27/12/11

Dinasti Abbasiyah

Pokok Bahasan: 
Pecahnya Dunia Islam & Timbulnya Dinasti-dinasti Kecil di Barat dan Timur Baghdad Pada Masa Dinasti Abbasiyah 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Setelah mengikuti beberapa kuliah terakhir mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, dimana di dalamnya telah dibahas tentang dua dinasti besar setelah masa khulafaurrasyidin, yaitu Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah (selanjutnya disebut Abbasiyah saja). Dari pembahasan-pembahasan ini di antara banyak kesimpulan yang telah diambil, penulis mencatat bahwa terdapat satu perbedaan mencolok antara kedua dinasti ini. Perbedaan ini dapat penulis pahami khusus pada aspek perkembangannya masing-masing. Bahwa pada Dinasti Umayyah aspek yang sangat berpengaruh dan berkembang adalah aspek politik. Ini dapat dibuktikan melihat pada luasnya wilayah penaklukan yang dicapai pada masa pemerintahannya. Sedangkan Abbasiyah, aspek yang paling mendominasi –bukan bermaksud berpendapat bahwa aspek lain tidak berkembang sama sekali– dalam perkembangannya selama masa pemerintahannya adalah berkembangnya aspek ilmu pengetahuan secara meluas.
Penjelasan di atas adalah salah satu celah yang penulis ambil sebagai hal yang melatarbelakangi dalam menyusun makalah ini. Secara tegas, dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat pada masa Abbasiyah telah memungkinkan pemerintahannya sedikit alpa memperhatikan aspek politik yang berkembang pada wilayah-wilayah kekuasaannya. Kondisi begini rupa pada tahap selanjutnya menjadi salah satu faktor timbulnya dinasti-dinasti kecil, baik di barat maupun di timur pusat pemerintahan Abbasiyah, yaitu Baghdad. Maka pada kesempatan ini, yang menjadi titik fokus pembahasan makalah adalah berbicara tentang Abbasiyah pada bahasan terpecahnya dunia Islam dan berdirinya dinasti-dinasti kecil di barat dan di timur Baghdad.
Selanjutnya, setelah membaca beberapa buku yang berkenaan dengan sejarah peradaban Islam, penulis menemukan suatu ungkapan dalam buku Mukaddimah Ibnu Khaldun. Di mana pada Bab III, dalam bahasan yang berjudul: “Apabila Negara telah berdiri teguh ia dapat meninggalkan solidaritas sosial”, dijelaskan bahwa:
“Ketika kedudukan raja telah ditegakkan dan diwarisi keturunan demi keturunan, atau dinasti demi dinasti, maka orang akan lupa keadaannya yang asal. Rakyat tunduk kepada mereka yang memerintah sebagaimana tunduk kepada ajaran agama, serta berjuang untuk mereka sebagaimana berjuang untuk agama sendiri. Dalam tingkat ini orang yang memerintah tidak lagi bergantung kepada kekuatan angkatan bersenjata yang besar, sebab kekuasaan telah diterima sebagai kehendak Allah yang tidak bisa diubah atau ditentang.
Sejak itu dan seterusnya kekuasaan raja berpangkal kepada orang-orang yang mendapat perlindungan dari rumah tangga istana, ialah orang-orang yang dibesarkan di bawah perlindungannya; atau kalau tidak, maka raja bergantung kepada barisan-barisan bersenjata asing yang bekerja padanya.
Contoh mengenai ini diberikan oleh oleh Dinasti Abbasiyah. Dalam zaman Khalifah Al-Mu’tasim dan anaknya Al-Watsiq, semangat dan kekuatan bangsa Arab telah menjadi lemah, sehingga raja-raja bergantung sebagian besar kepada orang-orang yang mendapat perlindungan yang diambil dari bangsa-bangsa Persia, Turki, Dailami, Saljuk, dan lain-lainnya. Orang-orang asing ini dengan segera dapat menguasai provinsi-provinsi, sedang kekuasaan Abbasiyah sendiri hanya terbatas pada daerah sekitarnya saja.”[1]
Maka berdasarkan kutipan di atas, penulis memahami bahwa ketika suatu pemerintahan telah berjalan sedemikian lamanya, telah lama berdiri dengan tegaknya, telah lama pula berkuasa dengan mapannya, akan terdapat suatu celah yang memungkinkan pemerintahan tersebut mundur suatu ketika.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mencoba merumuskan suatu titik permasalahan, dimana dalam makalah ini, penulis mencoba menelaah tentang Pecahnya Dunia Islam & Berdirinya Dinasti-Dinasti Kecil Di Timur Dan Barat Baghdad. Daripadanya pula penulis menyusun kerangka tulisan menjadi beberapa bagian, sebagai berikut:
1.      Periodeisasi Pemerintahan Dinasti Abbasiyah
2.      Wilayah-wilayah kekuasaan Bani Abbasiyah
3.      Berdirinya Dinasti-dinasti Kecil di Barat dan Timur Baghdad.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Periodeisasi Pemerintahan Dinasti Abbasiyah
Di antara para ahli sejarah, terdapat perbedaan pendapat dalam mengklasifikasikan periode-periode masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Dimana dalam membagikan periode-periode yang dimaksud, ada sejarawan yang berpendapat bahwa masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah terbagi atas dua periode. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ahmad al-Usairy, bahwa; “pemerintahan Dinasti Abbasiyah, sebagaimana banyak diistilahkan kalangan sejarawan dibagi menjadi dua periode:
1.  Periode - I, yaitu dimulai sejak tahun 132-247 H/749-861 M. Periode ini merupakan masa kejayaan para Dinasti Abbasiyah. Ada sepuluh penguasa pada periode ini.
2.  Periode – II, dimulai dari tahun 247-656 H/861-1258 M. Masa ini adalah masa lemahnya para khalifah dan lenyapnya kekuasaan mereka. Terdapat 27 khalifah yang memimpin pemerintahan pada masa ini.[2]
Di sisi lain, ada juga yang berpendapat bahwa masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah terbagi atas 5 periode. Ini adalah merujuk kepada apa yang pernah diungkapkan oleh Ahmadi Wahid, yaitu:
1.   Periode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M) periode pengaruh Persia pertama.
2.   Periode kedua (232 H/847 M – 234 H/945 M) masa pengaruh Turki pertama.
3.  Periode ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M) masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan daulat (masa pengaruh Persia kedua).
4.   Periode keempat (447 H/1055 M/ – 590 H/1194 M) masa kekuasaan dinasti Saljuk dalam pemerintahan (masa pengaruh Turki kedua).
5.  Periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad.[3]
Lain halnya dengan dengan pendapat Abu Su’ud dalam Islamologi, bahwa masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang memerintah selama 508 tahun dibagi menjadi tiga periode penting. Dimana tiga periode ini dijelaskan berdasarkan tiga keturunan yang berkuasa, yaitu Bani Abbas, Bani Buwaih, dan Bani Saljuk. Dengan rincian, Bani Abbas berkuasa pada tahun 750 – 932 M dengan jumlah 18 khalifah, Bani Buwaih berkuasa pada 932 – 1075 M dengan jumlah 8 khalifah, dan Bani Saljuk berkuasa tahun 1075 – 1258 M dengan jumlah 11 khalifah. [4]
Dari tiga pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pembagian periode masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang berjalan selama lima abad ini, para ahli sejarah mengklasifikasikannya menurut aspek yang ditelaahnya masing-masing. Keadaan inilah yang memungkinkan terdapat perbedaan pendapat tentang periodeisasi masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah itu sendiri. Dapat dipahami pula bahwa ada sejarawan yang membagi masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah melihat kepada masa naiknya pemerintahan dengan masa kemunduran pemerintahan, sehingga ia membaginya dalam dua periode saja. Ada sejarawan yang membagi periode masa pemerintahan setelah mengkaji pada pola pemerintahan yang diusung oleh para khalifah yang memimpin pada masa tertentu.Yaitu, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik., sosial, dan budaya, sehingga sejarawan yang meneliti dari aspek ini menyimpulkan bahwa masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah terbagi atas 4 periode atau lebih. Di samping itu, terdapat pula pendapat yang mengemukakan bahwa masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dibagi atas tiga periode berdasarkan pengamatannya terhadap asal-usul para khalifah yang memegang tampuk pimpinannya. 


