG_ueisyI/AAAAAAAAAPk/SUGtqt5PSEQ/s1600/DSC_0014.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="345" src="http://4.bp.blogspot.com/-_UtdgokKE8k/TupG_ueisyI/AAAAAAAAAPk/SUGtqt5PSEQ/s400/DSC_0014.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-U_Z0R36zv6U/TupIXij_jhI/AAAAAAAAAP0/6TI6PloAnL4/s1600/DSC_0069.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://1.bp.blogspot.com/-U_Z0R36zv6U/TupIXij_jhI/AAAAAAAAAP0/6TI6PloAnL4/s400/DSC_0069.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-bCaUk1G-F8s/TupUIBpkLSI/AAAAAAAAAQc/lsDUJA9mVIA/s1600/KREASI.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-bCaUk1G-F8s/TupUIBpkLSI/AAAAAAAAAQc/lsDUJA9mVIA/s1600/KREASI.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-aeHEsZP4TzQ/TupJl5GOvrI/AAAAAAAAAQE/SDuz9fUFvo0/s1600/DSC_0100.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="507" src="http://4.bp.blogspot.com/-aeHEsZP4TzQ/TupJl5GOvrI/AAAAAAAAAQE/SDuz9fUFvo0/s640/DSC_0100.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-5666394636020436797?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/5666394636020436797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/belajar-pegang-camera.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/5666394636020436797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/5666394636020436797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/belajar-pegang-camera.html' title='Belajar Pegang Camera'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-fNC44VL91X0/TupGmcKdIvI/AAAAAAAAAPc/duyCgRy1FhI/s72-c/DSC_0093.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Banda Aceh, Indonesia</georss:featurename><georss:point>5.510642516928308 95.28472172460943</georss:point><georss:box>5.447771016928308 95.20453922460942 5.573514016928308 95.36490422460943</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-6642202661926080736</id><published>2011-12-12T14:59:00.001+07:00</published><updated>2011-12-12T15:00:31.590+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agnosia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>Tak Ingin Membati Buta</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XJSlHaETC8w/TuWwKxMRszI/AAAAAAAAAPQ/oiusisKc4Fs/s1600/229744_1810987442517_1474934760_31789490_4911329_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XJSlHaETC8w/TuWwKxMRszI/AAAAAAAAAPQ/oiusisKc4Fs/s1600/229744_1810987442517_1474934760_31789490_4911329_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-XJSlHaETC8w/TuWwKxMRszI/AAAAAAAAAPQ/oiusisKc4Fs/s320/229744_1810987442517_1474934760_31789490_4911329_n.jpg" width="178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;doc. idrus bin harun&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kiranya ketika melangkah, kita butuh penunjuk arah. Sebab kita masih buta. Kita memang buta. Ya, hakikatnya kita benar-benar buta, walau mata terbelalak, terpelotot lebar terbuka. Kita mesti mengakui banyak hal tentang kebutaan ini. Mungkin kita pernah membaca kalimat Seno Gumira Aji Darma dalam Kisah Mata. Sebutnya, &lt;i&gt;"... dunia ini penuh dengan keajaiban karena hal-hal yang tidak masuk akal masih terus berlangsung. Seorang fotografer ingin membagi duka dunia di balik hal-hal yang kasat mata. ..., para fotografer membagi pandangan, tetapi yang memandang foto ternyata buta meskipun mempunyai mata." &lt;/i&gt;Kita tahu yang dimaksudkan Seno dalam kutipannya tak lain adalah sinyal untuk menerangkan bahwa kebutaan manusia pada dasarnya tidak melulu berhubungan dengan indera melihat saja. Tapi ia menerangkan dengan halus, bahwa, meskipun seseorang punya mata, tetapi hakikatnya dia adalah seorang buta. Kenapa demikian? Boleh jadi, hal keadaan demikian disebutkan karena banyak di antara kita sudah tak tahu memfungsikan mata dengan baik dan benar. Dan mata yang dimaksudkan itu, boleh jadi juga adalah mata yang menyemat dalam hati. Mata hati. Bukan mata kepala kita sendiri. Maka adalah kita yang belum punya mata hati, ketika melangkah, ketika menembus arah, kita memerlukan alat semacam kompas, atau penunjuk arah. Kompas mata hati adalah ilmu yang berpadu dengan akal pikiran. Dengannya kita tak sesat di jalan. Dengannya kita tak bakal hilang lembar-lembar ingatan. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Sesat adalah pertanda bahwa kita keras kepala dan merasa tak penting akan kompas atau penunjuk arah sejenisnya. Jalan penuh jalur, penuh simpang, juga penuh aral melintang kita lalui saja tanpa banyak perhitungan. Hasilnya? Dapat ditebak.  Di kelokan yang kita tak tahu di mana, di simpangan yang tak ada rambu-rambu petunjuk, atau di jalan lurus yang dari kejauhan menawarkan fatamorgana, suatu bahaya besar menanti kita. Hasilnya? Jangan ditanya. Kita terpelanting ke belakang atau malah akal waras, jabatan, harta, dan lain sebagainya yang sedang kita punya segera menghilang. Karenanya, tak ada banyak alasan selain setuju bahwa penunjuk arah adalah sesuatu yang penting bagi kita. Pun kita tak pernah ingin berjalan atau mengembara. Kita tetap butuh penunjuk arah yang menuntun setiap gerak dalam diri kita. Mungkin kaki tak pernah ingin bergerak, tak selalu ingin melangkah; tapi hati, pikiran, darah, ingatan, air, udara, yang ada dalam diri kita tentu tak sama seperti sang kaki. Kesemua dari mereka, semua yang ada dalam tubuh kita, tetap ingin bergerak dengan leluasa. Bergerak atas dasar dan dengan cara sifat alamiahnya.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Pun begitu, ada juga salah satu dari kita semua, pernah ingin benar-benar buta. Suatu waktu yang tak menentu, ia menyebut; &lt;i&gt;"Ajarkan aku menjadi buta, agar aku lupa dengan warna. Segalanya serupa, dalam surga yang aku sebut fana." &lt;/i&gt;[Adi Wiwid, an Architect]. Pada taraf keinginan seperti ini, kita tak dapat mengartikulasikannya dengan semena-mena. Sebab, ketika seseorang ingin menjadi buta, ia sudah cukup punya alasan dengan pilihannya. Dan kita pun tak bisa mencegahnya. Hanya saja, walaupun ia punya alasan terbaik dalam menerangkan pilihannya, &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/08/agnosia-akut.html"&gt;kita patut curiga pula&lt;/a&gt;. Curiga dalam arti bukan untuk berburuk sangka. Curiga dalam taraf mempertanyakan efek dari pilihannya saja. Tidakkah buta dapat membuatnya linglung bingung? Atau, bukankah ketika dilanda buta, seseorang akan dibalut hitam legam? Apa-apa menjadi pekat. Segala yang ada sekonyong-konyong hilang secara mata mengkasat. Bukankah begitu efek yang ditimbulkan buta? Atau, kau sudah benar-benar punya mata hati yang sempurna? Atau, benarkah mata hati yang kau punya sudah benar-benar sempurna? Di sini, &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html"&gt;kita tidak bisa benar-benar percaya&lt;/a&gt;, jika seseorang ini berkilah bahwa ia sudah punya mata hati yang cerah, bercahaya mencercah, gilang gemilang dalam menembus segala penglihatan. Barangkali ia mempunyai penglihatan lain, selain mata kepala dan mata hati. Barangkali, dia ingin mengandalkan mata rasionalitasnya belaka.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Maka darinya, kita sangat membutuhkan petunjuk arah untuk memaknainya. Kita membutuhkan peralatan penunjuk arah untuk membuat cerah mata hati dan mata kepala yang ada. Mungkin ilmu, mungkin petunjuk guru, atau mungkin juga pengalaman hidup sehari-hari yang berpadu di dalamnya antara ilmu dan petunjuk guru. Hingga di akhir, kita tak sama setuju jika seseorang yang datang dari jauh, datang dan mengeluh; &lt;i&gt;"Ajarkan aku menjadi buta, agar aku lupa dengan warna. Segalanya serupa, dalam surga yang aku sebut fana." &lt;/i&gt;Benarkah surga itu fana? Kita rasa tidak demikian adanya. &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Dec. 2011, Bivak Emperom.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;qoutes source: http://www.goodreads.com/quotes/tag/buta&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-6642202661926080736?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/6642202661926080736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/tak-ingin-membati-buta.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6642202661926080736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6642202661926080736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/tak-ingin-membati-buta.html' title='Tak Ingin Membati Buta'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-XJSlHaETC8w/TuWwKxMRszI/AAAAAAAAAPQ/oiusisKc4Fs/s72-c/229744_1810987442517_1474934760_31789490_4911329_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total><georss:featurename>Banda Aceh, Indonesia</georss:featurename><georss:point>5.546182 95.31905400000005</georss:point><georss:box>5.4833105 95.23887150000004 5.6090535 95.39923650000006</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-1765885124163675837</id><published>2011-12-09T18:05:00.000+07:00</published><updated>2011-12-09T18:05:34.916+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulumul Hadits'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Sanad Hadits; Kajian Tentang Naqd as-Sanad/Kritik Eksternal</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;BAB I&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam perkembangannya, hadits, setelah wafatnya Rasulullah SAW sampai pada abad pertama dan kedua hijriah diturunkan secara lisan dari mulut ke mulut melalui hafalan-hafalan. Sehingga pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (99-101 H) upaya penulisan hadits secara resmi dilakukan. Sejak dari sini perkembangan ilmu hadits berkembang sedemikian pesatnya. Ilmu hadits dipelajari oleh para ilmuwan, baik ilmuwan Islam maupun non-muslim. Hal keadaan ini bisa dilihat dari banyaknya karya-karya besar para ilmuwan tersebut setelah mereka menelaah ilmu hadits. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/pendekatan-antropologis-dalam-kajian.html"&gt;Kajian-kajian &lt;/a&gt;para ilmuwan seperti tersebut di atas adalah dipengaruhi oleh kedudukan hadits itu sendiri. Di mana hadits merupakan sumber utama hukum Islam setelah Al-Qur’an. Dari sini dapat diketahui bahwa mempelajari hadits merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan oleh siapapun ketika ingin memahami Islam secara mendalam. Maka dalam mempelajari hadits diperlukan macam-macam kaidah di dalamnya sehingga menghasilkan suatu kajian yang sesuai dan tepat. Kaidah-kaidah yang dimaksud meliputi dua cakupan utama dimana ilmu hadits secara garis besarnya terbagi dalam dua bagian, yaitu: &lt;i&gt;ilmu hadits riwayah,&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;ilmu hadits dirayah&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam dua bagian ilmu hadits tersebut di atas, di dalamnya terdapat pelbagai objek kajian-kajian secara lebih mendalam lagi. Dan dalam tulisan ini, penulis akan membahas salah satu bagian dari objek kajian yang terdapat dalam &lt;i&gt;ilmu hadits dirayah&lt;/i&gt;; yaitu sanad hadits yang secara khusus membicarakan &lt;i&gt;naqd as sanad&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Naqd as sanad&lt;/i&gt; merupakan kajian terhadap masalah-masalah yang bersangkutan dengan sanad atau lebih singkat disebut dengan kritik &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn2" name="_ftnref2" style="mso-footnote-id: ftn2;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;A.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pengertian Sanad, Urgensinya &amp;amp; Awal Mula Pemakaiannya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pengertian &lt;i&gt;Sanad&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Berkenaan dengan pengertiannya&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;M. Hasbi Ash-Shiddieqy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt; menurut bahasa berarti sandaran, tempat kita bersandar. Secara istilah ahli hadits berpendapat bahwa &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt; ialah jalan yang menyampaikan kita kepada matan hadits.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn3" name="_ftnref3" style="mso-footnote-id: ftn3;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pengertian di atas adalah sepadan dengan apa yang dikemukan lebih lanjut oleh Said Agil Husain dalam bukunya, dimana &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt; menurut bahasa, dari &lt;i&gt;sanada – yasnudu &lt;/i&gt;yang berarti &lt;i&gt;mu’tamad &lt;/i&gt;(sandaran/tempat bersandar, tempat berpegang, yang dipercaya atau yang sah). Sedangkan secara terminologis &lt;i&gt;sanad &lt;/i&gt;ialah susunan atau rangkaian orang-orang yang menyampaikan materi hadits tersebut, sejak yang disebut pertama sampai kepada &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/08/doa-akhir-bulan-ramadhan.html"&gt;Rasul SAW&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn4" name="_ftnref4" style="mso-footnote-id: ftn4;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sebagai contoh, dalam penelusuran rangkaian orang-orang yang menyampaikan materinya dapat diambil sebuah hadits seperti kata Al-Bukhary, sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 20pt;"&gt;حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ اْلمُثَنىَّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِى قَالَ: حَدَّثَنَا أَيُّوْبُ عَنْ أَبِيْ قِلاَبَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلَهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا؛ وَأَنْ يُحِبُّ الْمَرْأَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ اللهِ؛ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فىِ الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فىِ النَّـارِ. (رواه البخاري).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;“Telah memberitakan kepadaku Muhammad bin Al-Mutsanna, ujarnya: Abdul Wahhab Ats-Tsaqafy telah mengabarkan kepadaku, katanya: Telah bercerita kepadaku Ayyub atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari Nabi Muhammad SAW, Baginda bersabda: Tiga perkara, yang barang siapa mengamalkannya niscaya memperoleh kelezatan iman, yakni: 1&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;. Allah dan Rasul-Nya hendaknya dicintai dari pada selainnya; 2&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;. Kecintaannya kepada seseorang, tak lain karena Allah semata-mata; dan 3&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;. Keengganannya kembali kepada kekufuran, seperti keengganannya dicampakkan keneraka.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn5" name="_ftnref5" style="mso-footnote-id: ftn5;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Merujuk dari pengertian sanad sebelumnya, pada hadits di atas dapat diketahui bahwa Al-Bukhary adalah penerima hadits melalui sanad pertama Muhammad Ibnu’l-Mutsanna, sanad kedua Abdul Wahhab Ats-Tsaqafy, sanad ketiga Ayyub, sanad keempat Abi Qilabah, dan seterusnya sampai sanad terakhir yaitu Anas r.a., seorang sahabat yang langsung menerima sendiri hadits tersebut dari Nabi Muhammad SAW.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn6" name="_ftnref6" style="mso-footnote-id: ftn6;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pentingnya &lt;i&gt;Sanad&lt;/i&gt; dan Awal Mula Pemakaiannya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Berdasarkan pengertian sanad yang dengan jelas telah diuraikan seperti tersebut sebelumnya, dapat dipahami bahwa sanad menjadi sangat urgen dalam mempelajari keberadaan sebuah hadits. Hal keadan ini juga merujuk kepada apa yang diungkapkan Yahya bin Sa’id Al-Qaththan &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; (salah seorang ulama hadits, 127 – 198 H) sebagaimana tersebut dalam Siyar A’lam An-Nubula’: “&lt;i&gt;Janganlah kalian memperhatikan hadits, namun perhatikanlah sanadnya. Jika sanadnya shahih maka amalkanlah. Namun, jika tidak, jangan engkau tertipu dengan hadits yang sanadnya tidak shahih.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn7" name="_ftnref7" style="mso-footnote-id: ftn7;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Maka dari ungkapan ini dapat diketahui bahwa sanad hadits menjadi sangat penting karena ia menjadi semacam timbangan atau neraca untuk menimbang shahih tidaknya suatu hadits. Dimana jika terdapat salah satu sanadnya saja tidak memenuhi standar, misalnya salah satu sanad haditsnya diketahui dusta, maka hadits tersebut tidak termasuk dalam kategori hadits shahih sehingga tidak memungkinkannya dijadikan sebagai sandaran suatu hukum. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Di pihak lain dijelaskan pula bahwa sanad hadits menjadi sangat penting karena dengannya dapat memberikan faedah-faedah yang dapat menjelaskan keotentikan hadits yang dimaksud. Faedah-faedah tersebut, diantaranya sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ilmiah dalam penukilan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Mencegah pemalsuan hadits&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Memelihara kemurnian Islam (secara khusus salah satu sumber hukumnya)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Memperjelas kondisi sebuah riwayat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Memberi ketenangan (menghilangkan keragu-raguan) dalam mengamalkan ajaran agama.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn8" name="_ftnref8" style="mso-footnote-id: ftn8;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dari kegunaan-kegunaan ini dapat dipahami bahwa kedudukan sanad sangat penting demi menjaga keontetikan hadits. Oleh karena itu dapat dipahami pula mengapa Imam Al-Nawawi (wafat 676 H/1277 M) yang dikutip oleh Muhammad Ahmad mengatakan bahwa hubungan haditst dengan sanadnya bagai hubungan hewan dengan kakinya.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn9" name="_ftnref9" style="mso-footnote-id: ftn9;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Berhubungan dengan awal mula pemakaian sanad kebanyakan pakar hadits berpendapat bahwa permulaan pemakaian sanad hadits adalah ketika timbulnya kemelut fitnah di antara umat Islam. Ini seperti yang diungkapkan Ibnu Sirin seperti yang terdapat dalam Mukaddimah Shahih Muslim:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; font-size: 20pt;"&gt;لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ اْلإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ؛ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيـثُهُمْ. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 20pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“Dahulu mereka tidak pernah bertanya tentang sanad. Namun, tatkala telah terjadi fitnah mereka berkata, ‘Sebutkan nama perawi-perawi kalian!’ Kemudian dilihat kepada Ahlus Sunnah maka diambil haditsnya, dan dilihat kepada ahli bid’ah maka tidak diambil haditsnya.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; (Muqaddimah Shahih Muslim, 1/27).&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn10" name="_ftnref10" style="mso-footnote-id: ftn10;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; M. Hasbi Ash-Shiddieqy berpendapat bahwa sebelumnya, para sahabat setelah wafatnya Nabi SAW saling mempercayai. Para tabi’in dengan tidak tertegun-tegun menerima hadits yang diriwayatkan kepadanya oleh seorang sahabat. Keadaan tersebut berjalan sampai timbulnya fitnah yang digerakkan oleh seorang Yahudi yang bermaksud jahat terhadap Islam, Abdullah ibn Saba’. Dia menggerakkan umat untuk menganut paham &lt;i&gt;tasyayyu’&lt;/i&gt; (paham memihak kepada Ali dan mempertahankan kekhalifahan di tangan Ali dan keturunannya). Sejak itu, timbullah penyisipan ke dalam hadits. Dari sini, mulailah ulama baik dari kalangan sahabat, maupun dari tabi’in berhati-hati menerima riwayat hadits yang diberitakan kepada mereka. Mereka mulai tidak lagi menerima riwayat hadits terkecuali yang mereka ketahui jalan datangnya dan keadaan perawi-perawinya serta keadilan mereka.