B.     Wilayah-Wilayah Kekuasaan Dinasti Abbasiyah
Tentang wilayah-wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah dijelaskan dalam sebuah artikel sejarah peradaban Islam bahwa; pembagian wilayah masa dinasti Umayyah ke dalam provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur (amir) adalah sama dengan pola pemerintahan pada kekuasaan Bizantium dan Persia. Pembagian ini tidak mengalami perubahan berarti pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah.[5]
Provinsi Dinasti Abbasiyah mengalami perubahan dari masa ke masa, dan klasifikasi politik juga tidak selalu terkait dengan klasifikasi geografis, seperti yang terekam dalam karya Al-Istakhri, Ibn Hawqal, Ibn Al-Faqih, dan karya-karyanya yang sejenis. Dari sini diketahui bahwa provinsi-provinsi utama pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah adalah: 1). Afrika di sebelah barat gurun Libya bersama dengan Kep. Sisilia; 2). Mesir; 3). Suriah dan Palestina; 4). Hijaz dan Yamamah (Arab Tengah); 5). Yaman dan Arab Selatan; 6). Bahrain dan Oman; 7). Sawad atau Irak (Mesopotamia Bawah) dengan kota utamanya Kufah dan Wash setelah Baghdad; 8). Jazirah (kawasan Assyiria Kuno, bukan semenanjung Arab); 9). Azerbaijan dengan kot-kota besarnya seperti Ardabil, Tibriz, dan Maraghah; 10). Jibal (perbukitan Media Kuno kemudian dikenal dengan Irak Ajami atau Irak-nya orang Persia) dengan kota utamanya Ramadan.[6] 

C.    Pecahnya Dunia Islam & Berdirinya Dinasti Kecil di Barat dan Timur Baghdad
Setelah memahami periodeisasi masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah secara menyeluruh dan setelah melihat luas daerah kekuasaannya, dalam bahasan ini kita dapat mengkaji tentang pecahnya dunia Islam dan berdirinya dinasti-dinasti kecil dalam lingkup wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah itu sendiri. Yang dimaksud pecahnya dunia Islam di sini, menurut penulis adalah lebih berbicara dalam konteks politik masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, dimana ia pada tahap selanjutnya menjadi penyebab muncul dinasti-dinasti kecil dan hancurnya dinasti ini secara menyeluruh. Hal keadaan ini adalah merujuk pada bahasan Philip K. Hitti dalam History of The Arabs, pada Bab XXII, di mana ia menulis “Kekhalifahan Terpecah: Dinasti-dinasti Kecil di Barat” sebagai judul bab yang dimaksud. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa; lima tahun setelah berdirinya kekhalifahan Abbasiyah, Abd Al-Rahman muda, satu-satunya keturunan Dinasti Umayyah yang luput dari pembantaian missal tiba di sebuah tempat, jauh di daratan Cordova, Spanyol. Setahun kemudian, tahun 756, dia mendirikan sebuah dinasti yang kelak menjadi dinasti besar.[7]
Ungkapan di atas merupakan sinyal yang dapat diketahui, bahwa pecahnya dunia Islam yang dimaksud di sini lebih berbicara pada perpecahan yang disebabkan kepentingan politik masing-masing pihak atau kelompok, hingga memungkinkan padanya banyak terjadi perebutan kekuasaan antara umat Islam itu sendiri. Kasus-kasus seperti ini sudah terjadi pada masa-masa awal perkembangan Islam sejak akhir masa khulafaurrasyidin memerintah, dan tak terkecuali pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah sekalipun.  
Maka beranjak dari pemahaman di atas, khusus pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah seperti dalam bahasan ini, dinasti-dinasti kecil yang muncul dapat diketahui sebagaimana yang telah diulas secara gamblang dalam berbagai buku sejarah peradaban Islam. Dimana berkenaan dengan ini, Jaih Mubarok, menjelaskan dalam bukunya bahwa keberadaan dinasti-dinasti kecil yang dimaksud dapat dibedakan kepada dua segi, yaitu dinasti-dinasti yang timbul dari segi ketundukan kepada khalifah atau tidak, dan segi geografis letak dinasti-dinasti itu berdiri. Oleh karena, bahasan dalam makalah ini adalah dikhususkan kepada dinasti-dinasti kecil menurut geografisnya semata, maka pembagiannya dapat diketahui, sebagai berikut:
Di Barat Baghdad ada, Dinasti Idrisi di Maroko (172-375 H/788-985 M), Dinasti Aghlabi di Tunisia (184-296 H/800-908 M), Dinasti Thulun di Mesir (254-292 H/868-967 M), Dinasti Ikhsyidi (323-357 H/934-967 M), Dinasti Hamdaniah (317-399 H/929-1009 M). Di Timur Baghdad diantaranya: Dinasti Tahiriyah di Khurasan (200-259 H/820-872 M), Dinasti Safariyah di Fars (254-289H/867-903 M), Dinasti Samaniyah di Transoxania (261-389 H/874-999 M), dan Dinasti Ghaznawi di Afganistan (351-585 H / 962-1189 M).[8] Selanjutnya, berdasarkan beberapa rujukan, dapat dipelajari secara singkat tentang keberadaan dinasti-dinasti kecil yang timbul baik di barat maupun di timur pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah, yaitu Baghdad.