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn11" name="_ftnref11" style="mso-footnote-id: ftn11;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam keterangan ini, tidak dijelaskan secara mendalam &lt;i&gt;tarikh&lt;/i&gt; Abdullah ibn Saba’ hidup dan melontarkan fitnahnya pada masa pemerintahan siapa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Namun, secara terbuka tentang permulaan pemakaian sanad hadits, banyak kalangan berbeda pendapat tentang masa fitnah yang dimaksud dalam ungkapan Ibnu Sirin di atas. Yang sering menjadi pertanyaan, pada masa siapakah fitnah itu terjadi? Sebab setelah wafat Nabi SAW, khususnya sejak peralihan khalifah Utsman bin Affan kepada Ali bin Abi Thalib dan masa kepemimpinan seterusnya di kalangan umat Islam terjadi konflik sehingga memungkinkan timbulnya fitnah-fitnah. Dimana dengan fitnah-fitnah ini berdampak pada maraknya pemalsuan hadits-hadits demi kepentingan politik suatu golongan atau pribadi. Ada yang berpendapat seperti apa yang diungkapkan oleh M. H. Ash-Shiddieqy pada keterangan sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di pihak lain, antara para orientalis yang mengkaji hadits juga berbeda berpendapat tentang masa fitnah yang timbul ini. Salah satunya, sebagaimana dinukilkan oleh Muhammad Hamzah, Joseph Schacht (1902-1969), orientalis Jerman, dalam The Origins of Muhammadan Jurisprudence berpendapat bahwa fitnah yang dimaksud oleh Ibn Sirin adalah fitnah pembunuhan al-Walid ibn Yazid ibn ‘Abd al-Malik ibn Marwan (w. 126 H) berdasarkan pada persamaan penggunaan kata “fitnah” antara perkataan Ibn Sirin dan apa yang disebutkan al-Tabari dalam Tarikh-nya, bahwa dalam kejadian-kejadian pada tahun 126 H perkara Bani Marwan kacau-balau dan terjadilah fitnah. Hipotesis ini menyeretnya untuk menjadikan perkataan Ibn Sirin sebagai bahan karena ia wafat pada tahun 110 H, yaitu sebelum terjadinya fitnah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berbeda dengan Schacht, James Robson mengajukan interpretasi lain mengenai fitnah tersebut. Menurutnya, fitnah itu adalah fitnah ‘Abd Allah ibn al-Zubayr pada tahun 72 H ketika ia memproklamasikan dirinya sebagai khalifah. Orientalis ini mendasarkan pendapatnya pada perkataan fitnah yang dilontarkan oleh Malik ibn Anas atas gerakan Ibn al-Zubayr. Berdasarkan itu, isnad muncul setengah abad lebih awal dari penentuan Schacht karena ini sesuai dengan umur Ibn Sirin. Ia juga mengilustrasikan kepada kita kemungkinan menerima keterlibatan dan pengetahuan Ibn Sirin tentang apa yang terjadi pada saat itu.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn12" name="_ftnref12" style="mso-footnote-id: ftn12;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dua perbedaan pendapat di kalangan orientalis yang mengkaji hadits adalah sebagian kecil dari perbedaan-perbedaan pendapat yang dipaparkan oleh para orientalis lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pun demikian, pendapat (menurut penulis) yang paling bisa diterima adalah semenjak maraknya kegiatan pemalsuan hadits yang dipicu oleh&amp;nbsp; adanya pertikaian politik dan sentimen keagamaan yang berkembang disebagian fikiran umat Islam, maka para ulama mulai mengembangkan sikap berhati-hati di dalam meriwayatkan dan menerima sebuah hadits. Pertikaian politik yang berimbas pada perpecahan di bidang agama mendorong sebagian pengikut hawa&amp;nbsp; nafsu untuk menciptakan hujah-hujah palsu dan dasar argumen buatan yang dimaksudkan untuk memperkuat dan melegalkan apa-apa yang menjadi pendapat mereka. Sesungguhnya pertikaian yang terjadi dikalangan mereka itu, memberi inspirasi bagi mereka untuk mencari keterangan agama yang bisa membenarkan ajaran-ajaran yang dikembangkan dan diyakini kebenarannya oleh masing-masing kelompok yang sedang bertikai. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dampak serius yang ditimbulkan akibat pertikaian itu merembes pada pemalsuan besar-besaran hadits Nabi. Pada akhirnya ulama merasa perlu untuk membendung kejahatan para pemalsu hadits itu dengan mengembangkan suatu metodologi ilmiah di dalam menerima dan menilai kesahihan sebuah hadits. Semenjak itu sebuah berita tentang hadits tidak begitu saja bisa diterima kecuali setelah diketahui nama orang yang menjadi perantara hadits tersebut atau bisa dilacak dari mana sumber hadits itu berasal. Proses pelacakan terhadap rentetan sanad atau sumber periwayatan itu pada akhirnya mewujud pada apa yang kini di kenal di dalam istilah teknis ulumul hadits sebagai&lt;i&gt; as sanad.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn13" name="_ftnref13" style="mso-footnote-id: ftn13;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal keadaan di atas adalah sesuai dengan pendapat salah seorang orientalis, Harald Motzki, dimana setelah mengkaji secara mendalam kitab al-Musannaf karya Abdurrazzaq as-San’ani, meng-&lt;i&gt;counter&lt;/i&gt; pandangan Joseph Schacht. Pada tahapan ini, Motzki mengutarakan bahwa hadits adalah otentik sejak abad pertama Hijriyah dan sampai kepada generasi selanjutnya melalui proses kehati-hatian ulama dalam menyampaikannya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn14" name="_ftnref14" style="mso-footnote-id: ftn14;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;B.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kritikan &lt;i&gt;Sanad&lt;/i&gt; Di Kalangan &lt;i&gt;Muhadditsin&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sebelum membahas kritik sanad di kalangan &lt;i&gt;muhadditsin&lt;/i&gt; adalah hal yang paling penting dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kritik sanad yang dalam istilahnya disebut dengan &lt;i&gt;naqd as sanad&lt;/i&gt;. Menurut jumhur ulama hadits yang dimaksud dengan kritik sanad adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;sebagai upaya serius dalam mengkaji hadis Rasulullah SAW untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; menentukan hadis tersebut benar-benar merupakan hadis yang bersumber dari beliau dengan menelusuri &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt;nya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn15" name="_ftnref15" style="mso-footnote-id: ftn15;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dari pemahaman di atas dapat diketahui bahwa para &lt;i&gt;Muhaddisin&lt;/i&gt; sangat&amp;nbsp; besar perhatiannya terhadap &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt; hadis, di samping juga&amp;nbsp; terhadap &lt;i&gt;matan&lt;/i&gt;nya. Pernyataan tersebut dapat dilihat&amp;nbsp; pada tiga hal: &lt;i&gt;Pertama.&lt;/i&gt; Pernyataan-pernyataan bahwa &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt; dan matan merupakan bagian yang tidak terpisah&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;an dari hadis. &lt;i&gt;Kedua. &lt;/i&gt;Banyaknya karya&amp;nbsp; atau buku yang berkenaan dengan &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt; hadis. Kitab-kitab tentang&amp;nbsp; &lt;i&gt;rijal al-hadis &lt;/i&gt;muncul dalam berbagai bentuk dan sifatnya. Dan yang &lt;i&gt;ketiga, &lt;/i&gt;apabila mereka menghadapi hadis, maka &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt; hadis menjadi&amp;nbsp; salah satu bagian yang&amp;nbsp; mendapat perhatian khusus disamping &lt;i&gt;matan&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn16" name="_ftnref16" style="mso-footnote-id: ftn16;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lebih lanjut dipahami bahwa &lt;i&gt;kritik sanad&lt;/i&gt; berarti penelitian terhadap para penyampai hadis, baik sisi positifnya maupun sisi negatifnya. Tujuannya untuk menelusuri kredibilitas dan kapasitas intelektual para periwayat hadis berikut cara-cara mereka meriwayatkan hadis.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn17" name="_ftnref17" style="mso-footnote-id: ftn17;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam mengkritik sanad hadits yang dimaksud, para &lt;i&gt;muhadditsin&lt;/i&gt; mempunyai kaidah kesahihan &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt; hadis tersendiri, yaitu sebagai upaya untuk mencapai segala syarat, kriteria atau unsur yang harus dipenuhi oleh suatu &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt; hadis yang berkualitas sahih.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;C.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kritikan Orientalis Terhadap &lt;i&gt;Sanad&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tentang kritikan orientalis terhadap sanad, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa kebanyakan para orientalis melakukan kritikan-kritikan setelah mengkaji keberadaan sejarah sanadnya. Hal ini terungkap seperti yang dipaparkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Joseph Schacht (seorang orientalis Yahudi, lahir pada 15 Maret 1902 di Sisilie, Jerman) yang menerbitkan sebuah buku berjudul &lt;i&gt;The Origins of Muhammadan Jurisprudence&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;An Introduction to Islamic Law&lt;/i&gt; dimana di dalamnya secara ekstrem mengungkapkan bahwa sanad adalah hasil kreasi dari para ulama abad ke 2 H. Dari pernyataan ini, lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa tidak ada satu pun hadits yang otentik dari Nabi SAW, khususnya hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum Islam. Hal ini seperti yang diungkapkannya secara gamblang bahwa, “&lt;i&gt;Kita tidak akan menemukan satu buah pun hadits yang berasal dari Nabi yang dapat dipertimbangkan shahih&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn18" name="_ftnref18" style="mso-footnote-id: ftn18;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Untuk mendukung kesimpulannya itu, Schacht mengajukan konsep &lt;i&gt;projecting back&lt;/i&gt; (proyeksi ke belakang), yaitu mengaitkan pendapat para &lt;i&gt;ahli fiqh &lt;/i&gt;abad kedua dan ketiga hijriah kepada tokoh-tokoh terdahulu agar pendapat itu memiliki legitimasi dari orang-orang yang mempunyai otoritas lebih tinggi. Menurutnya, para &lt;i&gt;ahli fiqh &lt;/i&gt;telah mengaitkan pendapat-pendapatnya dengan para sahabat sampai Rasulullah SAW., sehingga membentuk sanad hadits. Inilah rekonstruksi terbentuknya sanad hadits menurut Schacht yang berarti hadits-hadits itu tidak otentik berasal dari Nabi Saw.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn19" name="_ftnref19" style="mso-footnote-id: ftn19;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Beranjak dari sini pula keberadaan karya Schacht tersebut menjadi semacam buku wajib bagi orientalis-orientalis yang mengkaji hadits pada tahap selanjutnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Terdapat pula orientalis-orientalis lain yang mengkritik &lt;i&gt;sanad&lt;/i&gt; hadits, diantaranya yang cukup terkenal adalah Ignaz Goldziher (1850-1921 M), orientalis Yahudi kelahiran Hongaria yang memiliki karya berjudul &lt;i&gt;Muhammedanische Studien&lt;/i&gt; (Studi Islam). Seperti halnya pemikiran Schacht yang mengkritik hadits secara umum dengan ekstrem, Goldziher juga berkesimpulan bahwa otentisitas hadits sangat diragukan.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn20" name="_ftnref20" style="mso-footnote-id: ftn20;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Di antara kedua nama orientalis di atas, terdapat pula orientalis-orientalis lain yang mengikuti jejak mereka. Dimana diketahui pada tahap selanjutnya kelompok-kelompok orientalisme secara garis besar dibagi dalam dua bagian. Pertama, kelompok moderat dan mampu bersikap adil dalam prinsip keilmuan penuh kejujuran hingga sebagiannya mendapatkan hidayah Islam. Kelompok ini diwakili Reenan, Jenny Pierre, Carl Leil, Tolstoy, Lord Headly, Ethan Deneeh dan Dr. Greeneh. Kedua, kelompok ekstrim dan fanatik yang dikenal menyelewengkan kebenaran dan melakukan penyimpangan dalam memahami ajaran Islam serta tidak menggunakan metode ilmiah dalam penelitiannya. Kelompok ini diwakili oleh A.J Arberry, Alfred Geom, Baron Carrad Vauk, H.A.R Gibb, Goldziher, S.M Zweimer, G. Von Grunbaum, Phillip K Hitti, A.J Vensink, L. Massinyon, D.B Macdonald, D.S Margaliouth, R.L Nicholson, Henry Lammens, Harfly Haol, Majid Kadury dan Aziz Atiah Surial.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn21" name="_ftnref21" style="mso-footnote-id: ftn21;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Namun secara khusus di sini, penulis mengemukakan secara singkat kritikan-kritikan yang dilontarkan J. Schacht dan Goldziher seperti yang telah tersebut sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;D.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Beberapa Pakar Kontemporer Dalam Membahas Kritikan Orientalis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="mso-list: l4 level1 lfo2; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;a.&amp;nbsp; Fazlurrahman&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Fazlurrahman adalah seorang sarjana dan ilmuwan yang berasal dari Pakistan dan kemudian menetap di Amerika Serikat. Dilahirkan pada tahun 1919 di daerah Barat Laut Pakistan, beliau pernah menjadi Professor di Chicago University hingga akhir hayatnya pada tahun 1998. Menurut para sarjana dunia Islam maupun Barat, beliau merupakan salah satu pemikir Islam terpenting abad 20.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn22" name="_ftnref22" style="mso-footnote-id: ftn22;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Adapun pemikiran Fazlurrahman yang paling populer sehingga menjadikannya sebagai salah satu pemikir Islam terpenting abad-20 adalah pemikiran-pemikirannya yang terkandung dalam sebuah karyanya yang berjudul &lt;i&gt;Islamic Methodology in History&lt;/i&gt;.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Buku ini selain telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dunia juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Membuka Pintu Ijtihad. Dijelaskan oleh Hujair A.H. Sanaky dalam sebuah artikelnya, bahwa terdapat beberapa kajian paling mendasar yang diungkapkan dalam buku yang dimaksud, dimana dengannya Fazlurrahman menunjukkan perhatian akademisnya dengan mendalam.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn23" name="_ftnref23" style="mso-footnote-id: ftn23;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; Salah satu kajian yang sangat sesuai dengan apa yang sedang dibicarakan dalam makalah ini adalah pemahaman Fazlurrahman yang melihat kekeliruan konsepsi pemikiran sarjana-sarjana (orientalis) Barat tentang konsep hadits yang menyebabkan mereka menolak sunnah atau hadits Nabi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Studi Fazlur Rahman terhadap hadis memiliki arti yang sangat penting terhadap pembaharuan pemikiran Islam, khususnya sumbangannya dalam bidang metode dan pendekatan. Pendekatan historis yang ia tawarkan adalah kontribusi positif terhadap studi hadis yang selama ini disibukkan oleh studi sanad, yang menurut ia, walau memberi informasi biografis yang kaya, tetapi tidak dapat dijadikan argumentasi positif yang final. Umat Islam dewasa ini, menurutnya, membutuhkan upaya yang metodologis untuk mencairkan kembali hadis-hadis yang ada ke dalam bentuk sunnah yang hidup (&lt;i&gt;living sunnah&lt;/i&gt;) melalui studi historis terhadapnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam kajiannya mengenai sunnah dan hadis tidak sepakat dengan teori&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; sarjana-sarjana (orientalis) Barat yang kebanyakan dari mereka mengemukakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;bahwa konsep sunnah merupakan kreasi kaum Muslim yang belakangan. Bagi Fazlurrahman, konsep Sunnah Nabi merupakan “konsep yang shahih dan operatif sejak awal Islam dan tetap demikian sepanjang masa”.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn24" name="_ftnref24" style="mso-footnote-id: ftn24;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Maka dari sini dapat dilihat posisi unik Fazlurrahman di antara pemikir-pemikir Barat yang telah terlebih dahulu melakukan studi terhadap hadis. Beliau tidak apriori terhadap eksistensi hadis dalam khasanah pemikiran Islam, tetapi juga tidak menerima begitu saja teori resmi dan baku tentang hadis yang terwadahi dalam ulumul hadis versi ulama-ulama hadis. Dan yang terpenting dalam studi Rahman terhadap hadis adalah, bagaimana ia menawarkan pandekatan dan metode baru dalam memahami dan mengoperasikan hadis dalam khasanah intelektual Muslim dewasa ini.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn25" name="_ftnref25" style="mso-footnote-id: ftn25;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 35.45pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l4 level1 lfo2; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;M. M. Azami&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sampai makalah ini ditulis, penulis belum menemukan secara mendetail tentang kehidupan sosok ahli hadits yang bernama lengkap Muhammad Mustafa Al-Azami. Hal keadaan ini disebabkan oleh keterbatasan penulis sendiri. Pun demikian, dalam konteks bahasan makalah ini, penulis mendapatkan makalah ilmiah pada sebuah &lt;i&gt;situs web&lt;/i&gt; yang ditulis oleh Zailani, M. Ag dalam tulisannya yang berjudul &lt;i&gt;Kajian Sanad Hadits Antara Joseph Schacht dan M. M. Azami. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Secara khusus, sesuai dengan bahan yang disebutkan, akan dijelaskan beberapa hal pemikiran M. M. Azami terhadap konsep Schacht dalam memandang hadits.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan seperti yang telah dibahas pada bahasan-bahasan sebelumnya, bahwa Schacht dalam mengkaji hadits, lebih banyak menyorot sanad dari pada matannya. Dan kitab-kitab rujukan yang dipakai dalam penelitiannya adalah kitab &lt;i&gt;Al-Muwaththa’&lt;/i&gt; karya Imam Malik, &lt;i&gt;Al-Muwaththa’&lt;/i&gt; karya Imam Muhammad Al-Syaibani, serta kitab &lt;i&gt;Al-Umm&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Al-Risalah&lt;/i&gt; karya Imam Syafi’i. Maka dalam tahap ini, M. M. Azami hadir dan melontarkan kritikan balik terhadap pemahaman Schacht sebelumnya. Menurut beliau, kitab-kitab yang dipelajari oleh Schacht lebih layak disebut sebagai kitab-kitab fiqh dari pada kitab-kitab hadits. Sebab jenis-jenis kitab ini memiliki karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu, menurutnya, ketika meneliti hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab fiqh hasilnya tidak akan akan tepat dan sesuai. Penelitian hadits haruslah pada kitab-kitab hadits.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn26" name="_ftnref26" style="mso-footnote-id: ftn26;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Untuk membantah teori yang dikemukakan oleh para orientalis, khususnya Schacht yang meneliti hadits dari aspek sejarah, maka M. M. Azami menghancurkan teori Schacht ini juga melalui penelitian sejarah, khususnya sejarah hadits. Azami melakukan penelitian khusus tentang hadits-hadits Nabi yang terdapat dalam naskah-naskah klasik. Di antaranya ialah naskah milik Suhail bin Abi Shaleh (w. 138 H), dimana Abu Shaleh (ayah Suhail) merupakan seorang murid Abu Hurairah, sahabat Nabi SAW.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Naskah Suhail ini berisi 49 hadits. Sementara Azami meneliti perawi hadits itu sampai kepada generasi Suhail, yaitu jenjang ketiga. Termasuk pula jumlah dan tempat domisili mereka yang ia teliti. Dari penilitian ini, Azami membuktikan &amp;nbsp; bahwa pada jenjang ketiga, jumlah perawi berkisar 20 sampai 30 orang, sementara tempat tinggal mereka berpencar-pencar dan berjauhan, antara India sampai Maroko, dan antara Turki sampai Yaman. Sementara teks hadits yang mereka riwayatkan redaksinya sama.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn27" name="_ftnref27" style="mso-footnote-id: ftn27;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dari sini Azami berkesimpulan bahwa sangat mustahil menurut ukuran situasi dan kondisi pada saat itu mereka pernah berkumpul untuk membuat hadits palsu sehingga redaksinya sama. Dan sangat mustahil pula bila mereka masing-masing membuat hadits, kemudian oleh generasi berikutnya diketahui bahwa redaksi hadits yang mereka buat adalah sama. Kesimpulan Azami ini adalah bertolak belakang dengan kesimpulannya Schacht.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn28" name="_ftnref28" style="mso-footnote-id: ftn28;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maka dari apa yang disebutkan di atas, dapat dipahami bahwa teori sederhana yang dikembangkan oleh M. M. Azami dapat melemahkan teori salah seorang orientalis terkemuka&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; Barat. Dan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;dari sini pula M. M. Azami dikenal sebagai salah satu pemikir Islam kontemporer yang dengan tegas membantah kritikan-kritikan sarjana dunia barat terhadap Islam secara umum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;BAB III&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;A.