1.  Dinasti-dinasti Kecil Di Barat Baghdad
Dinasti Idrisiyah di Maroko (172-375 H/788-985 M)
Kerajaan ini didirikan oleh Idris bin Abdullah, cucu Hasan putra Ali. Dia adalah salah seorang tokoh bani Alawiyyin (nisyah Ali bin Abu Thalib). Pada tahun 172 H/788 M, Idris dilantik sebagai imam, dan terbentuklah kerajaan Idrisi dengan ibu kota Walilia. Namun masa pemerintahannya hanya bertahan selama 5 tahun. Selanjutnya Idris bin Idris bin Abdullah (Idris II) menggantikan ayahnya sebagai pemerintah (177 H/793 M). Dengan pusat pemerintahannya dipindahkan ke Fes sebagai ibu kota yang baru pada tahun 192 H. Ketika Idris II wafat, Pemerintahannya diganti oleh Muhammad Al-Muntashir (213 H/828 M). Pada masa ini, kerajaan Idrisi berpecah-pecah. Akibatnya kerajaan menjadi lemah, terutama selepas Muhammad Al-Muntashir meninggal, pemerintahannya semakin rapuh.
Kerajaan Idrisi adalah kerajaan Syiah pertama dalam sejarah. Zaman kerajaan Idrisi (172-314 H/789-926 M) adalah suatu jangka waktu yang cukup lama dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan yang lain. Dalam aspek dakwahnya, Idrisi yang membawa Islam dan mampu meyakinkan penduduk Maroko dan sekitarnya.[9]

b.      Dinasti Aghlabi di Tunisia (184-296 H/800-908 M)
Dinasti ini didirikan oleh keturunan Ibrahim Ibn Aghlab Ibn Salim Al-Tamimi. Ibrahim Ibn Aghlab Ibn Salim Al-Tamimi diberi wewenang oleh Harun Al-Rasyid untuk memimpin pemerintahan di Tunis. Pusat pemerintahannya terletak di Qairawan. Dinasti ini dipimpin oleh 11 amir; dimana amir yang pertama ialah Ibrahim Ibn Aghlab (w. 184 H/800 M), dan amir yang terakhir adalah Abu Madhar Ziyadatullah (w. 296 H/900 M). Pemerintahan Aghlabi di taklukkan oleh Dinasti Fatimiah pada tahun 296 H/906 M.[10]

Dinasti Thulun di Mesir (254-292 H/868-967 M)
Bakbak adalah seorang pemimpin militer berkebangsaan Turki yang diberi jabatan wali (setingkat gubernur) untuk kawasan Mesir oleh Al-Mu’taz (862-866 M) pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Kemudian Bakbak memberikan jabatan tersebut kepada asistennya, Ahmad Ibn Thulun pada tahun 254 H/868 M.
Di bawah kepemimpinan Thulun inilah kemudian Mesir menjadi wilayah yang merdeka dari pemerintahan Abbasiyah di Irak. Pada masanya, dibangun Masjid Jami’ Ibn Thulun yang masih terpelihara hingga sekarang, dan Fusthath dijadikan pusat pemerintahan. Puncak dinasti ini adalah pada zaman Khumariyah Ibn Ahmad Ibn Thulun (270-282 H/884-895 M). Setelah pemimpin ini meninggal, terjadi konflik internal yang menghancurkan ekonomi dan militer pemerintahannya. Dalam situasi konflik internal ini, Dinasti Abbasiyah kembali menundukkan wilayah Dinasti Thulun kedalam wilayah kekuasaannya.[11]  