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dari paparan yang telah disampaikan di atas, penulis melihat bahwa terdapat beberapa hal dapat dijadikan sebagai kesimpulan, di antaranya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l5 level1 lfo6; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kajian sanad merupakan salah satu kajian yang sangat penting dalam meneliti hadits. Karena dengan kajian sanad, dapat memberikan faedah-faedah, berupa: keilmiah dalam penukilan, mencegah pemalsuan hadits, memelihara kemurnian Islam (secara khusus salah satu sumber hukumnya), memperjelas kondisi sebuah riwayat, dan memberi ketenangan (menghilangkan keragu-raguan) dalam mengamalkan ajaran agama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l5 level1 lfo6; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kritik sanad hadits di kalangan muhadditsin secara umum adalah bertujuan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;untuk menelusuri kredibilitas dan kapasitas intelektual para periwayat hadis berikut cara-cara mereka meriwayatkan hadis, sehingga dapat diketahui apakah suatu hadits shahih atau bukan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l5 level1 lfo6; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kritikan para orientalis terhadap hadits, secara umum adalah bertujuan untuk meragukan pemahaman umat Islam terhadap ajarannya dengan memanfaatkan celah-celah yang menurut mereka sebagai kelemahan ajaran Islam itu sendiri. Namun tidak dipungkiri pula bahwa terdapat pula orientalis-orientalis yang mengkaji Islam secara keilmuan dan kemudian mengungkapkan pemikirannya dengan objektif. Di antara orientalis yang paling berpengaruh dan sampai sekarang ini masih terkenal pemikirannya adalah Goldziher dan J. Schacht. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l5 level1 lfo6; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Di antara pemikir Islam kontemporer, nama-nama seperti Fazlurrahman dan M. M. Azami dua tokoh yang dengan gigih mencurahkan pikirannya dalam meng-counter pemikiran orientalis dimana nota bene dari mereka berpendapat bahwa hadits yang diamalkan umat Islam sekarang ini merupakan rekaan ulama hadits belaka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;B.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Saran-saran&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Secara umum, yang menjadi saran-saran di sini bahwa diperlukan kajian secara lebih mendalam lagi tentang segala apa yang telah dipaparkan dalam makalah ini. Hal ini beranjak dari keterbatasan ilmu penulis sendiri. Maka adalah hal yang lebih penting bagi penulis sendiri untuk mengkaji lebih lanjut apa yang telah dimulai dalam makalah ini. Pun demikian, hal keadaan ini tidak menutupi kemungkinan pihak luar untuk ikut mengkajinya, sehingga pemahaman kita dalam kajian sanad hadits dapat terbuka secara meluas dan mengglobal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tahapan selanjutnya, dari apa yang tersebut di atas, adalah menjadi suatu kewajiban bagi pihak luar untuk menyampaikan ide-ide, kritikan atau pun masukan-masukan terhadap penulis sehingga kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam makalah ini dapat disempurnakan sesuai dengan standarisasinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Fatchur Rahman, &lt;i&gt;Ikhtisar Mushthalahul Hadits&lt;/i&gt;, Bandung: PT. ALMA’ARIF, 2009. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 42.55pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;H. Muhammad Ahmad, M. Mudzakir, &lt;i&gt;Ulumul Hadits&lt;/i&gt;, Bandung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; Pustaka Setia, 2004. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;H. Said Agil Husain al-Munawar, M.A., &lt;i&gt;Ilmu Hadits&lt;/i&gt;, Jakarta: Gaya Media Pertama, 1996&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;.&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Hujair AH. Sanaky, &lt;i&gt;Pemikiran FazlurrahmanTentang Metodologi Sunnah &amp;amp; Hadis [Kajian Buku Islamic Methodologu in History]&lt;/i&gt;, Al-Mawarid, Edisi XVI, tahun 2006.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 13pt; line-height: 115%;"&gt;Muhammad Imran Muhammad Thaib, &lt;i&gt;Makalah Fazlur Rahman (1919-1998); Perintis Tafsir Kontekstual&lt;/i&gt;, Presented at The Reading Group Sharing Session, Yayasan Mendaki, 2007.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 13pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;M. Agus Solahudin &amp;amp; Agus Suyadi, &lt;i&gt;Ulumul Hadits,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Bandung: Pustaka Setia, 2009&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;M. Isa Bustamin, H. A. Salam, &lt;i&gt;Metodologi Kritik Matan, &lt;/i&gt;Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Suryadi. &lt;i&gt;Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi: Perspektif Muhammad al-Ghazali dan Yusup al-Qaradhawi&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; Yogyakarta: Teras, 2008&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Teungku M. Hasbi Ash-Shiddieqy, &lt;i&gt;Sejarah &amp;amp; Pengantar Ilmu Hadits&lt;/i&gt;, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;a href="http://www.alquran-sunnah.com/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://www.alquran-sunnah.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;a href="http://pemikiranislam.wordpress.com/"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: windowtext;"&gt;http://pemikiranislam.wordpress.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://wildanhasan.blogspot.com/"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: windowtext;"&gt;http://wildanhasan.blogspot.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://cecengsalamudin.wordpress.com/"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: windowtext;"&gt;http://cecengsalamudin.wordpress.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;a href="http://islamuna-adib.blogspot.com/"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: windowtext;"&gt;http://islamuna-adib.blogspot.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;a href="http://assyiddatiy.wordpress.com/"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: windowtext;"&gt;http://assyiddatiy.wordpress.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;a href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/2011/07/12/"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: windowtext;"&gt;http://msubhanzamzami.wordpress.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://www.asysyariah.com/"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: windowtext;"&gt;http://www.asysyariah.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://www.alquran-sunnah.com/"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: windowtext;"&gt;http://www.alquran-sunnah.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote-list;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Fatchur Rahman, &lt;i&gt;Ikhtisar Mushthalahul Hadits&lt;/i&gt;, (Bandung: PT. ALMA’ARIF, 2009), Cet. XII, hal. 73.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; M. Agus Solahudin &amp;amp; Agus Suyadi, &lt;i&gt;Ulumul Hadits, &lt;/i&gt;(Bandung: Pustaka Setia, 2009), hal. 109. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Prof. Dr. Teungku M. Hasbi Ash-Shiddieqy, &lt;i&gt;Sejarah &amp;amp; Pengantar Ilmu Hadits&lt;/i&gt;, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), Cet. II, hal. 147.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; H. Said Agil Husain al-Munawar, M.A., &lt;i&gt;Ilmu Hadits&lt;/i&gt;, (Jakarta: Gaya Media Pertama, 1996), hlm., 94.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Fatchur, &lt;i&gt;op.cit.,&lt;/i&gt; hal. 40. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid,&lt;/i&gt; hal. 41.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn7"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ust. Asykari, &lt;i&gt;Artikel Kedudukan Sanad Dalam Islam&lt;/i&gt;, dalam &lt;a href="http://www.alquran-sunnah.com/artikel/manhaj/561-pentingnya-sanad-dalam-islam.html"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://www.alquran-sunnah.com/artikel/manhaj/561-pentingnya-sanad-dalam-islam.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn8"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ust. Asykari, &lt;i&gt;op.cit.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn9"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span lang="IN"&gt;H. Muhammad Ahmad, M. Mudzakir, &lt;i&gt;Ulumul Hadits&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;(&lt;span lang="IN"&gt;Bandung&lt;/span&gt;:&lt;span lang="IN"&gt; Pustaka Setia, 2004&lt;/span&gt;)&lt;span lang="IN"&gt;, h&lt;/span&gt;a&lt;span lang="IN"&gt;l., 130&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn10"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dari artikel Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal, &lt;i&gt;Sejarah Ilmu Sanad,&lt;/i&gt; dalam &lt;a href="http://www.asysyariah.com/syariah/kajian-utama/94-kajian-utama-edisi-61/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://www.asysyariah.com/syariah/kajian-utama/94-kajian-utama-edisi-61/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div id="ftn11"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Teungku M. Hasbi Ash-Shiddieqy, &lt;i&gt;op.cit., &lt;/i&gt;hal. 65. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn12"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; M. Subhan Zamzami, &lt;i&gt;&lt;a href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/2011/07/12/otentisitas-hadis-dalam-pandangan-orientalis-teori-sistem-isnad-evolusi-historisitas-hadis-dan-problem-validitas-hadis/" title="Permanent link to Otentisitas Hadis dalam Pandangan Orientalis: Teori Sistem Isnād, Evolusi Historisitas Hadis, dan Problem Validitas Hadis"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Otentisitas Hadits dalam Pandangan Orientalis: Teori Sistem Isnād, Evolusi Historisitas Hadits, dan Problem Validitas&amp;nbsp;Hadits&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, dalam &lt;a href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/2011/07/12/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://msubhanzamzami.wordpress.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn13"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Anonim, &lt;i&gt;Pengertian Dan Ruang Lingkup Ulumul&amp;nbsp;Hadits, &lt;/i&gt;dalam &lt;a href="http://assyiddatiy.wordpress.com/2010/11/25/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://assyiddatiy.wordpress.com/2010/11/25/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div id="ftn14"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Shohibul Adib, S.Ag., M.S.I, &lt;i&gt;Pemikiran Harald Motzki Tentang Hadis (Telaah Metodologi Penelitian Harald Motzki Terhadap Kitab Al-Musannaf Karya Abdurrazzaq As-San’ani)&lt;/i&gt;, dalam &lt;a href="http://islamuna-adib.blogspot.com/2010/03/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://islamuna-adib.blogspot.com/2010/03/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn15"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; M. Isa Bustamin, H. A. Salam, &lt;i&gt;Metodologi Kritik Matan, &lt;/i&gt;(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 5.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn16"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid, &lt;/i&gt;hal. 7.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn17"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Suryadi. &lt;i&gt;Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi: Perspektif Muhammad al-Ghazali dan Yusup al-Qaradhawi&lt;/i&gt;. (Yogyakarta: Teras, 2008), Cet. Ke-1, hal. 14.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn18"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Joseph Schacht, &lt;i&gt;An Introduction Islamic Law&lt;/i&gt;, (Oxford: Clarendom Press, 1964), hal. 34, dalam &lt;i&gt;Kajian Sanad Hadits Antara Joseph Schacht dan M. M. Azami&lt;/i&gt;, oleh Zailani, M. Ag.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn19"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ceceng Salamudin, &lt;i&gt;Landasan Epistemologi, Objek, Dan Metode Kritik Hadis&lt;/i&gt;, dalam &lt;a href="http://cecengsalamudin.wordpress.com/2011/10/04/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://cecengsalamudin.wordpress.com/2011/10/04/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn20"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref20" name="_ftn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div id="ftn21"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref21" name="_ftn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Anonim, &lt;i&gt;Metode Kritik Hadits Orientalis&lt;/i&gt;, dalam &lt;a href="http://wildanhasan.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://wildanhasan.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn22"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref22" name="_ftn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Muhammad Imran Muhammad Thaib, &lt;i&gt;Makalah Fazlur Rahman (1919-1998); Perintis Tafsir Kontekstual&lt;/i&gt;, Presented at The Reading Group Sharing Session, Yayasan Mendaki, 2007.&amp;nbsp; &lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div id="ftn23"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref23" name="_ftn23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hujair AH. Sanaky, &lt;i&gt;Pemikiran FazlurrahmanTentang Metodologi Sunnah &amp;amp; Hadis [Kajian Buku Islamic Methodologu in History]&lt;/i&gt;, dalam Al-Mawarid, Edisi XVI, tahun 2006.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn24"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref24" name="_ftn24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Fazlur Rahman, &lt;i&gt;Islamic Methodology in History,&lt;/i&gt; (Karachi : Central Institute of Islamic Research, 1965), hal. 5-6, dalam &lt;i&gt;Studi Hadis Fazlur Rahman&lt;/i&gt; oleh Anjar Nugroho pada situs: &lt;a href="http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/07/24/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/07/24/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn25"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref25" name="_ftn25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid.&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div id="ftn26"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref26" name="_ftn26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Muhammad Mustafa Azami, &lt;i&gt;Dirasat Fi Al-Hadits Al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih, &lt;/i&gt;(Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1980), hal. 398, dalam &lt;i&gt;Kajian Sanad Hadits Antara Joseph Schacht dan M. M. Azami&lt;/i&gt;, oleh Zailani, M. Ag pada situs: &lt;a href="http://pemikiranislam.wordpress.com/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://pemikiranislam.wordpress.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn27"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref27" name="_ftn27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn28" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref28" name="_ftn28" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; &lt;i&gt;Kajian Sanad Hadits Antara Joseph Schacht dan M. M. Azami&lt;/i&gt;, oleh Zailani, M. Ag pada situs: &lt;a href="http://pemikiranislam.wordpress.com/"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;http://pemikiranislam.wordpress.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;[Tulisan di atas adalah makalah yang telah dipresentasikan dalam mata  kuliah Ulumul Hadits, Program Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry  Banda Aceh].&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-1765885124163675837?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/1765885124163675837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/sanad-hadits-kajian-tentang-naqd-as.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1765885124163675837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1765885124163675837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/12/sanad-hadits-kajian-tentang-naqd-as.html' title='Sanad Hadits; Kajian Tentang Naqd as-Sanad/Kritik Eksternal'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-1256884622497760522</id><published>2011-11-24T04:27:00.001+07:00</published><updated>2011-11-24T04:30:15.380+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agnosia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Quotes'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>Zaman Jahat &amp; Mengkarat</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-C6U94OtfhRU/Ts1jt06_7CI/AAAAAAAAAN4/hVHLJE7MhoQ/s1600/Copy+of+2006+copy.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-C6U94OtfhRU/Ts1jt06_7CI/AAAAAAAAAN4/hVHLJE7MhoQ/s200/Copy+of+2006+copy.jpg" width="173" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Malam buruk rupa. Jahat tiba-tiba. Tiba jahat dengan gesa. Tanpa permisi, tanpa basa basi. Sedang angin tak satu pun hembus. Apalagi bintang. Pun jangkrik. Semua seperti tak berkutik. Dan jahat dengan sempurna ada. Tanpa undangan, tanpa isyarat tangan. Jahat seenak perutnya melakukan kejahatan. Kerjaan serupa menggugat yang alim, mengagungkan isu-isu lalim adalah perkara yang rutin dikerjakannya. Jahat adalah jahat adanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/ketika-obama-chavez-berciuman.html"&gt;Celakanya&lt;/a&gt;, zaman tak menghirau. Menggubris pun tak.&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kata yang masih bertuah mulutnya, inilah zaman sedang menuju akhir. Zaman yang mengambang. Apung dalam keadaan bingung murung. Zaman seperti ini adalah zaman yang enggan melahirkan pahlawan. Sebab pahlawan tak ada gaji nantinya. &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/10/syarat-pemimpin-ala-seokarno.html"&gt;Pahlawan &lt;/a&gt;mesti digaji juga, katanya. Serupa menggaji orang yang punya jabatan, atau boleh jadi sama juga dengan menggaji para kuli bangunan. Makanya, zaman enggan kiranya. Baginya menggaji adalah hal yang paling membosankan. Lebih baik menggaji diri sendiri atau menjadi kuli untuk diri pribadi, ketimbang mengurus pahlawan yang banyak menuntut perubahan. Zaman dalam keadaan suntuk berat, tambahnya pula.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Celakanya, orang-orang seperti hilang ingatan. Orang-orang sibuk mencari makan. Tak ada lagi yang peduli pada keadaan, apa lagi punya niat jadi pahlawan. Orang-orang sudah tak tahu kata idealisma. Orang-orang sudah hilang selera pada yang sederhana. Bagi mereka, hidup pada zaman yang banyak hinggap jahat adalah bagaimana menyelamatkan perut sendiri. Bagaimana memenuhi kebutuhan perut untuk dapat terisi dari hari ke hari. Perut orang lain adalah urusan yang lain pula. Maka jangan heran jika sedekah menjadi hal yang tak lumrah. Apalagi meminta sedekah. Itu sama juga mengharap sumpah serapah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-bR_6Zx6fRFU/Ts1f-75Rs8I/AAAAAAAAANY/Mg83d9agjL4/s1600/mak+lampir.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/-bR_6Zx6fRFU/Ts1f-75Rs8I/AAAAAAAAANY/Mg83d9agjL4/s640/mak+lampir.jpg" width="494" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/09/solilokui-pejabat-bangku-panjang.html"&gt;Jahat adalah jahat adanya&lt;/a&gt;. Dan adalah pantas pula, ini zaman digelar dengan zaman jahat. Jahat sekarat atau mungkin juga jahat yang mengkarat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ini zaman sudah benar-benar tak memihak pada yang berhak. Orang-orang seperti tak punya jalan lain kecuali mengikut kehendak jahat yang dimaksud. Orang-orang dalam kemelut. Dibalut. Jahat berkuasa semena-mena. Dalam negara, negeri, kampung, kaum dan bahkan dalam diri sendiri pun, jahat berkuasa. Berkuasa dengan cara membuat mabuk sampai orang-orang tak sadar bahwa mereka sedang diamuk kutuk. Yang punya kuasa boleh jadi bertindak jahat kepada rakyatnya. Rakyat juga sebaliknya. Maka tak ada yang untung, selain keberadaan sama-sama bingung, dengan lapar dalam arti luas kian membusung.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: #181818; font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pram, pernah bilang begini; "Dan kini, Adikku, kini terasa betul oleh kita, pahit sungguh hidup di dunia ini, bila kita selalu ingat pada kejahatan orang lain. Tapi untuk kita sendiri, Adikku, bukankah kita tidak perlu menjahati orang lain?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="color: #181818; font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; (Pramoedya, Bukan Pasar Malam, hal.62). Tapi apa pula kata Pram yang begitu tadi. Zaman sekarang , k&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;ata itu sudah tak berarti. Sebab kepada diri pribadi pun orang-orang punya niat jahat sendiri-sendiri. Maka ketika sudah berlaku seperti ini, bagaimana pula untuk tidak jahat kepada yang lain. Sedang kepada diri sendiri saja sudah berjahat-jahat pula. &lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="color: #181818; font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Semua sudah hidup individualis. Orang-orang sudak tak saling menggubris, orang-orang larut dalam perilaku picis. S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ungguh jahat sudah merasuk. Masuk. Ke setiap akal orang tak berakal, ke segala akal orang punya akal, ke seluruh akal orang yang penuh akal-akal. Sungguh, jahat berkuasa penuh, menyeluruh.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sekali lagi, jangan sebut-sebut pahlawan menghadapi ini zaman. Tak ada pahlawan jika tak ada honoratium sesuai standar. Semua hal dihitung materi. Yang masih bertuah mulutnya menimpali, "bahwa faktor berkuasa jahat dengan sempurna adalah ketika orang-orang sibuk dengan materi". Dimana ketika orang-orang bergelut dalam pekerjaan mencari isi perut, jahat datang membayang. Membayang sambil mengimingi jumlah uang. Kemudian dari bayangan, jahat menjadi bentuk. Membentuk. Membentuk dan meringkuk dalam nafsu, hingga orang-orang kepada jahat lutut tertekuk.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Yang masih bertuah mulutnya kembali berkata; jika orang-orang sudah berjama’ah dalam rasukan jahat. Jangan banyak berharap pada negara. Negara tak bisa berbuat apa-apa. Dan adalah benar adanya seperti yang tertulis dalam sebuah novel yang berjudul Saman, yang aku lupa siapa nama pengarangnya. Dalam novel itu tertulis begini; “Dunia ini penuh dengan orang jahat yang tak dihukum. Mereka berkeliaran. Sebagian karena tidak tertangkap, sebagian lagi memang dilindungi, tak tersentuh hukum, atau aparat.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7fGXtUYwgJM/Ts1hwjxT5uI/AAAAAAAAANk/fRpPOd9Sstc/s1600/malnutri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-7fGXtUYwgJM/Ts1hwjxT5uI/AAAAAAAAANk/fRpPOd9Sstc/s400/malnutri.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Malam buruk rupa. Siang juga. Ketika yang jahat-jahat berkuasa, hari demi hari sama saja. Semua buruk. Tak terkecuali, siapa pun dalam mabuk. Mabuk sangat. Sangat bersemangat. Bersemangat jahat. Dan hari-hari&amp;nbsp; pun dalam suasana panas menyengat. Panas berat!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%; text-transform: uppercase;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%; text-transform: uppercase;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif; font-size: x-small;"&gt;image by, Rully shabara herman. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-1256884622497760522?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/1256884622497760522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1256884622497760522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1256884622497760522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title='Zaman Jahat &amp; Mengkarat'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-C6U94OtfhRU/Ts1jt06_7CI/AAAAAAAAAN4/hVHLJE7MhoQ/s72-c/Copy+of+2006+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total><georss:featurename>Banda Aceh, Indonesia</georss:featurename><georss:point>5.524311801323104 95.30394779882818</georss:point><georss:box>5.461440301323104 95.22376529882817 5.587183301323104 95.38413029882818</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-3810761768243613464</id><published>2011-11-22T12:31:00.000+07:00</published><updated>2011-11-22T12:31:02.391+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metodologi Kajian Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Pendekatan Antropologis Dalam Kajian Islam</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;BAB I&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;A.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Latar Belakang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sejak kedatangannya, agama Islam telah menimbulkan banyak tatanan perubahan di dunia. Perubahan yang mencakup berbagai aspek kehidupan umat manusia, baik dalam tatanan masyarakat, kebudayaan, politik, sejarah, dan lain sebagainya. Perubahan tatanan ini kemudian ada yang menjadi tatanan baku dalam suatu kultur masyarakat, dan ada pula yang menjadi sebagai bahan kajian para ilmuwan bagi mengembangkannya sesuai dengan konteks tatanan masyarakat itu sendiri. Kajian-kajian yang dimaksud kemudian terus berkembang sedemikian rupa merujuk kepada berbagai aspek ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh para ilmuwannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Selanjutnya, seperti diketahui dan apa yang telah terlihat dewasa ini, Islam berkembang sedemikian pesatnya ke berbagai penjuru dunia. Hal ini memungkinkan pada terjadinya berbagai perbedaan dalam memahami konsep-konsep dalam Islam antara suatu daerah dengan daerah yang lain. Konsep-konsep tersebut meliputi konsep ketuhanan (tauhid), hukum (syari’at), sosial kemasyarakatan (muamalah), dan konsep-konsep lain. Walaupun kajian Islam secara umum disandarkan pada Al-Qur’an dan Hadits, perbedaan-perbedaan tetap saja terjadi; yang diantaranya selain diakibatkan oleh beragamnya pemahaman yang ditafsirkan oleh para ilmuwan Islam, juga dipicu oleh kondisi wilayah (konteks tempat) tempat berkembangnya agama Islam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Beranjak dari perbedaan-perbedaan inilah, dalam konteks kekinian umat Islam terlihat berpecah-belah dan jauh dari sebuah kesatuan baku. Antara sesama umat Islam kerap terjadi pertikaian, baik secara fisik maupun non fisik demi mempertahankan pemahamannya masing-masing. Hal ini kemudian menjadi pemicu berkembangnya pemahaman masyarakat global bahwa Islam lebih dihayati sebagai agama yang mengemban penyelamatan individual atau kelompok dan bukan sebagai keberkahan social secara bersama atau menyeluruh kepada semua umatnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Maka untuk memahami perbedaan pemahaman di kalangan umatnya terhadap Islam, sudah seharusnya kajian-kajian keislaman yang salah satunya menyangkut kajian tatanan kemasyarakatan terus dilakukan dan dikembangkan. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa, “Timbulnya sikap keberagaman yang demikian itu juga (pada dasarnya) bisa dilacak penyebabnya dari cara umat tersebut keliru dalam memahami Islam. Islam yang muatan ajarannya banyak berkaitan dengan masalah-masalah sosial, ternyata belum dapat diangkat ke permukaan disebabkan metode dan pendekatan yang kurang komprehensif.”&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lebih lanjut, dalam mengupayakan agar terangkatnya ajaran-ajaran Islam yang berkenaan dengan masalah sosial Abudin Nata menjelaskan bahwa terdapat pelbagai pendekatan, dimana pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normative, antropologis, sosiologis, historis, kebudayaan, dan pendekatan filosofis.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn2" name="_ftnref2" style="mso-footnote-id: ftn2;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pada konteks lain, terdapat pula penjelasan yang mengemukakan bahwa diperlukan beberapa pendekatan seperti halnya pendekatan-pendekatan yang tersebut di atas dalam memahami Islam. Ungkapan tersebut secara jelas dikemukakan sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Apabila agama diletakkan dalam sebuah kerangka penelitian sebagai suatu usaha akademisi, maka ada dua wilayah analisis dalam agama tersebut yang dapat dijadikan obyek penelitian. Wilayah analisis yang pertama adalah melihat agama sebagai doktrin. Meneliti agama sebagai doktrin artinya menganalisis apa substansi dari ajaran agama tersebut. Kemudian refleksi daari substansi keagamaan ini dapat pula dianalisis bagaimana perkembangan pemikiran para pemeluknya dalam menafsirkan doktrin-doktrin agama tersebut. Penelitian agama dalam wilayah ini berputar sekitar konsep-konsep dan idea-idea yang bermuara pada aspek kognitif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Wilayah analisis yang kedua adalah agama yang telah termanifestasi dalam dinamika masyarakat, struktur dan perilaku masyarakat . Dalam wilayah ini yang dianalisis bukan lagi dari satu konsep kepada konsep atau satu perkembangan pemikiran kepada perkembangan pemikiran yang lain tetapi mengukur sejauhmanakah tatanan masyarakat tersebut merupakan pantulan dari keharusan doktrin agama . Wilayah analisis dalam masalah kemasyarakatan ini pada umumnya dilakukan juga oleh ilmu-ilmu sosial yang lain seperti sosiologi, antropologi, sejarah dan lain-lain. Karena itu dalam pengukuran perilaku keagamaan dapat pula memakai pendekatan-pendekatan ilmu sosiologi, antropologi yang berlandaskan kepada empirisme dan positivisme.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn3" name="_ftnref3" style="mso-footnote-id: ftn3;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dari apa yang telah terpaparkan di atas, pada tahap selanjutnya, penulis, berusaha untuk memahami pendekatan antropologis dalam mengkaji Islam dengan menyiapkan sebuah makalah yang berjudul: &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Telaah Pendekatan Antropologis Dalam Memahami Islam Di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dimana dalam pembahasan selanjutnya pendekatan antropologis tersebut diterangkan secara ringkas berdasarkan pemahaman-pemahaman yang telah dikaji oleh para ahli-ahli yang meneliti bidang kajian yang dimaksud.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;A.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pengertian Antropologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Antropologi berasal dari bahasa Yunani; &lt;i&gt;anthropos&lt;/i&gt; yang berarti manusia, dan &lt;i&gt;logos&lt;/i&gt; yang berarti ilmu.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn4" name="_ftnref4" style="mso-footnote-id: ftn4;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; Secara definisi, menurut beberapa pakarnya pengertian antropologi dapat dimengerti sebagai ilmu yang mempelajari tentang keberadaan manusia, budaya masyarakatnya, dalam suatu territorial tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lebih jelasnya, William A. Haviland mengemukakan bahwa antropologi merupakan studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Menurut Koentjaraningrat, antropologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat, serta kebudayaan yang dihasilkannya.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn5" name="_ftnref5" style="mso-footnote-id: ftn5;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dari beberapa definisi di atas, dapat dipahami bahwa antropologi adalah studi yang mempelajari manusia dalam semua aspek kehidupannya. Dimana dalam pemahaman umumnya antropologi mengkonsentrasikan dirinya secara keseluruhan untuk mempelajari manusia dalam aspek sosialnya. Yakni hubungannya dengan orang lain dalam sebuah tatanan masyarakat sehingga menghasilkan pemahaman terhadap hal-hal yang bersifat kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat yang dimaksud. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Selanjutnya, diketahui bahwa yang menjadi tugas utama antropologi, studi tentang manusia adalah untuk memungkinkan kita memahami diri kita dengan memahami kebudayaan lain. Antropologi menyadarkan kita tentang kesatuan manusia secara esensial, dan karenanya membuat kita saling menghargai antara satu dengan yang lain.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn6" name="_ftnref6" style="mso-footnote-id: ftn6;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo2; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;B.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Cara Kerja Pendekatan Antropologi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Secara fundamental terdapat 4 ciri cara kerja pendekatan antropologi, yaitu sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo4; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Bercorak&lt;b&gt; &lt;i&gt;descriptive&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, bukannya normatif.&amp;nbsp;Pendekatan antropologi&amp;nbsp;bermula dan diawali dari kerja lapangan&amp;nbsp;(&lt;i&gt;field work&lt;/i&gt;),&amp;nbsp;berhubungan&amp;nbsp;dengan orang, masyarakat, kelompok&amp;nbsp;setempat yang diamati&amp;nbsp;dan diobservasi dalam jangka waktu yang lama dan mendalam.&amp;nbsp;Inilah yang biasa disebut dengan&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;thick description&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;(pengamatan dan observasi di lapangan yang dilakukan secara serius, terstuktur, mendalam dan berkesinambungan).&amp;nbsp;&lt;i&gt;Thick description&lt;/i&gt; dilakukan&amp;nbsp;dengan cara antara lain &lt;b&gt;&lt;i&gt;living in&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, yaitu&amp;nbsp; hidup bersama masyarakat yang diteliti, mengikuti&amp;nbsp; ritme dan pola hidup sehari-hari mereka dalam waktu yang cukup lama. Bisa berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun, jika ingin memperoleh hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.&amp;nbsp;John R. Bowen, misalnya, melakukan penelitian antropologi&amp;nbsp;masyarakat muslim Gayo, di&amp;nbsp;Aceh, selama bertahun-tahun. Begitu juga dilakukan oleh para antropolog kenamaan yang lain, seperti Clifford Geertz.&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Field note research&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (penelitian melalui pengumpulan catatan&amp;nbsp;lapangan) dan bukannya&amp;nbsp;studi teks atau pilologi seperti yang biasa dilakukan oleh para orientalis adalah andalan utama antropolog.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo4; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Yang terpokok dilihat oleh pendekatan antropologi&amp;nbsp; adalah&lt;b&gt; &lt;i&gt;local&lt;/i&gt; &lt;i&gt;practices&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, yaitu praktik konkrit dan nyata di lapangan. Praktik hidup yang dilakukan sehari-hari,&amp;nbsp;agenda mingguan, bulanan dan tahunan, lebih-lebih ketika manusia melewati hari-hari&amp;nbsp;atau peristiwa-peristiwa penting dalam menjalani&amp;nbsp; kehidupan. Ritus-ritus atau amalan-amalan apa saja yang dilakukan untuk melewati peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan tersebut &lt;i&gt;(rites de pessages&lt;/i&gt;)? Persitiwa&amp;nbsp;kelahiran, perkawinan, kematian, penguburan.&amp;nbsp;Apa yang dilakukan oleh manusia ketika menghadapi dan menjalani ritme kehidupan yang sangat penting tersebut?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo4; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Antropologi selalu mencari keterhubungan dan keterkaitan antar berbagai domain kehidupan&amp;nbsp;secara lebih utuh (&lt;b&gt;&lt;i&gt;connections across social domains&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;). Bagaimana hubungan antara wilayah&amp;nbsp;ekonomi,&amp;nbsp;sosial, agama, budaya dan politik.&amp;nbsp;Kehidupan tidak dapat dipisah-pisah. Keutuhan dan keterkaitan antar berbagai domain kehidupan manusia. Hampir-hampir tidak ada satu domain wilayah kehidupan yang dapat berdiri sendiri, terlepas dan&amp;nbsp;tanpa terkait dan terhubung dengan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo4; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Comparative&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;. Studi dan pendekatan antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, sosial, budaya dan agama-agama.&amp;nbsp;Setidaknya, Cliffort Geertz pernah memberi contoh bagaimana dia membandingkan kehidupan Islam di Indonesia dan Marokko.&amp;nbsp; Bukan sekedar untuk mencari kesamaan dan perbedaan, tetapi yang terpokok adalah untuk memperkaya perspektif&amp;nbsp; dan memperdalam bobot kajian.&amp;nbsp;Dalam dunia global seperti saat sekarang ini, studi komparatif sangat membantu memberi perspektif baru&amp;nbsp;baik dari&lt;i&gt; &lt;/i&gt;kalangan&lt;i&gt; insider&lt;/i&gt; maupun &lt;i&gt;outsider&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn7" name="_ftnref7" style="mso-footnote-id: ftn7;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Keempat ciri di atas adalah sesuai dengan apa yang pernah dijelaskan, bahwa dalam kaitan ini pendekatan antropologi lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif. Dimana darinya timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif yang mengimbangi pendekatan deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan sosiologis. Pendekatan antropologis yang induktif dan &lt;i&gt;grounded&lt;/i&gt;, yaitu turun ke lapangan tanpa berpijak pada, atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dilakukan di bidang sosiologi dan lebih-lebih ekonomi yang mempergunakan model-model matematis, banyak juga memberi sumbangan kepada penelitian historis.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn8" name="_ftnref8" style="mso-footnote-id: ftn8;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;C.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Antropologi; Salah Satu Pendekatan Dalam Mengkaji Islam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah memahami definisi antropologi seperti yang tersebut pada bahasan sebelumnya, dalam konteks kajian Islam, antropologi digunakan juga sebagai suatu pendekatan pada usaha mengkaji Islam itu sendiri. Khusus dalam mengkaji tatanan masyarakatnya. Hal ini merujuk dan sesuai dengan ungkapan Akbar S. Ahmad sebelumnya, bahwa tugas antropologi adalah untuk memungkinkan kita memahami diri kita dengan memahami kebudayaan lain. Antropologi menyadarkan kita tentang kesatuan manusia secara esensial, dan dengannya membuat kita saling menghargai antara satu dengan yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Mengaitkan definisi antropologi secara umum dengan kajian keislaman suatu tatanan masyarakat, maka pendekatan antropologis di sini dapat dipahami lebih jelas seperti apa yang diungkapkan Abudin Nata, bahwa; pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn9" name="_ftnref9" style="mso-footnote-id: ftn9;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;Apa yang dijelaskan dalam paparan Abudin Nata di atas tentang makna pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat ditemui bahwa yang melatarbelakangi pendekatan ini adalah pertumbuhan agama dalam suatu masyarakat merujuk pada konteks praktek agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Dan secara terperinci Amin Abdullah mengungkapkan dalam artikelnya, bahwa yang melatarbelakangi pendekatan antropologis tersebut adalah melihat kepada beberapa hal. Dimana hal-hal tersebut dapat dipahami sebagaimana yang terlihat dalam kutipan berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Bahwa dalam memahami agama selalu mencakup dua entitas yang tidak dapat dipisahkan tetapi dapat dibedakan, yaitu normativitas (teks, ajaran, &lt;i&gt;belief&lt;/i&gt;, dogma) dan juga&amp;nbsp; historisitas, yaitu praktik dan pelaksanaan ajaran, teks, &lt;i&gt;belief&lt;/i&gt;, dogma tersebut dalam kehidupan konkrit di lapangan, seperti di lingkungan kehidupan komunitas,&amp;nbsp;masyarakat pedesaan (rural) atau&amp;nbsp;perkotaan (urban),&amp;nbsp;situasi konteks politik,&amp;nbsp;jaman yang berbeda, tingkat&amp;nbsp;pendidikan yang berbeda dan begitu seterusnya. Pendekatan antropologi terhadap entitas keberagamaan&amp;nbsp;dan entitas keislaman adalah ibarat pembuatan peta. Pendekatan antropologi&amp;nbsp;bersikap deskriptif, melukiskan apa adanya dari realitas yang ada, dan bukannya normative, dalam arti tidak ada keinginan&amp;nbsp;dari&amp;nbsp;si pembuat peta untuk&amp;nbsp;mencoret, menutup atau tidak menggambar atau menampilkan alur jalan yang dianggap kira-kira tidak enak&amp;nbsp;atau berbahaya untuk dilalui. Pendekatan antropologi harus bersikap jujur, apa adanya, tanpa ada muatan interes-interes atau kepentingan tertentu (golongan, ras, etnis, gender, minoritas-mayoritas) untuk tidak membuat peta&amp;nbsp;(keagamaan manusia) apa adanya.”&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn10" name="_ftnref10" style="mso-footnote-id: ftn10;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Jadi dapat ditarik pengertian bahwa pendekatan antropologis dalam memahami agama dilatarbelakangi dari cakupan agama melalui sisi historisitas yang terdapat lingkupan bahasan di dalamnya yang meliputi praktik dan pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pelaksanaan ajaran ini sesuai dengan konteks lingkungannya, masa, tingkat pendidikan, dan konteks-konteks lain yang sedang berlaku dalam masyarakat tersebut. Dan dalam hal ini praktek dan pelaksanaan agama adalah khusus tertuju pada ajaran Islam. Dimana ajaran Islam yang dimaksud merupakan ajaran yang telah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain yaitu Islam yang telah demikian melembaga dalam kehidupan suatu masyarakat, suku, kelompok atau lebih besar lagi suatu bangsa, sehingga ia telah terinstitusional dalam kehidupan organisasi, budaya, politik dan agama itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Berdasarkan pemahaman-pemahaman yang tersebut di atas menunjukkan bahwa pendekatan antropologis dalam memahami agama, khususnya Islam dalam konteks kemasyarakatannya adalah salah satu pendekatan cukup signifikan ketika seseorang ingin memahami Islam yang berlaku dalam sebuah tatanan kehidupan masyarakat. Sehingga dalam konteks lain, ketika terdapat perbedaan-perbedaan pelaksanaan ajaran Islam antara suatu kelompok, suku, organisasi, dengan kelompok yang lain; ini dapat dipahami lebih lanjut dan detail sebab-musababnya melalui pendekatan yang salah satunya adalah pendekatan antropologis ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;D.