d.        Dinasti Hamdaniah (317-399 H/929-1009 M)
Dinasti ini didirikan oleh Hamdan Ibn Hamdun Ibn Al-Harits pada akhir abad ketiga hijriah. Salah satu keturunan Hamdan adalah Al-Husein Ibn Hamdan. Ia sangat terkenal karena kehebatannya dalam berperang. Al-Husein berperang melawan Dinasti Qaramithah. Pada tahun 944 M, dinasti ini berhasil menaklukkan Suriah dan bertahan sampai tahun 1003 M. Abu Hayja (saudara Al-Husein) diangkat menjadi gubernur Mosul oleh Al-Muktafi. Berdirinya Dinasti Hamdaniah di Syuriah bersamaan dengan bangkitnya Byzantium di bawah Macedonia. Oleh karena itu, sebagian besar waktunya digunakan untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya dari serangan Byzantium.
Pun begitu, dalam dinasti ini muncul pula beberapa tokoh intelektual yang sampai sekarang dikenal sebagai ahli dalam bidang kajiannya masing-masing. Dalam bidang ilmu nahwu muncul nama-nama seperti; Abi Al-Fath dan Ustman Ibn Jinni. Di bidang sastra ada ulama yang terkenal yaitu Abu Thayyib Al-Mutanabbi dan Abu Al-Faraj. Sementara dalam bidang filsafat terdapat filsuf ternama dalam masa pemerintahan dinasti ini, yaitu Al-Farabi.[12]

e.       Dinasti Ikhsyidi, Mesir (323-359 H/934-969 M)
Ketika Dinasti Fatimiah yang berpusat di utara Afrika menyerang Mesir, seorang yang berkebangsaan Turki bernama Muhammad Ibn Thugi bersama para pengikutnya berhasil mempertahankan sungari Nil dari serangan tersebut. Atas keberhasilan ini, Khalifah Al-Radhi salah satu penguasa Dinasti Abbasiyah yang memimpin tahun 932-934 M mengangatnya sebagai gubernur Mesir. Dari pengangkatan inilah dinasti Ikhsyidi bermula. Dimana pada masa seterusnya penguasa pertama dinasti ini berkuasa antara tahun 934 sampai 941 M.
Setelah dua tahun berkuasa di Mesir, dinasti ini berhasil menundukkan Syiria, Palestina, Mekkah, dan Madinah. Setelah Ibn Thugi meninggal, penggantinya berturut-turut diketahui, yaitu; Abu Al-Qasim Ibn Ikhsyid (954-960 M), Abu Al-Hasan Ali Ibn Al-Ikhsyid (960-965 M), Abu Al-Misk Kafur (965-967 M), dan Abu Al-Fawaris Ahmad Ibn Ali (966-968 M). Setelah masa kepemimpinan Abu Al-Misk Kafur, dinasti ini mengalami masa kemunduran hingga kemudian ditaklukkan oleh Jauhar Al-Saql, salah satu penguasa Dinasti Fatimiah.[13]
Pada zaman Dinasti Ikhsyidi, di Mesir didirikan suq al-warigin, tempat melakukan pengkajian dan pengembangan intelektual. Pada fase ini tercatat nama besar di bidang intelektual: Muhammad Ibn Al-Tamimi, Abu Ishaq Al-Marwaji, Abu Amr Al-Hindi, dan Al-Mutanabbi. Di samping itu mereka juga meninggalkan istana Al-Mukhtar, taman Bustan al-Kafur, dan Maidan Ikhsyid.[14]
Pun begitu, menurut Philip K. Hitti, selama periode kekuasaannya, Dinasti Ikhsyidi tidak memberikan kontribusi apapun bagi kehidupan seni dan sastra di Mesir maupun Suriah. Selain itu, tidak ada karya-karya publik yang lahir dari tangan mereka.[15]