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Fungsi Pendekatan Antropologis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah mengkaji tentang hal-hal yang berkenaan dengan antropologi secara umum, terhadap Islam sebagai sebuah agama yang dianut oleh suatu masyarakat dapat ditemukan beberapa fungsi padanya. Hal ini seperti yang dikemukakan Abudin Nata dalam buku Metodologi Studi Islam, bahwa melalui pendekatan antropologis akan didapati hasil, yang diantaranya: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l4 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pendekatan antropologis dapat melihat agama dalam hubungannya dengan mekanisme pengorganisasian (&lt;i&gt;social organization&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l4 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dapat melihat hubungan antara agama dan negara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 18.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l4 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Melihat keterkaitan agama dengan psikoterapi.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn11" name="_ftnref11" style="mso-footnote-id: ftn11;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Selanjutnya dapat ditemukan pula dengan pendekatan antropologis ini, tentang seberapa melekatnya ajaran Islam dalam pola pikir masyarakat sehingga dapat disimpulkan bahwa suatu masyarakat tertentu adalah sebuah masyarakat yang islami, misalnya. Namun, perlu dimaklumi juga bahwa hasil yang didapati dari pendekatan antropologis ini adalah tidak terbatas pada apa yang diungkapkan di atas saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pun begitu, fungsi utama dari pendekatan antropologis dalam mengkaji Islam pada konteks sebuah tatanan masyarakat dewasa ini, jika dihadapkan oleh pelbagai polemik yang mencuat di kalangan umat Islam sendiri tentang banyaknya perbedaan-perbedaan yang timbul; bahwa, “Hasil kajian antropologi terhadap realitas kehidupan konkrit di lapangan&amp;nbsp; akan dapat membantu tumbuhnya saling pemahaman antar berbagai&amp;nbsp; paham dan penghayatan keberagamaan yang sangat bermacam-macam dalam kehidupan riil masyarakat Islam baik pada tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional.”&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn12" name="_ftnref12" style="mso-footnote-id: ftn12;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai ‘khalifah’ (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftn13" name="_ftnref13" style="mso-footnote-id: ftn13;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;BAB III&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;A.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Perdebatan dan perselisihan yang kerap terjadi dalam masyarakat Islam sesungguhnya adalah perbedaan dalam masalah interpretasi, dan merupakan gambaran dari pencarian bentuk pengamalan agama yang sesuai dengan konteks budaya dan sosial. Misalnya dalam menilai persoalan-persoalan tentang hubungan politik dan agama yang dikaitkan dengan persoalan kekuasaan dan suksesi kepemimpinan, adalah persoalan keseharian manusia-dalam hal ini masalah interpretasi agama dan penggunaan simbol-simbol agama untuk kepentingan kehidupan manusia. Tentu saja peran dan makna agama akan beragam sesuai dengan keragaman masalah sosialnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Maka jelaslah bahwa untuk memahami keadaan seperti yang tersebut di atas, pendekatan antropologis mempunyai arti penting dalam melakukan kajian terhadapnya. Karenanya pendekatan antropologis pernah dilakukan oleh para antropolog dunia dalam mengkaji Islam yang berkembang di Indonesia. Dari pendekatan yang dilakukan ini kemudian dapat diketahui bagaimana kedudukan Islam dalalm masyarakat setempat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: normal; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 17.85pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;B.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Saran-saran&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 140%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 140%;"&gt;Melihat kepada perkembangan zaman yang kian modern ini. Tentu saja modernitas tuntutan hidup manusia memungkinkan umat Islam harus beradaptasi dengannya. Dari sini timbullah berbagai pemahaman terhadap ajaran Islam sendiri yang kemudian menyisakan polemic antar sesama umat. Ini terjadi bukan hanya pada beda tempat atau daerah secara luas. Namun terjadi juga di suatu tempat yang sama. Maka dalam mengatasi hal yang di satu pihak dapat memicu perpecahan umat Islam ini, bagi para peneliti agama hendaknya melakukan kajian-kajian keislaman yang kemudian hasil kajiannya dipaparkan sedemikian rupa kepada umat sehingga perbedaan yang terdapat dimaklumi oleh semuanya. Dan dalam melaksanakan kajian ini, pendekatan antropologis adalah kajian yang memungkinkan untuk dilakukan oleh para peneliti.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote-list;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref1" name="_ftn1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; DR. H. Abudin Nata, MA, &lt;i&gt;Metodologi Studi Islam&lt;/i&gt;, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000), Cet. IV, hal. 4.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref2" name="_ftn2" style="mso-footnote-id: ftn2;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid, &lt;/i&gt;hal. 27.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref3" name="_ftn3" style="mso-footnote-id: ftn3;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Wazin Baihaqi, &lt;i&gt;Pendekatan Kawasan Dalam Kajian Islam&lt;/i&gt;, &lt;a href="http://wazin-mendale.blogspot.com/2010/03/"&gt;http://wazin-mendale.blogspot.com/2010/03/&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref4" name="_ftn4" style="mso-footnote-id: ftn4;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Koentjaraningrat, dkk., &lt;i&gt;Kamus Istilah Antropologi&lt;/i&gt;, (Jakarta: Pusat Pembinaan &amp;amp; Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan &amp;amp; Kebudayaan, 1984), dalam portal: &lt;a href="http://www.pustakabersama.net/buku.php?id=24020&amp;amp;cari"&gt;http://www.pustakabersama.net/buku.php?id=24020&amp;amp;cari&lt;/a&gt;=&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref5" name="_ftn5" style="mso-footnote-id: ftn5;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Segalanya Tentang Antropologi, &lt;a href="http://antropolog.wordpress.com/about/"&gt;http://antropolog.wordpress.com/about/&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref6" name="_ftn6" style="mso-footnote-id: ftn6;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dr. Akbar S. Ahmad, &lt;i&gt;Kearah Antropologi Islam,&lt;/i&gt; (Jakarta: Qultum Media, 1994), hlm. 12.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn7" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref7" name="_ftn7" style="mso-footnote-id: ftn7;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Amin Abdullah, &lt;i&gt;Urgensi Pendekatan Antropologi Untuk Studi Agama Dan Studi&amp;nbsp;Islam,&lt;/i&gt; dalam portal web: &lt;a href="http://aminabd.wordpress.com/2011/01/14/"&gt;http://aminabd.wordpress.com/2011/01/14/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn8" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref8" name="_ftn8" style="mso-footnote-id: ftn8;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Taufik Abdullah &amp;amp; M. Rusli Karim, &lt;i&gt;Metodologi Penelitian Agama&lt;/i&gt; (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), hal. 19.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn9" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref9" name="_ftn9" style="mso-footnote-id: ftn9;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Abudin Nata, &lt;i&gt;op. cit&lt;/i&gt;, hal. 35. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn10" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 2; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref10" name="_ftn10" style="mso-footnote-id: ftn10;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; Amin Abdullah, &lt;i&gt;op. cit.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn11" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref11" name="_ftn11" style="mso-footnote-id: ftn11;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Abudin Nata, &lt;i&gt;op. cit.&lt;/i&gt; hal. 37.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn12" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref12" name="_ftn12" style="mso-footnote-id: ftn12;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Amin Abdullah, &lt;i&gt;op. cit. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn13" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=900794430272227690#_ftnref13" name="_ftn13" style="mso-footnote-id: ftn13;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Nurcholish Madjid, &lt;i&gt;Islam Doktrin dan Peradaban&lt;/i&gt;, (Cet. IV; Jakarta: Paramadina, 2000), hal. xxii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan di atas adalah makalah yang telah di presentasikan dalam mata kuliah Metodologi Kajian Keislaman Program Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh].&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-3810761768243613464?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/3810761768243613464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/pendekatan-antropologis-dalam-kajian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/3810761768243613464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/3810761768243613464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/pendekatan-antropologis-dalam-kajian.html' title='Pendekatan Antropologis Dalam Kajian Islam'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-4330756797446578622</id><published>2011-11-17T13:58:00.003+07:00</published><updated>2011-11-17T14:03:12.221+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Ketika Obama &amp; Chavez Berciuman</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mUare7qKwio/TsSVymxogOI/AAAAAAAAANE/F_RqWimAx3Q/s1600/2011-11-16T205649Z_1_BTRE7AF1M6W00_RTROPTP_2_US-VATICAN-PROTESTS-BENETTON-AD.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="449" src="http://3.bp.blogspot.com/-mUare7qKwio/TsSVymxogOI/AAAAAAAAANE/F_RqWimAx3Q/s640/2011-11-16T205649Z_1_BTRE7AF1M6W00_RTROPTP_2_US-VATICAN-PROTESTS-BENETTON-AD.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Pertama sekali membuka mozilla dengan maksud ingin browsing, berita yahoo adalah laman yang telah terdefault di mozilla saya. Ketika loading wifi-an usai, berita teratas yang muncul di dalamnya adalah berita foto tentang iklan kontroversial Benetton (&lt;a href="http://id.berita.yahoo.com/foto/iklan-kontroversial-benetton-1321502068-slideshow/benetton-photo-205649455.html"&gt;sesuai dengan judulnya&lt;/a&gt;). Inilah yang membuat saya ingin menulis sesuatu tentang kedua orang besar ini sesuai dengan isi pikiran saya saja. Jadinya, ya seperti yang sedang kalian baca, ini tulisan saya kasih judul 'Ketika Obama &amp;amp; Chavez Berciuman'.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Team kreatif Benetton sangat 'gila' dalam hal ini. Memadukan dua gambar tokoh-tokoh berpengaruh yang saling 'bermusuhan' di dunia dalam satu bidang gambar hingga menghasilkan tampilan seperti terlihat di atas adalah suatu idea yang sangat segar untuk dinikmati oleh orang-orang yang punya 'pikiran' di seluruh dunia. Gubahan gambar sehingga menghasilkan orang yang berciuman dengan mesra ini mengandung pelbagai tafsiran bagi siapa saja yang sempat melihatnya. Dan di sini, saya ingin menafsirkannya begini. Tapi sebelumnya, kepada team kreatif Benetton, ucapan salut dan terima kasih adalah hal yang pantas untuk diberikan walaupun hanya dengan simbol 'two thumbs up for this one!'. Hahahaha... Dua negarawan yang sepanjang sejarah saling bertikai ini berciuman dengan mesra. Seperti sepasang gay yang sedang memadu hasratnya saja. Sungguh, ini gambar  punya daya tarik, mengingat negara yang mereka pimpin sudah lama terlibat dalam persengketaan kepentingan sedari dulu.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Latar belakang persengketaan kedua negara inilah yang membuat gambar ini punya seribu satu cerita lain yang dapat diulas darinya. Obama mewakili negara Amerika, sedang Chavez adalah simbol dari salah satu negara yang sangat anti Amerika. Venezuela. Ya, Venezuela nama negaranya. Maka bayangkan jika kedua pemimpin negaranya berciuman. Apa kata dunia? Entahlah apa yang dunia kata. Tapi saya punya komentar, bahwa ciuman Obama dan Chavez ini tak bisa ditafsirkan dari sisi kehendak seksual keduanya. Tak bisa juga ditafsirkan dengan tafsiran keakraban dua orang teman yang berjumpa setelah puluhan tahun saling tak tegur sapa. Ciuman keduanya ini lebih berbicara kepada suatu pengharapan untuk berakhirnya sengketa yang ada. Pengharapan agar damai ada, dan tak ada lagi saling tuding menuding, saling mengejar kepentingannya masing-masing yang berimbas pada peperangan misalnya. Seumur-umur dunia, perang memang selalu ada. Tak akan pernah usai untuk bisa dikatakan selesai. Ini seperti sudah menjadi hukum kodrati dari apa yang disebut hidup di dunia. Mempertaruhkan kepentingan-kepentingan hingga memicu pertikaian antara satu orang dengan orang lain, suku dengan suku lain, bangsa dengan bangsa lain, negara dengan negara lain adalah warna hidup yang selalu ada dan seperti tak pernah usai untuk tiada. Bahkan, celakanya lagi dalam pertaruhan kepentingan ini kadang berimbas kepada orang-orang yang berada di luar jalur. Memakan korban orang-orang yang tidak mengerti sama sekali tentang pertikaian yang ada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Memang, antara Amerika dan Venezuela dalam konteks sekarang ini tidak terlibat dalam sebuah perang yang berkecamuk. Tidak ada benturan fisik antara tentara-tentara kedua negara. Senjata dan peluru-peluru masih tersimpan di arsenal dengan rapi. Tak ada perang fisik yang terjadi. Cuma yang ada perang mulut. Hingga busa yang keluar dari kedua mulut sering tumpah di media-media. Muncrat kemana saja. Hingga kadang-kadang sesuatu yang bersumber dari busa mulut kedua tokoh negara ini muncrat ke muka kita ketika &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/televisi-will-kill-you.html"&gt;menonton televisi&lt;/a&gt;. Sungguh ini kejadian aneh tentunya. Kejadian yang sebenarnya terlalu remeh temeh untuk ditanggapi tapi tetap berefek negatif pada suatu hari.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Dari sini, saya menanggapi gambar yang digubah Benetton ini dengan antusias. Menanggapi dari sisi subjektivitas pikiran saya sendiri. Dan kata &lt;i&gt;unhate &lt;/i&gt;adalah kata yang sangat cocok dijadikan keyword di sini. Dan, semoga saja bentuk 'ciuman' ini benar-benar terjadi. Semoga saja. &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Salam!&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;image source: http://id.berita.yahoo.com/foto/iklan-kontroversial-benetton-1321502068-slideshow/ &lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-4330756797446578622?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/4330756797446578622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/ketika-obama-chavez-berciuman.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/4330756797446578622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/4330756797446578622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/ketika-obama-chavez-berciuman.html' title='Ketika Obama &amp; Chavez Berciuman'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mUare7qKwio/TsSVymxogOI/AAAAAAAAANE/F_RqWimAx3Q/s72-c/2011-11-16T205649Z_1_BTRE7AF1M6W00_RTROPTP_2_US-VATICAN-PROTESTS-BENETTON-AD.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-6888109274922158391</id><published>2011-11-11T22:38:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T22:38:39.108+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Travelling'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dominasi Gambar'/><title type='text'>River Cruise Melaka</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-nIQckhXkjZI/Tr02NTXonDI/AAAAAAAAALw/2I8KA1jnMjs/s1600/01012011694.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-nIQckhXkjZI/Tr02NTXonDI/AAAAAAAAALw/2I8KA1jnMjs/s200/01012011694.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suatu sore ketika berkesempatan berkunjung ke Melaka, Malaysia. Sendirian saja saya jalan-jalan di seputar kotanya. Melaka, kota yang berjarak dua jam perjalanan darat dari ibukota Malaysia; beberapa tahun lewat masuk dalam daftar UNESCO sebagai kota warisan sejarah dunia. Melaka, kota yang dibelah oleh sungai  berair keruh punya warna. Namun usaha pemerintah setempat dalam menarik wisatawan dalam dan luar negeri telah membuat sungai ini menjadi hidup dengan aneka rupa bangunan di pinggirnya. Pada kesempatan yang baik ini, saya menyempatkan diri berjalan di sepanjang pinggiran sungainya. Mendokumentasikan tempat dan suasana dengan kamera seadanya. Terus terang, saya masih amatiran dalam bidang fotografi, tapi tata kota yang rapi menjadi daya tarik didokumentasi. Hasilnya, kalian boleh lihat sendiri beberapa gambar berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://3.bp.blogspot.com/-Pgvp8JUnqiY/Trf6jcD4l0I/AAAAAAAAALM/9VM4yNWPnY0/s640/01012011675.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="640" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;rollercoaster di kelokan sungainya&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-NOoHdxmO4Go/Tr04Y39Z7OI/AAAAAAAAAL8/Q8qFiM_zNUA/s1600/01012011711.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-NOoHdxmO4Go/Tr04Y39Z7OI/AAAAAAAAAL8/Q8qFiM_zNUA/s400/01012011711.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;river board1&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Y6-zR8NFm0Q/Tr067WwEB5I/AAAAAAAAAMI/3Z433kU83d4/s1600/board+cruise.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="308" src="http://4.bp.blogspot.com/-Y6-zR8NFm0Q/Tr067WwEB5I/AAAAAAAAAMI/3Z433kU83d4/s400/board+cruise.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;river board 2-3&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-2v7QFsDw09g/Tr07g6_RgtI/AAAAAAAAAMQ/ABrTVchghjU/s1600/27042011644.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-2v7QFsDw09g/Tr07g6_RgtI/AAAAAAAAAMQ/ABrTVchghjU/s400/27042011644.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;tapak benteng peninggalan Portugis&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-AKhWW9YjB2s/Tr07-wURmnI/AAAAAAAAAMY/E_GaAK38tV0/s1600/01012011699.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-AKhWW9YjB2s/Tr07-wURmnI/AAAAAAAAAMY/E_GaAK38tV0/s400/01012011699.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;hmmmm ...&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-f5qC9hL6zdk/Tr0-YNCtL-I/AAAAAAAAAMk/pg07glCIVjQ/s1600/27042011653.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://3.bp.blogspot.com/-f5qC9hL6zdk/Tr0-YNCtL-I/AAAAAAAAAMk/pg07glCIVjQ/s640/27042011653.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;casa del rey hotel dari seberang&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-oEEn4mIL8II/Tr0_MOmA1HI/AAAAAAAAAMw/xt5aa3qp1Es/s1600/27042011652.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-oEEn4mIL8II/Tr0_MOmA1HI/AAAAAAAAAMw/xt5aa3qp1Es/s640/27042011652.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;replika kincir air jadoel&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-h8bWArwbOZ4/Tr0_jnr6HJI/AAAAAAAAAM4/lo8ii_qHGi0/s1600/01012011687.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-h8bWArwbOZ4/Tr0_jnr6HJI/AAAAAAAAAM4/lo8ii_qHGi0/s400/01012011687.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;boat wisata&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Hmmm... foto-foto di atas hanya sekilasan suasana saja. Hanya dari beberapa sudut pandang saja. Tapi setidaknya dari sini kita melihat kalau usaha pemerintah Melaka dalam memake-up tempat cukup bisa menarik hati pengunjung dari berbagai negara. Salam!&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-6888109274922158391?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/6888109274922158391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/river-cruise-melaka.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6888109274922158391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6888109274922158391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/river-cruise-melaka.html' title='River Cruise Melaka'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-nIQckhXkjZI/Tr02NTXonDI/AAAAAAAAALw/2I8KA1jnMjs/s72-c/01012011694.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total><georss:featurename>Malaka, Malaysia</georss:featurename><georss:point>2.205685 102.25615500000004</georss:point><georss:box>2.1281654999999997 102.11761300000003 2.2832045 102.39469700000004</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-1355922997515709144</id><published>2011-11-11T02:02:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T02:02:55.620+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Jika Boleh Bertanya</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;jika benar pahlawan memang ada&lt;br /&gt;kenapa mesti kubur yang kau tunjuk saja&lt;br /&gt;jika benar pahlawan punya rupa&lt;br /&gt;ke pajang foto sajakah arah mata kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudahlah&lt;br /&gt;kerja sajalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cukup do'a di kuburan orang tua&lt;br /&gt;atau hening cipta pada sanak keluarga&lt;br /&gt;sebab sekarang mengenang pahlawan&lt;br /&gt;adalah pengalih berita tentang celaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika benar pahlawan membela negara&lt;br /&gt;segelintir orang sajakah yang bisa kaya&lt;br /&gt;jika benar pahlawan tak punya nama pernah ada&lt;br /&gt;bagaimana dengan anonim yang sedang terlunta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entahlah&lt;br /&gt;&lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/08/hikayat-kentut.html"&gt;kentut sajalah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;toh&lt;/em&gt;, di sini kita sedang hidup sendiri-sendiri&lt;br /&gt;untuk kemudian meng-antri &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/televisi-will-kill-you.html"&gt;mati di depan televisi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;sedang mereka yang berdo'a dalam baris upacara&lt;br /&gt;adalah orang-orang salah pilih dalam ritual pilih memilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelak ketika kentut dan kerja mencapai akhir&lt;br /&gt;kita paham bahwa pahlawan tak pernah berhasil&lt;br /&gt;berusaha dalam derita sampai anak cucu di ambang lahir&lt;br /&gt;tapi tak pernah berkesempatan memetik hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bivak Emperom, 10 November 2011.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-1355922997515709144?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/1355922997515709144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/jika-boleh-bertanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1355922997515709144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1355922997515709144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/jika-boleh-bertanya.html' title='Jika Boleh Bertanya'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-6944378425631886996</id><published>2011-11-05T03:49:00.000+07:00</published><updated>2011-11-05T03:49:17.598+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Quotes'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>Televisi Will Kill You</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-iLmvQOC6iho/TrRAoPBzm6I/AAAAAAAAAK0/QFdmu40egiQ/s1600/tumblr_lu2o7mQ7km1r0652lo1_500.gif.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-iLmvQOC6iho/TrRAoPBzm6I/AAAAAAAAAK0/QFdmu40egiQ/s400/tumblr_lu2o7mQ7km1r0652lo1_500.gif.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;http://drawinglovers.tumblr.com/&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Mulanya kita tak segila sekarang ini. Mulanya kita adalah orang-orang udik yang tak tahu apa-apa. Namun ketika televisi ada, tiba-tiba, kita menjadi orang-orang yang serba tahu. Apa saja; tentang perang, artis, aktor, musik, bencana, demonstran, olah raga, dan lain sebagainya. Mulanya televisi mengajarkan &amp;nbsp;kita tentang bagaimana menjalani hidup dengan suka cita. Berbagai pesan-pesan gembira hadir di depan mata, dicerna otak, dan kemudian menyemat dalam hati kita. Sehingga ketika menonton tayangan berita peperangan pun, kita masih bisa tersenyum menyimaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-v2iGPqX_ML4/Tpa5wJOStPI/AAAAAAAAAIw/XAx5CFaDcD4/s1600/televisi-will-kill-you.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-v2iGPqX_ML4/Tpa5wJOStPI/AAAAAAAAAIw/XAx5CFaDcD4/s1600/televisi-will-kill-you.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kita tak segila ini pada dasarnya. Pada saat televisi mati, kita adalah orang-orang waras yang mampu berlogika dengan baik dan  mendekati sempurna. Hingga kita bisa menyebut diri tak gila sama sekali. Tapi apa hendak dikata. Televisi hadir tanpa kita ketahui, dengan serta merta, tanpa tegur sapa, tanpa izin pamit, tanpa basa basi pula. Pun begitu kita menerimanya dengan suka cita. Kita memperlakukannya dengan baik dan kemudian menempatkannya di dalam rumah pada tempat yang strategis dan apik. Begitulah, televisi dari tiada kemudian mengada. Ada demi mentahbiskan bahwa televisi adalah serupa kebutuhan pangan bagi kita. Kemudian kita menjadi bagian dari televisi. Sebagai pemirsa sejati, sebagai orang yang kehilangan gizi jika tak menontonnya dalam sehari. Begitulah, televisi dari tiada kemudian ada. Mengada. Kemudian mengikis kewarasan berpikir kita. Entah kita menjadi gila setelahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Nicholas Johnson -kita tak seberapa kenal dengan orang ini punya nama- angkat bicara (mungkin pada suatu waktu ketika kita sedang memelototi mata di layar televisi), begini; "All television is educational television. The question is: What is it teaching?" Bahkan, jauh-jauh hari sebelum kita mengenal televisi, seseorang yang masih sadar pernah berpesan bahwa; "Bentuk yang paling tulus dari televisi adalah imitasi." [Fred Allen, 1894-1956]. Celakanya, hmmm... ketika di depan televisi, kita tidak menanyakan dan berpikir seperti ini. Tentu saja kita sangat-sangat lupa untuk berpikir atau bertanya. Otak kita kehilangan tanda tanya akhirnya. Artis dan aktor itu sedang diisukan saling &lt;i&gt;cinlok&lt;/i&gt;, kata seorang presenter acara infotainment. Dan dengan segera kita membesarkan volume suara televisi. Kita menyimaknya, dengan khidmat, penuh semangat dan sekonyong-konyong terasa kehilangan penat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Did you ever think about life as a metaphor for television?”, tanya John Lennon sebelum ajal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, televisi sudah tak pernah mati. Dan memang tak akan mati. Televisi telah menjadi teman hidup bagi kita, teman bermain anak-anak kita, tempat belanja istri kita. Kemudian kita sama-sama hidup seperti yang dianjurkan televisi. Televisi menjadi serupa nabi, yang menganjurkan risalah-risalah ketika kita kehilangan sikap dalam hidup. Hingga kelak, tanpa sadar kita sepaham dengan ungkapan: "Televisi! Guru, Ibu, Selingkuhanku", [Homer, tokoh dalam The Simpsons]. Maka, sebelum ajal tiba, kita mesti sadar dan berucap pada orang-orang sekitar. "Awas. Televisi will kill you!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Set Off.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-6944378425631886996?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/6944378425631886996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/televisi-will-kill-you.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6944378425631886996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6944378425631886996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/televisi-will-kill-you.html' title='Televisi Will Kill You'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-iLmvQOC6iho/TrRAoPBzm6I/AAAAAAAAAK0/QFdmu40egiQ/s72-c/tumblr_lu2o7mQ7km1r0652lo1_500.gif.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total><georss:featurename>Banda Aceh, Indonesia</georss:featurename><georss:point>37.09024 -95.71289100000001</georss:point><georss:box>10.70899 -156.97233250000002 63.47149 -34.45344950000001</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-715796951930248516</id><published>2011-11-03T15:55:00.000+07:00</published><updated>2011-11-03T15:55:37.212+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='meu-Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>Menulis November</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-kTxk3cjUO5g/TrJTcy5WtHI/AAAAAAAAAKc/qJbaR14Tc98/s1600/163399_1602651034237_1474934760_31539495_3999259_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-kTxk3cjUO5g/TrJTcy5WtHI/AAAAAAAAAKc/qJbaR14Tc98/s320/163399_1602651034237_1474934760_31539495_3999259_n.jpg" width="257" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;doc. idrusbinharun&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span&gt;Bagaimana kalau  tak kutuliskan apa-apa di awal  november ini? Atau bagaimana kalau nanti  seseorang datang mengetuk  pintu belakang, dan bertanya; "Adakah  sesuatu tulisan yang bisa kusantap  nanti malam?" Apa yang mesti  kujawab? Mungkin kamu ada saran. Dan  sementara kutunggu kau punya  saran, aku akan mencoba menyarankan -itupun  kalau kau mau untuk diberi  saran- tentang bagaimana semestinya saran  yang sedang kutunggu datang  darimu itu kau pikirkan. Aku mengharapkan  beberapa saran yang punya  keterikatan dengan soalan. Serupa saran yang  merujuk kepada pokok  permasalahan. Bingung? Jika begini saja sudah  bingung, bagaimana pula  kau akan memberi saran. Sudahlah, lupakan saja!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Malam  awal november yang dirundung  dingin begini, ada baiknya aku memang tak  menulis apa-apa. Sebab, pasal  apakah yang perlu kutulis selain rasa  dingin yang menusuk, dan bunyi  dengkur kawan sekamar yang menyerupai  batuk. Sungguh. A&lt;/span&gt;&lt;span&gt;ku kira m&lt;/span&gt;&lt;span&gt;enulis  adalah  perkara yang membosankan untuk dikerjakan pada awal november  ini.  Apalagi pekerjaan menulis juga telah banyak digeluti oleh siapa  pun.  Bukan wartawan saja, bukan pengarang, dosen, mahasiswa, pelajar,   sastrawan, atau tukang ketik sekalipun; sesiapa boleh menulis apa saja.   Tak mengenal usia, tak mengenal status janda atau duda. Tak pula   mengenal bahasannya tentang apa. Sesiapa boleh menulis apa saja. Menulis   bukan lagi barang langka. Maka inilah sebab yang kuanggap baik sebagai   alasan untuk mengungkap bahwa di awal november yang dingin ini. Aku   ingin tak menulis apa-apa. Tak ingin menghabiskan tinta untuk menoreh   kata-kata. Tak berkata. Apalagi memusatkan pikiran untuk merangkai   kata-kata.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;November -khusus tahun &lt;em&gt;two thousand eleven &lt;/em&gt;ini-   adalah bulan yang meniriskan batok kepalaku, sehingga hujan yang   berguyur tadi siang masuk dan bertengger dalam kepala. Celakanya lagi,   air hujan yang bertengger dalam kepala ini, sekarang mulai menetes   keluar melalui hidung. Kawan sekamar bilang; "Lekas minum obat flu!" Aku   tak seberapa paham tentang flu. Hanya saja, aku sudah terbiasa dengan   bersin-bersin sejak beberapa tahun kemarin. Tapi perkara tirisnya batok   kepala dan air hujan november yang bertengger di dalamnya adalah bukan   perkara yang patut diperhatikan dengan seksama tentunya. Karena yang   menjadi perkara utama untuk terus dipantau adalah, bagaimana kalau aku   memang benar-benar tak ingin menulis apa-apa di awal bulan ini? Siapa   peduli? Atau seseorang harus datang dan peduli. Peduli dalam arti   benar-benar peduli. Bukan peduli yang dikorupsi. Bukan peduli imitasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Tapi &lt;em&gt;ngomong-ngomong&lt;/em&gt;  tentang  peduli. Beberapa hari lewat, akhir oktober, tentang kotaku,  Banda Aceh,  aku peduli beberapa hal padanya. Bahwa di setiap rute  jalanan kota,  papan-papan iklan besar makin banyak saja ditancapkan.  Iklan-iklannya  pun kebanyakan mengisi wajah-wajah orang yang di  beberapa tempat  terlihat wajah yang sama saja. Kadang sangat  membosankan. Ada wajah yang  berpeci dengan sunggingan senyum yang  terlihat sebagai usaha melebarkan  pipi, ada pula yang menatap sayu ke  arahku. Dari sini, aku mulai peduli  pada wajah-wajah di baliho iklan.  Kebanyakan wajah yang terpampang  beraksesoris peci di kepalanya.  Entahlah? Apakah ini untuk menunjukkan  bahwa yang punya wajah adalah  seorang yang agamis, religius, bisa  mengaji, pintar khutbah, atau  bukan? Aku tak seberapa tahu tentang itu.  Yang jelas, kepedulianku yang  beranjak dari seringnya melihat  wajah-wajah yang terpampang di baliho  iklan besar adalah sebatas peduli  pada apa yang bisa dilihat kasat mata  saja. Kadang dalam hatiku sering  bertanya; "&lt;em&gt;Koq&lt;/em&gt;, orang-orang tua sekarang makin narsis &lt;em&gt;gitu&lt;/em&gt;?   Sudah tahu wajahnya sudah keriputan, tapi masih mau juga gambarnya  dipajang besar-besar di kiri-kanan jalan." Kadang juga hatiku  yang  sering bertanya ini, &lt;em&gt;nyeletuk &lt;/em&gt;mengungkapkan jawaban atas   pertanyaan sebelumnya. Jawaban celutukan ini pun kadang-kadang   kebanyakan bernada sindiran, yang kadang-kadang tak elok diperdengarkan   pada telinga publik. Cuma kadang-kadangnya lagi, mungkin sindiran yang   semacam ini boleh jadi, setidaknya, memancing selera humor seseorang.   Ya, kadang-kadang, memang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Oya! Celutukan sebagai jawaban atas ungkapan; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;"&lt;em&gt;Koq&lt;/em&gt;, orang-orang tua sekarang makin narsis &lt;em&gt;gitu&lt;/em&gt;?   Sudah tahu wajahnya  keriputan, tapi masih mau juga gambarnya dipajang  besar-besar di kiri-kanan jalan.", kadang-kadang  sering terbaca  begini:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;"Ini  memang zaman  runyam kawan. Zaman yang merunyamkan banyak pikiran.  Lihatlah!  Akhir-akhir ini, bulan-bulan seperti ini, orang-orang tua kita  disibukkan dengan berbagai urusan. Hingga untuk bercermin pun  mereka  tak sempat sama sekali. Hingga keriputan yang ada sudah tak  mereka  sadari. Hingga kemudian tiba saatnya untuk berdandan. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Maka  orang-orang tua kita pun sibuk berhias diri di  salon-salon kecantikan,  sibuk berdandan, untuk kemudian diabadikan dalam  selembar papan iklan.  Hasilnya? Ya, seperti yang kau lihat setiap hari. Cukup mengesankan  bukan? Hihihihi...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Ini zaman aneh kawan. Banyak di antara kita yang suka berperilaku &lt;em&gt;nyeleneh &lt;/em&gt;sekarang.  Lihatlah! Akhir-akhir ini. Kita sudah tak sering berjumpa orang tua  yang pernah punya andil menetaskan pikiran kita di dunia. Hari-hari  padat jadwal. Pekerjaan menumpuk dan mengurung orang-orang tua kita,  seperti angka matematika yang terjebak dalam kurung kurawal. Hingga  dengan kita, sebagai anaknya sekalipun, untuk berjumpa walau sesaat saja  sudah menjadi barang langka. Kita sudak tak sempat mengingatkan  keriputan di wajah mereka. Karenanya, mari mengurut dada dan berusaha  bersenyum manis, ketika kita temukan wajah mereka nangkring narsis di  papan iklan pinggir jalan. Dengan begitu, kita dapat menghibur diri  sembari berkata dalam hati;  orang tua kami punya gaya yang  mengesan-(mengenas)-kan. Lantas kita sama-sama menggerutukkan gigi.  Hihihihi...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-IDznJoA3YhI/TrJWqWPgOKI/AAAAAAAAAKo/EaQpzwFFKsI/s1600/301064_2202293024912_1474934760_32175133_1486202262_n%25281%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="288" src="http://3.bp.blogspot.com/-IDznJoA3YhI/TrJWqWPgOKI/AAAAAAAAAKo/EaQpzwFFKsI/s400/301064_2202293024912_1474934760_32175133_1486202262_n%25281%2529.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;doc. idrusbinharun&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sungguh. Pertanyaan dan jawaban seperti yang terungkap di atas adalah bentuk peduliku sekarang ini. Sebagai peduli  yang paling &lt;em&gt;up to date. &lt;/em&gt;Tentu saja bukan peduli  sisa korupsi atau peduli imitasi. Bukan. Ini peduli asli, walau peduli sebatas dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November,  tanggal pertama jelang subuh. Hawa dingin kian mencekam saja. Dingin  yang menyerupai sebuah bisikan makhluk lain untuk mengekalkan tekadku  sebelumnya agar tidak menulis apa-apa lagi di bulan ini. Maka, bagaimana  jika siang nanti seseorang datang mengetuk pintu belakang, dan  bertanya; "Adakah sisa tulisan yang tak sempat kau baca semalam?  Bolehkah kau kabulkan sisa bacaanmu itu kusantap sekarang juga?  Tolonglah. Aku sedang lapar. Bacaan di luaran membuat otakku menderita  asam lambung. Bagaimana tidak. Diagnosa pakar lambung, bacaan koran  adalah pemicu tingkat tinggi akan sakit yang kualami. Aku kira, memang  benar adanya. Beberapa bulan terakhir aku terus-terusan mengkonsumsi  berita-berita seperti: 'pasangan yang naik bulan', perilaku pejabat  serupa perilaku anak belum khitan, si miskin yang kelaparan, pegawai  yang mengeluh datang bulan, dll. Aku kira, berita-berita seperti ini  membuat otakku benar-benar sakit. Makanya, siang ini aku kesini.  Tolonglah. Adakah sisa tulisan yang tak habis kau baca semalam? Adakah  sesuatu tulisan untuk kubaca diam-diam?"&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-715796951930248516?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/715796951930248516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/menulis-november.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/715796951930248516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/715796951930248516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/11/menulis-november.html' title='Menulis November'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-kTxk3cjUO5g/TrJTcy5WtHI/AAAAAAAAAKc/qJbaR14Tc98/s72-c/163399_1602651034237_1474934760_31539495_3999259_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total><georss:featurename>Banda, Ghana</georss:featurename><georss:point>8.3153241 -0.1316569000000527</georss:point><georss:box>8.314177599999999 -0.1331804000000527 8.3164706 -0.1301334000000527</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-2575905768011840563</id><published>2011-10-18T15:23:00.000+07:00</published><updated>2011-10-18T15:23:15.483+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Qoutes'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bung Karno'/><title type='text'>Syarat Pemimpin Ala Seokarno</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-icgsoO82uh8/Tp0zpmf6wxI/AAAAAAAAAJo/eSTLWwDZWt8/s1600/tonys-file-63.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="435" src="http://3.bp.blogspot.com/-icgsoO82uh8/Tp0zpmf6wxI/AAAAAAAAAJo/eSTLWwDZWt8/s640/tonys-file-63.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tentu saja, &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/search/label/Bung%20Karno"&gt;Bung Karno &lt;/a&gt;adalah orang hebat. Tokoh Indonesia yang belum ada pesaingnya sampai sekarang. Foundingfather-nya Indonesia. Soekarno adalah orang besar. Siapapun setuju dengan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Soekarno tak pernah '&lt;i&gt;jaim&lt;/i&gt; &lt;i&gt;(jaga image)&lt;/i&gt;'. Kenapa harus &lt;i&gt;jaim&lt;/i&gt;? Ia membawa diri bagaimana adanya. Tak pernah kaku dalam bergaul. Sebagai seorang pemimpin negara, berkelakuan formal adalah harus. Tapi terperangkap dalam aturan serba protokoler, seorang Soekarno tak pernah mengalaminya. Inilah ciri seorang pemimpin yang mampu menularkan karakternya yang kuat kepada rakyatnya. Dalam masa sekarang, kita belum menemukan pribadi pemimpin yang seperti ini. Suharto tidak, Habibie pun tak. Gus Dur memang biasa &lt;i&gt;nyeleneh&lt;/i&gt;, namun sering terlihat murahan. Kemudian muncul Mbak Mega -konon ia ingin meniru kepemimpinan ayahandanya-, tapi apa yang ia bisa? Sekarang SBY (nama yang disingkat dengan huruf &lt;i&gt;gede&lt;/i&gt;); nah untuk orang terakhir ini, pemimpin negara yang bercokol di tahta sekarang, hmmmm..., di depan publik, ketika tampil di depan televisi; kekakuannya sering tertangkap kamera. Terlalu serius, bahkan terlalu protokoler kesannya. Kadang kita merasa malas sendiri melihatnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-TuWDiOovA08/Tp02e2v56cI/AAAAAAAAAJ0/qt4xj2qs_ps/s1600/tonys-file-008.