2.   Dinasti-dinasti Kecil Di Timur Baghdad
Dinasti Tahiriyah di Khurasan (200-259 H/820-872 M)
Sebelum meninggal, Harun Al-Rasyid telah menyiapkan dua anaknya untuk diangkat menjadi putra mahkota untuk kemudian menjadi khalifah, yaitu: Al-Amin, dan Al-Ma’mun. Al-Amin dihadiahi wilayah bagian barat, dan Al-Ma’mun dihadiahi wilayah bagian timur. Setelah Harun Al-Rasyid meninggal Al-Amin tidak bersedia membagi wilayahnya dengan Al-Ma’mun. Oleh karena itu, pertempuran dua bersaudara terjadi yang akhirnya dimenangkan oleh Al-Ma’mun. Menurut sejumlah sejarawan, dalam pertempuran antara dua bersaudara ini, muslim Arab mendukung Al-Amin, dan muslim Persia mendukung Al-Ma’mun. Jadi persaingan antara Al-Amin dengan Al-Ma’mun adalah persaingan antara suku Arab dengan suku Persia.[16]
Setelah perang usai, Al-Ma’mun menyatukan kembali wilayah Dinasti Abbasiyah. Untuk keperluan itu, ia didukung oleh Tahir, seorang panglima militer dan saudaranya sendiri, yaitu Al-Mu’tashim. Sebagai imbalan jasa, Tahir diangkat menjadi panglima tertinggi Bani Abbas dan Gubernur Mesir (205 H). Wilayah kekuasaannya kemudian diperluas sampai ke Khurasan (820-822 M), dengan janji bahwa jabatan itu dapat diwariskan kepada anak-anaknya.[17]
Dinasti ini mengakui khilafah Abbasiyah, dan dipimpin oleh empat amir: Tahir Ibn Husein sebagai pendiri (159-207 H), Thalhah Ibn Thahir (207-213 H), Abdullah Ibn Thahir (213-248 H), dan Muhammad Ibn Thahir (248-259 H). Pada tahap selanjutnya ketika Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh Al-Mu’tamid dan Al-Muwafaq dinasti ini tidak mendapat dukungan lagi dari pemerintah pusat, dan akhirnya takluk setelah di ekspansi oleh Dinasti Safari.[18]

b.      Dinasti Safariyah di Fars (254-289H/867-903 M)
Dinasti Safari didirikan oleh Ya’qub Ibn Laits Al-Shafar yang berkuasa antara tahun 867-878 M. Tokoh pendiri ini adalah perwira militer yang kemudian diangkat menjadi amir wilayah Sajistan pada zaman khalifah Al-Muhtadi (869-870 M). Ya’qub Ibn Laits Al-Shafar mendapat dukungan dari khalifah Al-Mu’tamid untuk memperluas wilayah kekuasaannya hingga berhasil menaklukkan Blakh, Tabaristan, Sind, dan Kabul. Penaklukan yang lakukannya membuat Ya’qub Ibn Laits Al-Shafar semakin kuat dan mengirimkan hadiah kepada khalifah di Baghdad, dan bahkan ia didukung oleh pemerintah pusat untuk menaklukkan Dinasti Tahiri di Khurasan.
Namun pada tahap selanjutnya, ketika dinasti ini semakin gencar melakukan penaklukan-penaklukan, Khalifah Al-Mu’tamid merasa khawatir dan ingin menaklukkan dinasti ini. Akan tetapi Ya’qub Ibn Laits Al-Shafar menantang khalifah dan malah menuntut kemerdekaan wilayahnya secara penuh. Setelah meninggal, Ya’qub digantikan oleh saudaranya, Amr Ibn Al-Laits (878-903 M). Dan pada masa pemerintahan Amr Ibn Al-Laits ini khalifah Dinasti Abbasiyah baru bisa menaklukkan dinasti ini dan berhasil menangkap dan memenjarakan pemimpinnya di Baghdad hingga meninggal pada zaman khalifah Al-Mu’tadhid (870-982 M).[19]

c.       Dinasti Samaniyah di Transoxania (261-389 H/874-999 M)
Menurut Jaih Mubarok, dalam menelusuri kekuasaan Samani, kita harus kembali pada zaman Al-Ma’mun yang membagi-bagi wilayah kepada para pendukungnya ketika memenangkan pertempuran dengan saudaranya Al-Amin. Pembagian wilayah ini bersamaan dengan pemberian wilayah kepada Tahiri di Khurasan, dan untuk wilayah Transoxiana Al-Ma’mun memberikan kewenangan kepada Asad Ibn Saman untuk memimpinnya. Kemudian dinasti kecil ini menaklukkan wilayah-wilayah di sekitarnya sehingga berhasil menguasai Transoxiana, Khurasan, Sajistan, Karman, Jurjan, Rayy, dan Tabaristan. Dinasti Samani berkuasa hingga Khurasan setelah berhasil membantu khalifah Al-Mu’tadhid pemimpin Dinasti Abbasiyah menyerang Dinasti Safari.
Pada zaman dinasti ini, lahir ulama-ulama besar yang juga melahirkan karya-karya besar dalam dunia Islam. Di antara mereka adalah Al-Firdausi, Umar Khayyam, Ibn Sina, Al-Biruni, Zakaria Al-Razi, dan Al-Farabi.[20]
Tentang lahirnya tokoh ilmuwan besar ini, dalam bukunya Philip K. Hitti mengungkapkan, bahwa di bawah kekuasaan dinasti Samani kaum muslim berhasil menaklukkan seluruh kawasan Transoxiana. Ibukotanya, Bukhara, dan kota terkemukanya adalah Samarkand, dimana kota ini hampir mengungguli Baghdad sebagai pusat pendidikan dan seni. Pada masa ini, tidak hanya keilmuan Arab yang dilindungi dan dikembangkan, tetapi juga keilmuan Persia. Pada masa ini pula, ilmuwan muslim yang masyhur, Al-Razi mempersembahkan karya utamanya, dalam bidang kedokteran yang berjudul Al-Manshur kepada pangeran Dinasti Samani, Abu Shalih Manshur Ibn Ishaq dari Sijistan.[21]  

Dinasti Ghaznawi di Afganistan (351-585 H / 962-1189 M)
Abd Al-Malik Ibn Nuh (khalifah dari Dinasti Samani) mengangkat Alptigin untuk menjadi pengawal kerajaan. Karena kesetiaannya, ia diangkat menjadi komandan pengawal kerajaan; dan akhirnya ia diangkat menjadi amir di Khurasan. Alptigin hanya setia kepada Abd Al-Malik Ibn Nuh, dan ketika Abd Al-Malik meninggal, ia tidak mentaati pemimpin Dinasti Samani yang baru. Pada tahun 963 M meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya yang bernama Ishaq. Ishaq yang kurang cakap dalam memerintah akhirnya harus merelakan tahta kekuasaannya jatuh ke tangan yang lain, yaitu Baltigin yang kemudian digantikan pula oleh Firri. Firri kemudian diserang oleh Subuktigin dan ia berhasil menguasai Ghazna pada tahun 977 M. Subuktigin dianggap sebagai pendiri Dinasti Ghaznawi yang sebenarnya. Akan tetapi, Subuktigin masih tunduk kepada Dinasti Samani, yaitu Nuh Ibn Manshur.
Setelah Subuktigin meninggal, pucuk pimpinan dinasti ini digantikan oleh anaknya yang bernama Isma’il. Namun, ia kemudian dikudeta oleh saudaranya, Mahmud. Kemudian Mahmud yang mulai memakai gelar kesultanannya menjadi Mahmud Al-Ghaznawi melakukan perluasan wilayah sampai ke Lahore, Multan, sebagian daerah Sind; dan berturut-turut pada tahun 1025-1026 ia menaklukkan Gujarat, Khawarizmi, Georgia, dan Rayy. Akhirnya kekuasaan Dinasti ini meliputi India Utara, Irak, Persia, Khurasan, Turkistan, sebagian Transoxiana, Sijistan, tepi sungai Gangga, dan Punjab.
Mahmud Al-Ghaznawi merupakan khalifah terbaik dinasti ini. Hingga pada tahun 1030 M, ia meninggal dan digantikan oleh putranya bernama Muhammad. Pada masa kepemimpinan ini sampai selanjutnya Dinasti Ghaznawi mulai merosot akibat pertikaian perebutan kekuasaan.[22] 