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-TuWDiOovA08/Tp02e2v56cI/AAAAAAAAAJ0/qt4xj2qs_ps/s320/tonys-file-008.jpg" width="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Entahlah! Mungkin seorang pemimpin seperti &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;sosok &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Soekarno masih sangat dibutuhkan negara yang sedang sakit ini. Negara yang dalam kepribadian rakyatnya sudah hilang rasa nasionalisma. Negara yang rakyatnya terus-terusan diajak sabar dalam hidup miskin sambil mengurut dada melihat kekayaan pejabat dan pemimpin. Soekarno pernah mengungkapkan syarat pemimpin untuk bisa memimpin ini negara sebenarnya. Syarat yang sebenarnya harus dipunyai oleh setiap pemimpin oleh orang yang melanjutkan kerjanya. Namun apa boleh buat, negara ini memang sudah begini adanya. Mungkin kita harus menunggu berpuluh-puluh tahun lagi untuk bisa mendapati sosok pemimpin yang memenuhi syarat seperti apa yang diungkapkan oleh Soekarno puluhan tahun lalu. Tentang syarat pemimpin; Soekarno bilang begini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;"Tiga syarat pemimpin: Pertama, memang saudara harus menggambarkan, mengiming-ngiming: Mari kita capai itu! Lihat itu bagus, lihat itu indah, lihat itu lezat; di situlah kebahagiaan! Pemimpin yang tidak bisa menggambarkan, melukiskan cita-cita, tidak akan mendapat hasil. Itu syarat pertama. Ia harus bisa melukiskan cita-cita.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Di dalam sejarah dunia&amp;nbsp; saudara akan melihat bahwa pemimpin-pemimpin besar yang menggerakkan massa, semuanya adalah pemimpim-pemimpin yang bisa melukiskan cita-cita. Bukan saja di lapangan politik, tetapi di dalam segala lapangan. ... Demikianlah saudara-saudara, maka salah satu syarat untuk bisa menjadi pemimpin ialah harus dapat mengiming-imingi, tetapi jangan mengiming-imingi barang yang bohong. Itulah salah satu syarat. Perkataan saya saja mengiming-imingi, tetapi sebenarnya ialah dapat membentangkan 'Lietsar' kepada rakyat.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Nomor dua, harus bisa memberi kepada rakyat. Demikianlah: menganalisa hidup, cara kerjanya pemimpin-pemimpin besar, bisa memberi kepada rakyat rasa mampu apa yang diinginkan itu. Merasa mampu, membangunkan rasa mampu.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Meskipun engkau bisa mengiming-imingi, tetapi jikalau engkau tidak bisa membangunkan rasa mampu di dalam rakyat bahwa rakyat bisa mencapai apa yang engkau iming-imingkan, ya, maka di dalam kalbu rakyat akan hanya hidup kepingin, ingin, tetapi belum menggumpal menjadi satu kehendak, kemauan, satu 'wil'. Sebab sebelumnya sudah terhambat oleh rasa toh tidak mampu. Ibaratnya engkau bisa mengiming-imingi seseorang yang badannya lemah. Lihat itu, di puncak pohon itu ada buah merah, buah itu paling enak. Si dahaga ingin buah itu, tetapi ia merasa dirinya lemah, dus, tinggal kepingin saja, tidak ia punyai kehendak, kemauan, wil, untuk mencapai buah itu.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Atau engkau bisa ambil seorang pemuda, anak orang biasa. Engkau iming-imingi dia dengan seorang gadis cantik, entah anak bangsawan tinggi, entah milyuner. Bung lihat, bukan main cantiknya. Tetapi ia tidak mempunyai rasa mampu untuk mengambil hati si gadis itu. Malahan ia merasa dirinya lemah sekali. Aku anak orang miskin, ia anak orang kaya. Mana bisa kawin sama dia. Tidak akan timbul kehendak, wil untuk mengawini gadis itu. Itu syarat nomor dua.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Syarat nomor tiga, bukan saja menanamkan keyakinan atau rasa mampu, tetapi menanamkan kemampuan yang sebenar-benarnya. Menanamkan kemampuan, memberi kepada rakyat 'de werkelijke kracht' dengan cara mengorganisir rakyat itu. Jadi tadinya sekadar keinginan oleh karena teriming-imingi, keinginan ini timbul, naik lagi setingkat menjadi kemauan, oleh karena saudara bisa memberi rakyat itu rasa mampu, 'krachtsgevoel'. Krachtsgevoel ini dinaikkan setingkat lagi menjadi de werkelijke kracht, dengan cara mengorganisir rakyat itu.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Kalau tiga ini, saudara-saudara sudah bisa jadikan trimurti, artinya dipersatukan di dalam tindakanmu sebagai pemimpin, saudara akan bisa menggerakkan massa. Dus, Leitsar yang dinamis saudara-saudara, harus memberi kemungkinan kepada tiga hal ini. Rakyat tertarik, satu. Rakyat mempunyai rasa aku atau kita bisa mencapai, dua. Tiga, bukan saja rasa mampu, tetapi memang mampu untuk mencapai itu. Kalau sekadar dua: dapat mengiming-imingi, dapat memberi krachtsgevoel, tetapi saudara tidak bisa memberi tenaga, buah di atas pohon tidak bisa terpetik. Saudara bisa berkata, he, buat itu enak betul, kepingin apa tidak? Kepingin. Mau apa tidak? Mau. Tetapi saudara lupa melatih dia untuk memanjat pohon itu. Meskipun ia mempunyai kemauan tetapi ia tidak bisa memetik oleh karena baru naik dua tiga meter sudah jatuh lagi.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;Tiga syatat itu harus dipenuhi!"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nah, merujuk seperti apa yang pernah diungkapkan oleh presiden pertama ini. Kita dapat menilai sendiri pemimpin negara kita selanjutnya, setelah masa kepemimpinan Soekarno tepatnya. Suharto kah, Habibie kah, atau pemimpin-pemimpin lain sesudahnya sampai SBY kah. Apakah orang-orang tersebut ini sudah memenuhi syarat seperti yang ditawarkan Bung Karno? Syarat ini memang bukanlah sebuah syarat baku, tapi setidaknya bisa menjadi sebuah tolak ukur tentang bagaimana kondisi pemimpin kita sekarang.&amp;nbsp; Menjadi tolak ukur bagaimana cara bersikap negarawan kita kepada rakyatnya sekarang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salam!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Sumber: &lt;a href="http://penasoekarno.wordpress.com/"&gt;Pena Soekarno &lt;/a&gt;&amp;amp; buku Mutiara Kata Bung Karno (untuk rakyat Indonesia). &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-2575905768011840563?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/2575905768011840563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/10/syarat-pemimpin-ala-seokarno.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/2575905768011840563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/2575905768011840563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/10/syarat-pemimpin-ala-seokarno.html' title='Syarat Pemimpin Ala Seokarno'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-icgsoO82uh8/Tp0zpmf6wxI/AAAAAAAAAJo/eSTLWwDZWt8/s72-c/tonys-file-63.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total><georss:featurename>Banda Aceh, Indonesia</georss:featurename><georss:point>5.546182 95.31905400000005</georss:point><georss:box>5.480818 95.23887150000004 5.611546 95.39923650000006</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-8637742914326370274</id><published>2011-10-17T23:01:00.002+07:00</published><updated>2011-10-17T23:41:17.272+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Facebooknya Indonesia, Join!</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;I want you to take a look at: &lt;a href="http://gotaf.socialtwist.com/redirect?l=29maj"&gt;Indonesian Social Network&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; font-family: inherit; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-PSfy0HOsxCA/TpxXYkEQmgI/AAAAAAAAAJc/3CJVRqvpWhg/s1600/untitled2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="137" src="http://2.bp.blogspot.com/-PSfy0HOsxCA/TpxXYkEQmgI/AAAAAAAAAJc/3CJVRqvpWhg/s200/untitled2.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;tampilan situsnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Mulanya jumpa dengan situs ini, aku disodorin alamat linknya sama seorang temen. Nama linknya terkesan agak-agak nyeleneh gitu. Ini: &lt;a href="http://www.kombes.com/home.php"&gt;http://www.kombes.com.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Pertamanya aku pikir ini situs berbicara tentang salah satu lembaga pertahanan di negara kita. Secara Kombes setahu aku adalah singkatan dari Komisaris Besar, dan biasanya ini gelar disemat pada sebuah jabatan Polisi Indonesia. Hehehehe...&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Tapi, pas kukunjungi ini link, rupanya isi di dalamnya adalah situs jejaring sosial yang dikembangkan oleh anak negeri. Ya, tepatnya seperti judul tulisan ini; Facebooknya Indonesia lah! Maka beranjak dari iklan yang pernah digembar-gemborkan anak-anak negeri kita beberapa tahun lalu -kalian pasti ingat iklan Aku Cinta Indonesia (ACI)- akupun mendaftarkan diri di sini. Hitung-hitung sebagai wujud rasa nasionalismaku kepada negara yang sampai sekarang belum ketiban untung ini (sebab ulah pejabat-pejabat negara kita yang sampai sekarang seperti belum cukup punya akal untuk bisa berbuat secara bajik dan benar demi menyejahterakan bejibun rakyatnya); yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang (entah) kucintai ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Maka dari itu, demi menjaga semangat nasionalisma kita, ada baiknya teman-teman juga ikut jejak yang baru saja kutinggalkan ini. Salam!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Blackjack CoffeeShop Banda Aceh, Oct. 2011.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-8637742914326370274?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/8637742914326370274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/10/facebooknya-indonesia-join.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/8637742914326370274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/8637742914326370274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/10/facebooknya-indonesia-join.html' title='Facebooknya Indonesia, Join!'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-PSfy0HOsxCA/TpxXYkEQmgI/AAAAAAAAAJc/3CJVRqvpWhg/s72-c/untitled2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Band, Urmia, Iran</georss:featurename><georss:point>37.574957 44.799284899999975</georss:point><georss:box>37.4145785 44.652023899999975 37.7353355 44.946545899999975</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-2887272793632164738</id><published>2011-10-17T05:10:00.000+07:00</published><updated>2011-10-17T05:10:33.208+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Togel</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-6OgrQbxMAJ0/TptQBSxFL3I/AAAAAAAAAI8/WMi0KbdRaqc/s1600/togel.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-6OgrQbxMAJ0/TptQBSxFL3I/AAAAAAAAAI8/WMi0KbdRaqc/s1600/togel.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;doc. tribunnews.com &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;malam ini bulan tak jadi jatuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;si peramal telah berdusta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;yang diramal sakit, kambuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;malam ini bintang tak berekor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;si peramal takut, bersimpuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;yang diramal membawa teror&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;katanya,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;kau peramal keparat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;khianat dusta tambah laknat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;tak keluar itu nomor&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-CvtXUwv-zBs/TptUes-XK6I/AAAAAAAAAJI/z3GRUfLV1CY/s1600/pemain-judi-togel-suka-nyolong.png" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-CvtXUwv-zBs/TptUes-XK6I/AAAAAAAAAJI/z3GRUfLV1CY/s320/pemain-judi-togel-suka-nyolong.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;doc. antitogel.wordpress.com &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;malam ini peramal jatuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;yang di ramal melepuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;keduanya sama-sama runtuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;malam ini bulan bintang geli hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;nomor-nomor adalah mimpi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;nomor-nomor adalah candu di sela gigi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Tanjung Balai - Bukit Mertajam, 2009 - 2010&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-2887272793632164738?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/2887272793632164738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/10/togel.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/2887272793632164738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/2887272793632164738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/10/togel.html' title='Togel'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-6OgrQbxMAJ0/TptQBSxFL3I/AAAAAAAAAI8/WMi0KbdRaqc/s72-c/togel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-6036600883792003991</id><published>2011-10-11T10:10:00.000+07:00</published><updated>2011-10-11T10:10:23.992+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>the man who has secondhand brain</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; line-height: 16px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;it's my self, the man who&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;they call a thousand hopes, drunk&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;the man who have many dreams&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;it's i am&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;yes, just i am&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;the man who would never be satisfied&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;with what he got before&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;it's me&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;not someone else&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;the man who have many doodle&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;in his head&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;it's my self, the man who&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;always thinking of with&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;his secondhand brain&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;fully secondhand brain&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;i&gt;oct. 2011, emperom.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-6036600883792003991?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/6036600883792003991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/10/man-who-has-secondhand-brain.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6036600883792003991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/6036600883792003991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/10/man-who-has-secondhand-brain.html' title='the man who has secondhand brain'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-32470529368841028</id><published>2011-09-24T22:06:00.000+07:00</published><updated>2011-09-24T22:06:37.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Munafik Waktu</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 4.0pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Ada yang tersisa dari sebuah perjalanan. Aku menyisakanmu. Kau menyisakan gelak senyummu. Di taman kita saling mengenang. Segala langkah yang pernah terpijak. Segala jejak yang tertinggal. Dan kemudian pupus dalam lamun kabut malam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Senja ini tak ada yang dirundung murung, katamu. Selain si perempuan yang bermain biola itu. Alunan gesekan senarnya serupa alunan lagu yang menceritakan si durhaka Delilla.Yang memangkas rambut kekasihnya pada sebuah malam tak berkata.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Tapi di sini, kita tidak sedang pacaran, tukasku. Tapi dekapanmu berkata lain, jawabmu. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ada yang perlu kita benahi pada waktu sesingkat ini. Aku membenahi tata rambut yang jatuh di keningmu. Kau membenahi letak hati di dekat jantungku. Dan kita sama-sama berdetak sampai beberapa unsur waktu membuat kita saling bergelak. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di taman, kita hanya saling memandang saja. Kadang ke arah senja, kadang juga ke sebalik rona mata. Namun, ketika kau berpaling pada pasangan yang berangkulan di pojok sana. Sambil bergelayut di bahuku dengan manja, kau mengutip kata seorang filsuf tak bernama. Kau kata, di taman aku sering merasa sendiri. Pun ketika kau sedang berada di sini. Aku bukan kekasihmu, sebutku. Ya, dan aku pun tak pernah mau tahu tentang pentingnya seorang kekasih, celutukmu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Taman mulai ramai. Dedaunan tua luruh, jatuh. Kita masih tak mau mengakui.Tentang cinta yang samar-samar tersemai. Cinta yang diam-diam memuai. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Taman Suropati-Menteng, 28 Mei 2011 &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-32470529368841028?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/32470529368841028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/09/munafik-waktu.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/32470529368841028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/32470529368841028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/09/munafik-waktu.html' title='Munafik Waktu'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-1501940148718716660</id><published>2011-09-21T12:06:00.002+07:00</published><updated>2011-09-21T12:17:06.463+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agnosia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>el amor falso</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5Zd6eQk6lC8/TnlWdpqevHI/AAAAAAAAAHQ/L5mUA_hJpkk/s1600/is+this+love.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-5Zd6eQk6lC8/TnlWdpqevHI/AAAAAAAAAHQ/L5mUA_hJpkk/s400/is+this+love.jpg" width="283" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;ilustrasi, Rully Sabhara Herman&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Cinta. Padanya, jiwa kita larut. Hati kita hanyut. Pelbagai macam rasa kerap hinggap, dan berkedut. Kadang rasa cemas yang membuncah, cemburu yang menghantu, atau juga rindu yang membiru. Rasa seperti ini menjadi hal rutin yang hadir. Hadir melingkup otak kiri kanan kita, mengatup sisi jantung yang berdegup, yang dengannya kita menjadi hilang akal untuk mencernanya. Serta merta pula kita mesti larut dengan apa yang menjadi rasa. Cinta adalah nyata, tapi kadang juga jadi tak benar-benar nyata. Cinta bukan barang ganjil. Genap adalah adanya, sebab cinta membutuhkan sepasang benda untuk bertaut. Sepasang. Berpasang, hingga kemudian ketika cinta tersemat lekat, kita menyebut sepasang itu sebagai pasangan. Pasangan, yang keduanya saling cinta mencintai.&amp;nbsp;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/08/agnosia-akut.html"&gt;Tentang cinta,&lt;/a&gt; sebut seorang teman; "hati kita bagaikan laut yang kadang pasang, kadang juga surut. Kita yang mencintai laut, tak peduli dengan 'kadang'-nya, karena bagi kita laut tetaplah laut". Aku menyetujui teman punya argumen. Lantas kusambung pernyataannya dengan komentar; "ketika sedang dirasuk oleh apa yang kita sebut cinta, keberadaan 'kadang' adalah sesuatu yang absurd. Sedang yang benar-benar nyata bagi kita hanyalah laut. Walau dengannya membuat kita hanyut menuju maut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pun begitu, untuk bertaut, cinta butuh proses. Teorema cinta yang bertaut tak mengenal jalan instant di dalamnya. Pram pernah mengungkapkannya jauh tahun sebelumnya. Katanya, "tak ada cinta muncul mendadak, karena dia anak kebudayaan, bukan batu dari langit." Maka cinta tiba-tiba mungkin hanya cinta imitasi saja. Dan apakah yang perlu kita hirau pada sesuatu yang palsu, menipu, tak asli, menyerupai asli tapi tetap saja imitasi. Maka mendadak cinta adalah hal yang patut dicurigai. Patut kita cek orisinalitas cinta itu sendiri. Sebab, mendadak cinta kadang mengelabui kita. Kadang ia hadir dan nampak di depan mata serupa cinta yang orisinil. Cinta asli, atau boleh jadi cinta mati. Namun, hakikatnya sama saja. Mendadak cinta mungkin saja palsu. Walau sudah mendekati orisinil pun, ia masih palsu adanya. Imitasi, bukan asli. Dan apakah kepentingan kita untuk menggubris suatu hal seperti yang tak seberapa palsu dengan yang benar-benar palsu. &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt;, keduanya adalah sama-sama palsu, imitasi, bukan asli. Karenanya pula kita mesti hati-hati dengan cinta yang menyerupai cinta asli. &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/08/tak-ada-hubungan-dengan-ketiak.html"&gt;Kita mesti mencurigai cinta imitasi.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengamati suatu cinta, apakah ia asli atau imitasi; tak ada ketentuan, atau hukum, atau peraturan yang disepakati bersama secara mendunia. Hanya saja orang yang sudah berpengalaman dengannya pernah mengingatkan kita dengan petuahnya; bahwa: "Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan dalam dirinya", (&lt;i&gt;Anonim&lt;/i&gt;). Maka ketika kita temukan seseorang yang ingin membentuk pasangannya sekehendak isi perutnya, merujuk pada petuah tadi, kita dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut tidak benar-benar mencintai pasangannya. Ia hanya ingin menduplikasi wataknya pada orang lain dengan kedok mencintainya. Dan inilah gambaran cinta imitasi, cinta palsu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta. Padanya, jiwa kita larut. Hati kita hanyut. Pelbagai macam rasa  kerap hinggap, dan berkedut. Kadang rasa cemas yang membuncah, cemburu  yang menghantu, atau juga rindu yang membiru. Sebab cinta pula, kita sering merasa tekanan suhu badan yang meninggi. Kita demam tiba-tiba. Demam yang mengamuk sampai kita mabuk. Mabuk cinta tepatnya. Namun satu hal yang kita tak boleh luput dari padanya adalah; bahwa ketika tertahan cinta itu serupa kentut. Dan semua kita tentu setuju, menahan kentut akan berakibat busung perut. &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/08/hikayat-kentut.html"&gt;Mungkin cinta adalah kentut itu sendiri.&lt;/a&gt; Siapa peduli?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Bivak Emperom, Sept. 2011.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-1501940148718716660?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/1501940148718716660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/09/lamour-dabstraction.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1501940148718716660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/1501940148718716660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/09/lamour-dabstraction.html' title='el amor falso'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5Zd6eQk6lC8/TnlWdpqevHI/AAAAAAAAAHQ/L5mUA_hJpkk/s72-c/is+this+love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-8292778925756573364</id><published>2011-09-16T13:52:00.000+07:00</published><updated>2011-09-16T13:52:59.392+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agnosia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='meu-Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>Solilokui Pejabat Bangku Panjang</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; line-height: 16px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/08/meureudu-sebentuk-egosentrisma-rasa.html"&gt;:Tuan Kuasa, Yang Baru Bertahta&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Tuan, langsung saja; tanpa mukaddimah, bermula&amp;nbsp;&lt;em&gt;bismillah&lt;/em&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-l7e5I_UKqQI/TnLhEQf5c7I/AAAAAAAAAHI/IxCk-UlTAEw/s1600/324079_158631057548963_100002062106296_304997_2108040_o.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-l7e5I_UKqQI/TnLhEQf5c7I/AAAAAAAAAHI/IxCk-UlTAEw/s200/324079_158631057548963_100002062106296_304997_2108040_o.jpg" width="157" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;a href="http://tungangsindicate.blogspot.com/"&gt;Ilustrasi Tu-ngang Iskandar&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Kuasakan pada saya sedikit pangkat. Engkau tahu saya cukup berkiprah dalam pemilu lalu, dekat dengan siapa saja; baik si ini apalagi si anu. Hingga massa banyak yang memilihmu dalam pemilu. Tuan, pendekatan yang dulu-dulu itu saya lakukan demi memenangkan Tuan tentunya. Walau banyak rintangan dalam melakukannya, namun tetap saja saya lakukan itu pendekatan hingga kadang-kadang mesti dengan lidah menjulur sambil berpura-pura meneteskan air liur. Tapi begitulah, semua yang pernah saya kerjakan, mungkin adalah sebuah ikhtiar demi mencapai apa yang saya cita-citakan. Apa yang Tuan inginkan.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Hmmmm..., Tuan! Saya patut memanggilmu sebutan ini, karena sekarang segala bentuk jabatan berada dalam genggamanmu. Entah lain kali. Maka bersebab kedekatan saya dengan Tuan, asbab saya pernah bekerja untuk memenangkan Tuan; maka adalah tak menjadi sebuah 'kemaluan' jika pada kesempatan yang khidmat ini saya menyampaikan sebuah pesan.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Kuasakan pada saya sedikit pangkat. Saya ingin menjabat. Kalau bisa menjabat pada tempat yang budget tahunannya mengkilat. Mungkin dinas ini atau badan itu. Terserah sama Tuan saja. Terus terang, menjadi pejabat seperti sekarang, sungguh sangat memusingkan kepala. Saya ingin menyejahterakan keluarga, seperti ingin menguliahkan anak keluar negeri atau sekadar membeli isteri seperangkat pakaian dalam yang dijual di butik&amp;nbsp;&lt;em&gt;Gucci&amp;nbsp;&lt;/em&gt;asli. Saya ingin menyejahterakan kerabat-kerabat lain juga, atau sesiapa saja yang saya anggap layak untuk disejahterakan. Terlebih lagi dalam masa kampanye dulu, saya pernah berjanji pada masyarakat di sebuah kampung, bahwa jika mereka memilih Tuan, kakus umum yang dulunya berdinding *&lt;em&gt;bleuet&lt;/em&gt;&amp;nbsp;akan diganti dengan kakus tembok berlantai keramik. Maka melihat pada posisi saya yang sampai sekarang masih duduk di bangku panjang, bagaimanakah cita-cita tulus ini dapat tercapai. Karenanya, saya berharap kepada Tuan agar mengabulkan ini permintaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Sungguh, saya akan selalu menjaga reputasimu. Juga akan selalu merahasiakan segala aktivitas Tuan ketika sedang berada di luaran. Pengalaman main perempuan di Thailand, isteri simpanan di Jakarta, selingkuhan di kantoran, dan pengalaman-pengalaman lain yang pernah sama-sama kita alami, senantiasa saya jaga rahasianya sampai ajal datang tiba-tiba. Tapi seperti saya katakan sebelumnya, saat ini saya terlalu butuh itu jabatan. Jadi, mohon Tuan pertimbangkan matang-matang.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Dan apabila kuasa yang saya harap itu dalam beberapa hari ini, atau dalam kisaran bulan ini, atau boleh jadi dalam pusaran almanak tahun ini, Tuan kabulkan. Saya akan bekerja sepanjang hari dengan suka cita. Akan saya selesaikan semua pekerjaan dengan sempurna, sampai pada waktu-waktu tertentu beberapa kucuran yang ada diam-diam saya transfer ke rekening pribadi, Tuan. Maka ketika ini berlaku, suasana yang ada adalah serupa dengan apa yang digambarkan dalam sebuah bait puisi:&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;em&gt;"Hari pun tiba//Kita berkemas senantiasa//Kita berkemas sementara jarum melewati angka-angka//Kau pun menyapa://Kemana kita?//Tiba-tiba terasa musim mulai menanggalkan daun-daun."&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Begitu Tuan. Bait puisinya tak terlihat murahan, bukan? Memang, bait itu adalah penggalan sebuah puisi milik Sapardi Djoko Damono, penyair kelas kakap itu. Pasti tuan senang membacanya suatu kali waktu. O-iya, selain rahasia-rahasia Tuan yang tersebut sebelumnya, rahasia tentang kesukaan Tuan akan bacaan-bacaan sastra seperti &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/search/label/Puisi"&gt;puisi,&lt;/a&gt; &lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/08/agnosia-akut.html"&gt;prosa&lt;/a&gt;, dan roman-roman cinta juga akan saya pegang dan tak akan saya beberkan kepada sesiapa saja. Bahkan rahasia Tuan yang pernah menangis sehabis membaca bab terakhir roman bertajuk&amp;nbsp;&lt;em&gt;Tenggelamnya Kapal Van der Wijck&lt;/em&gt;&amp;nbsp;juga akan saya tutup rapat-rapat. Kepada istri Tuan sekalipun tak akan saya ungkap rahasia yang satu ini. Tentang rahasia ini pun, sekali lagi saya minta maaf pada Tuan yang secara tidak sengaja memergoki Tuan sedang berlinangan air mata dengan buku yang dikarang Hamka itu masih tergeletak di atas meja. Saya ingat, kejadian ini terjadi di kantor, bulan September tahun lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Tapi Tuan, yang tadi barusan saya bicarakan hanya intermezzo saja. Hanya sekadar candaan saja. Hanya usaha untuk mencairkan suasana saja. Karena yang pasti, inti dari semua yang ingin saya sampaikan pada Tuan, ya, tentang jabatan itu tadi. Tentang bagaimana impian saya selama ini akan sebuah jabatan yang layak disandang sebagaimana layaknya saya mengabdi (jangan baca menjilat) pada Tuan selama ini. Pun begitu sebagai bahan pertimbangan, tentu Tuan pernah baca apa yang dikisahkan dalam cerita Hikayat 1001 Malam. Tentang bagaimana dalam kalangan pemerintahan-pemerintahan Arab, Baghdad, Persia, dan lain sebagainya, pejabat-pejabat yang diangkat oleh penguasa adalah kebanyakan dari kalangan orang-orang terdekat. Saya pikir, beranjak dari kedekatan kita, baik dulu maupun sekarang; Tuan perlu sedikit banyak mengadopsi apa yang ada dalam cerita Hikayat 1001 Malam itu. Dan tentu saja hal keadaan ini akan semakin menambah keakraban kita dan bertambah pula ketakziman saya pada Tuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Maka sebagai penutup. Sandangkan pada saya suatu azimat. Kuasa untuk menjabat. Kantongi saya stempel pemerintah. Agar leluasa memerintah. Untuk ini, saya tahu bahwa Tuan sangat mengerti maksudnya, dan paham pula tentang kedekatan kita, dulu sampai sekarang. Memang, sepertinya Tuhan seperti telah menentukan kedekatan itu. Bukankah begitu, kawan? Ooopss, salah! Bukankah begitu, Tuan?&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Salam Takzim,&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;X&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Nb: Untuk pesta ananda x (putra Tuan) bulan depan. Telah saya pesan beberapa ekor kerbau sebagai tambahan daging pesta perhelatan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;Tembusan:&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;1. Arsip Pikiran (softcopy)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;2. Arsip Rumah Tangga (hardcopy).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-8292778925756573364?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/8292778925756573364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/09/solilokui-pejabat-bangku-panjang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/8292778925756573364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/8292778925756573364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/09/solilokui-pejabat-bangku-panjang.html' title='Solilokui Pejabat Bangku Panjang'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-l7e5I_UKqQI/TnLhEQf5c7I/AAAAAAAAAHI/IxCk-UlTAEw/s72-c/324079_158631057548963_100002062106296_304997_2108040_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-3774098045701394853</id><published>2011-09-11T16:21:00.000+07:00</published><updated>2011-09-11T16:21:44.789+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Technorati Claim in Progress</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Hmmm... September untuk Banda Aceh tahun ini mungkin adalah bulan angin-anginan. Bulan yang penuh dengan angin sibuk dan hujan yang mengutuk. Seperti dua hari ini. Hujan dan angin kencang seperti mengepung Banda Aceh dan sekitarnya. Orang-orang yang sedikit alergi untuk berbasah-basah menjadi malas keluar rumah. Dan buatku yang sedari pagi tak keluar rumah sebab hujan dan angin kencang, mungkin termasuk juga dalam kelompok orang-orang yang alergi ini.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, manfaatin waktu di rumah dari pagi sampai siang sekarang. Iseng, kubuka blog yang baru bulan kemarin kugeluti. Kata seorang teman, blogku tambah ramai saja pengunjungnya. Tapi menurutku, blogku masih terdapat banyak kekurangan di sana-sini. Karenanya, dalam beberapa kesempatan, aku sering baca-baca artikel tentang tips dan trik&amp;nbsp;&lt;i&gt;ngeblog&lt;/i&gt;. Memanfaatkan&amp;nbsp;&lt;i&gt;om google,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;aku memilih keyword macam-macam untuk menemukan tips dan trik&amp;nbsp;&lt;i&gt;ngeblog&amp;nbsp;&lt;/i&gt;yang kumaksud. Dan kemudian aku menemukan&amp;nbsp;&lt;a href="http://fayescool.blogspot.com/2011/07/cara-mendaftarkan-blog-ke-technorati.html"&gt;blog&lt;/a&gt;&amp;nbsp;yang salah satu judul postingannya adalah cara mendaftarkan blog ke &lt;a href="http://technorati.com/"&gt;technorati&lt;/a&gt;. Aku tertarik. Kubuka itu blog, trus kubaca, kusimak, kudalami, kuikuti petunjuknya, sampai aku mentok pada sebuah laman seperti gambar di bawah:&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-zpjxabnQ4Tg/Tmx1l_sV7II/AAAAAAAAAG4/N787K-QcjLA/s1600/untitled12.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://4.bp.blogspot.com/-zpjxabnQ4Tg/Tmx1l_sV7II/AAAAAAAAAG4/N787K-QcjLA/s400/untitled12.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Maka setelah kubaca teks-teks berbahasa Inggris dalam laman seperti di atas, dengan kemampuan bahasa Inggris-ku yang sangat pas-pasan, dapat kupahami bahwa ternyata setelah sebuah alamat blog telah terdaftar di mesin pelacak blog (salah satunya; technorati), tidak serta merta blog yang terdaftar tersebut akan diterima oleh pihak yang membuka pendaftaran ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Kita harus mem-&lt;i&gt;verify&lt;/i&gt;&amp;nbsp;via email terlebih dahulu, dan kemudian dilanjutkan dengan check claim untuk memferivikasi akun yang kita daftar tadi. Nah, sampai di sini pun, akun kita belum dinyatakan telah diferivikasi sebelum kita mem-&lt;i&gt;publish&lt;/i&gt; sebuah tulisan yang di dalamnya terdapat kode token yang diberikan technorati. Contoh kode tokennya seperti ini:&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: #eaf2f5; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px;"&gt;&lt;b&gt;UGBCGKFG74DF.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;Lengkapnya:&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: #eaf2f5; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px;"&gt;&lt;strong style="font-weight: bold;"&gt;Sep 10, 2011.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;...&amp;nbsp;&lt;b&gt;the claim token UGBCGKFG74DF in any posts in your feed.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Please make sure that you have entered it correctly in a post body and that the token appears in the feed whose URL you have given us. Once you are sure we should be able to find the claim token, use "Update Site Feed URL" so that we can check again.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: #eaf2f5;"&gt;&lt;span style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Contoh kode token di atas adalah kepunyaanku. Dan dalam keadaan hujan yang terus-terusan mengguyur ini, aku tak seberapa tahu tentang kepunyaanmu. Hehehehe... Salam.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span id="goog_621654667"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_621654668"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/900794430272227690-3774098045701394853?l=syariefmustafa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/feeds/3774098045701394853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/09/technorati-claim-in-progress.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/3774098045701394853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/900794430272227690/posts/default/3774098045701394853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/09/technorati-claim-in-progress.html' title='Technorati Claim in Progress'/><author><name>Reza  Mustafa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07631197481754032408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-IIqYSDbuaFI/TkGZDBD3NfI/AAAAAAAAAAU/vvp8zufz8jI/s220/Copy%2Bof%2BDSC_0243.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-zpjxabnQ4Tg/Tmx1l_sV7II/AAAAAAAAAG4/N787K-QcjLA/s72-c/untitled12.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-900794430272227690.post-7452117079262267696</id><published>2011-09-08T18:32:00.001+07:00</published><updated>2011-09-08T18:38:11.124+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sepak Bola'/><title type='text'>Alexi Lalas; Jenggot, Bin Laden, dan Sepakbola Indonesia</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Mungkin, Alexi Lalas adalah seorang yang pertama mengubah persepsi anak muda Amerika tentang olahraga sepakbola. Berawal diselenggarakannya perhelatan Piala Dunia tahun 1994 di negerinya, nama Alexi Lalas mencuat sebagai salah satu tulang punggung timnas Amerika yang ketika itu masuk dalam grup A bersama 3 tim lain, yaitu Rumania, Swiss, dan Kolombia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Bry404cCg_s/Tmh-JkfUnRI/AAAAAAAAAGQ/QKTTTUgoZ08/s1600/alexi-lalas.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="170" src="http://1.bp.blogspot.com/-Bry404cCg_s/Tmh-JkfUnRI/AAAAAAAAAGQ/QKTTTUgoZ08/s200/alexi-lalas.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: xx-small;"&gt;pict.&amp;nbsp;&lt;a href="http://onesoccerstar.blogspot.com/2011/07/panayotis-alexander-alexi-lalas.html"&gt;onesoccerstar.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Membahas nama Alexi Lalas sebagai seorang pesepakbola professional dunia, tentu saja tidak sama dengan membahas nama-nama serupa Romario, Eric Cantona, atau pemain-pemain tenar lain yang semasa dengannya. Lalas, boleh dikatakan tak setenar Irfan Bachdim sekarang di Indonesia. Bahkan di negaranya pun, namanya kalah tenar dari Hakeem Olajuwon, pebasket tahun 90-an yang muslim itu. Namun, penampilannya yang nyentrik sedikit tidak menjadi faktor kenapa tulisan ini ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Alexi Lalas menjadi ikon sepakbola modern AS kala itu. Meskipun karirnya tak sematang karir para juniornya sekarang, seperti halnya Landon Donovan yang mendapat tempat di beberapa klub Liga Eropa, dia mempunyai kharisma tersendiri dalam dunia sepakbola. Apalagi di tengah-tengah masyarakat yang lebih menyukai olahraga lain ketimbang olahraga yang digelutinya. Sepakbola bukanlah olahraga favorit bagi masyarakat Amerika. Anak-anak mudanya, lebih memilih menjadi atlit baseball, rugby, basket, atau boleh jadi lebih memilih menjadi pemeran acara Smack Down di televisi ketimbang menjadi atlit sepakbola. Nah, di tengah-tengah kondisi seperti inilah seorang Alexi Lalas meniti karir sepakbolanya, hingga seusai Piala Dunia tahun 1994 dia berkesempatan merumput di klub Padova,&lt;a href="http://syariefmustafa.blogspot.com/2011/08/roberto-baggio-italian-buddhist-itu.html"&gt; Liga Seri-A Italia&lt;/a&gt;.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif;"&gt;Dengan nama lengkap Panayotis Alexander, sejatinya Lalas adalah seorang keturunan Yunani yang lahir pada tanggal 1 Juni 1970 di Birmingham kota Michigan, negara Amerika. Dan ketika membicarakan sosok ini, penampilannya yang nyentrik adalah hal menarik untuk dibahas selain kiprah permainannya di lapangan hijau. Hal ini melihat dari tampilan tampangnya yang memelihara jenggot ketika membela tim negaranya di piala dunia tahun 1994 lalu. Menyangkut jenggotnya ini, kita terbayang tentang keberadaan negara Amerika ketika itu. Dimana&amp;nbsp;&lt;/span&gt;pada tahun-tahun tersebut,&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif;"&gt;sensitivitas politik negaranya terhadap negara-negara Timur Tengah yang notabene penduduknya memelihara jenggot belum terlalu mencuat diberitakan media massa. Dimana ketika itu sosok Osama Bin Laden yang juga berjenggot belum begitu tenar di kalangan masyarakatnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-4gmn26yxRRM/TmiO4KratVI/AAAAAAAAAGU/niC3dPoAEWk/s1600/8426.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-4gmn26yxRRM/TmiO4KratVI/AAAAAAAAAGU/niC3dPoAEWk/s320/8426.jpg" width="232" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: xx-small;"&gt;pict.&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.grandstandsports.com/pages/8426.htm"&gt;grandstandsports.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif;"&gt;Terdapat satu kesamaan di balik berbagai perbedaan antara Lalas dengan Bin Laden. Tentu saja kesamaannya adalah, ketika tenar keduanya sama-sama berjanggut. Cuma dalam kesamaan inipun, sebenarnya terdapat perbedaan pula, yaitu salah satunya berjanggut pirang dan satunya lagi berwarna hitam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif;"&gt;Namun, adalah hal yang tidak relevan dan sangat-sangat tidak penting, jika kita membandingkan kedua tokoh di atas dalam kesempatan sekarang ini. Sebab, suatu hal penting yang perlu kita ambil adalah keberadaan sosok Alexi Lalas di Amerika. Meniti karir sepakbolanya di tengah-tengah masyarakat yang buta sepakbola dan kemudian menjadi pemicu lahirnya pemain bola berbakat dunia setelah masanya adalah hal yang patut diketahui masyarakat bola Indonesia. Ini dikarenakan merujuk kondisi sepakbola Indonesia sekarang ini. Indonesia secara keseluruhan masyarakatnya, lebih dulu mengenal sepakbola dari pada masyarakat Amerika. Tapi melihat prestasinya, Indonesia kalah jauh dari Amerika. Karenanya pula, mungkin Indonesia membutuhkan seseorang seperti Lalas sebagai pemicu semangat pemuda Indonesia menjadi pesepakbola profesional