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari paparan yang secara singkat telah dibahas pada bab-bab sebelumnya, penulis menarik beberapa kesimpulan, yaitu:
a. Dalam masalah pengklasifikasian periode masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang secara keseluruhannya berdiri selama lima abad lebih, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para sejarawan. Hal keadaan ini disebabkan karena berbedanya aspek yang dikaji masing-masing sejarawan dalam kajiannya terhadap pemerintahan Dinasti Abbasiyah.
b.  Hal yang paling mendasar bagi timbulnya dinasti-dinasti kecil baik di barat maupun di timur Baghdad ialah pertama sekali disebabkan oleh bertikainya dua putra mahkota Dinasti Abbasiyah sepeninggal Harun Al-Rasyid memegang pucuk pimpinan. Dua putra mahkota ini adalah Al-Amin dan Al-Ma’mun.
c.  Selanjutnya yang menjadi faktor lain dari bermunculannya dinasti-dinasti kecil pada masa dinasti Abbasiyah ialah kealpaan para penguasanya sendiri yang terlalu mempercayakan keamanan berlebihan kepada suatu kelompok yang dengan jelas akan berakibat pada lunturnya nilai persatuan di antara masyarakat itu sendiri.
d.   Pelajaran yang dapat diambil dari telaah ini, khusus kepada penulis sendiri, bahwa dalam perkembangan dunia Islam, ajaran agama sering digunakan oleh para penguasa sebagai alat politik demi mencapai apa yang diinginkannya. Hal keadaan ini sudah berlangsung sedemikian lamanya, seperti yang terlihat dalam masa-masa disintegrasi Dinasti Abbasiyah, misalnya, sampai dengan kondisi dunia Islam sekarang ini.
e.   Timbulnya dinasti-dinasti kecil di barat dan timur Baghdad merupakan suatu tahapan awal dari ambruknya suatu Dinasti besar dalam dunia Islam yang dengan peninggalan-peninggalan karya para intelektualnya (baik intelektual di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya) peradaban umat manusia di dunia secara umum mengalami pencerahan dari padanya.


DAFTAR PUSTAKA
 
Abu Su’ud, Islamologi, Sejarah, Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Sampai Abad XX, Terj. H. Samson Rahman, MA., Jakarta: Akbar Media Eka Sarana: 2006, Cet. IV.

Ahmadi Wahid, Sejarah Kebudayaan Islam, Menjelajahi Peradaban Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 2008.

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997.

Ibnu Khaldun, Muqaddimah, terj. Ahmadi Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008, Cet. VII.

Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005.

Philip K. Hitti, History of The Arabs, Terj. R. Cecep Lukman Yasin, dkk. Jakarta: Serambi, 2006, Cet. II.

Siti Maryam, dkk. (ed.), Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern, Yogyakarta: Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI, 2003.







[1] Ibnu Khaldun, Muqaddimah, terj. Ahmadi Thoha, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), Cet. VII, hal. 188.
[2] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Sampai Abad XX, Terj. H. Samson Rahman, MA., (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana: 2006), Cet. IV, hal. 218.
[3] Ahmadi Wahid, Sejarah Kebudayaan Islam, Menjelajahi Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 2008), hlm. 60.
[4] Abu Su’ud, Islamologi, Sejarah, Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 74,
[5] Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah, dalam http://www.docstoc.com/
[6] Ibid.
[7] Philip K. Hitti, History of The Arabs, Terj. R. Cecep Lukman Yasin, dkk. (Jakarta: Serambi, 2006), Cet. II, hal. 570.
[8] Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005), hal. 132.
[10] Jaih Mubarok, op.cit., hal. 153.
[11] Ibid. hal. 154.
[12] Ibid. hal. 154-155.
[13] Ibid. hal. 156.
[14] Ahmad Amin, Zhuhr al-Islam, (Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabiyah, t.th.), Jil. I, hal. 164, dalam http://www.hidayatullah.com/
[15] Philip K. Hitti, op.cit., hal. 579.
[16] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 62.
[17] Siti Maryam, dkk. (ed.), Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern, (Yogyakarta: Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI, 2003), hal 123.
[18] Jaih Mubarok, op.cit. hal. 133.
[19] Ibid, hal. 134.
[20] Ibid, hal. 135.
[21] Philip K. Hitti, op.cit., hal. 587.
[22] Jaih Mubarok, op.cit., hal. 140.

[Tulisan ini telah dipresentasikan dalam sidang mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, Program Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh]. 

0 komentar:

wikipedia

Hasil penelusuran

idola saya