12/04/14

Review Buku Aceh Bak Mata Donya

ACEH DI MATA DUNIA adalah peunawa paling mujarab bagi yang pernah merasa malu terlahir sebagai orang Aceh. Sebab, telah santer terdengar dari mulut ke mulut atau dalam istilah khas kita, radio meu igoe, bahwa banyak orang-orang kita yang enggan mengakui keacehannya karena telah dengan sepihak menyerap prasangka-prasangka buruk tentang tanah airnya sendiri. Ini sering terjadi pada masa ketika bedil masih kerap menyalak di hampir seisi Aceh. 

Bagi orang-orang seperti itu, yang ketika zaman damai ingin menanggalkan 'kemaluannya' untuk bisa kembali menyatu dalam komunal besar masyarakat Aceh, buku ini adalah buku paling wajib dijadikan referensi. Setidaknya saat aksi peu aceh-aceh droe keulayi, ia punya cukup pengetahuan yang bisa membuat orang awam mengangguk-angguk paham.

Ini bisa dikatakan, bahwa dasar pemikiran orang Aceh dalam berkehidupan selalu bersandar pada hal-hal yang bersifat keagamaan dan akar sejarah yang tak pernah lekang dari ingatan. Menguasai salah satunya atau malah keduanya secara bersamaan menjadi modal termurah untuk bisa berbaur dengan masyarakat kebanyakan. Karena perihal yang paling tak bisa dimaafkan dalam kehidupan masyarakat kita adalah sifat kacang lupa kulitnya atau seperti leumo lheueh jipeuteungoh lam mon.

Di lain pihak, dengan mengenyampingkan menjadi perkakas terbaik bagi orang yang insaf dari prasangka buruk tentang negerinya sendiri, buku ini tak ubahnya makanan bergizi yang lengkap dengan vitamin dalam menguatkan identitas keacehan bagi semua generasi. Atau bagi generasi yang sama sekali tak tahu dari mana ia punya asal, mempelajari buku ini umpama belajar membaca aleh ba atau abu tausi, jai ha khu dau dzi ... ketika seseorang ingin mahir membaca Kitab Suci.

24/03/14

Bersoal Maaf Buat Seorang Prabowo

sumber: antara.com
Persoalan minta maaf adalah lumrah. Manusia tak jauh-jauh dari kata khilaf. Sudah fitrahnya begitu. Tak jauh-jauh dari pelbagai perbuatan salah, yang di kemudian hari lumrah juga ia tobat. Insaf, lantas minta maaf. Selanjutnya, adalah manusiawi pula jika orang yang dimintamaafi tak menggubris sama sekali. Tak memaafkan walau si peminta maaf telah jauh-jauh datang untuk hajat pertobatan, oleh sebab-sebab tertentu yang jika diungkapkan satu-satu akan semakin memanjangkan kalimat ini.

Tapi ihwal permintaan maaf seorang Prabowo Subianto tanggal 12 Maret 2014 lalu, adalah permintaan maaf dalam bentuk lain. Boleh dikatakan permintaan maaf paling politis sepanjang tahun. Kenapa dikatakan seperti itu? Semua orang tahu, bahwa Aceh yang pernah banjir darah beberapa tahun silam tidak jauh dari campur tangannya Prabowo selaku Danjen Kopasus saat itu.

Tanpa harus menjabarkan bagaimana aksi para tentara pada masa lalu di bawah komando sosok tambun yang telah meminta maaf itu, persoalan lain yang membuat kita sebagai orang awam mengelus-elus dada, geram, geli dan tertawa sampai harus bersumpah serapah ria adalah manakala melihat permintaan maaf yang diucapkan Prabowo diamini dengan baik oleh sesosok figur yang kerap disapa dengan nama Mualem. Di mana pada hari pertobatan yang menurut kabar berita, sukses terselenggara secara gemilang, sosok berperawakan macho dengan brewok di wajahnya berdiri tegap di samping orang yang mengorasikan penyesalannya.

Adakah yang salah dengan persoalan yang disebutkan di atas? Sama sekali tidak, jika dilihat dengan memakai kacamata politik. Sebab, bicara politik akan tidak jauh-jauh bahasannya dengan persoalan kepentingan merebut kekuasaan. Untuk satu kepentingan yang sama, adalah lazim jika seorang bandit bahu membahu bekerja sama dengan bandit lain atau malah saling berangkulan dengan seorang aulia, misalnya.

16/03/14

Kagumnya Alphonse de Lamartine Terhadap Pribadi Nabi Muhammad

doc. google image
Alphonse Marie Louis de Prat de Lamartine nama lengkapnya. Adalah politikus cum budayawan cum sastrawan kawakan dunia, yang lahir pada 21 Oktober 1790 di Macon, Burgundy, Prancis. Terlahir di kalangan ningrat, orang besar ini telah menghasilkan banyak karya sastra yang telah diterjemahkan dalam pelbagai bahasa dunia. Tapi di samping karya-karya monumentalnya seperti Meditation Poetiques (1820), tahun 1854 de Lamartine yang meninggal pada 28 Februari1869 menulis sebuah risalah sejarah berjudul Histoire de la Turquie (Sejarah Turki). Di buku inilah seorang tokoh besar Prancis ini mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Muhammad رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Sebagaimana dikutip Raghib As Sirjani, dalam karya tersebut, de Lamartine menulis: "Apabila parameter untuk menyebut manusia genius dengan merujuk kriteria; talenta hebat, minim sarana, tapi punya hasil spektakuler, lalu adakah manusia genius dalam sejarah kemanusiaan kontemporer yang mampu mengungguli kegeniusan Muhammad? Orang-orang hebat telah menciptakan beragam jenis persenjataan, merumuskan produk-produk hukum, membangun pemerintahan besar. Akan tetapi, kebesaran mereka bersifat temporal dan kehebatan mereka lenyap bersama matinya orang hebat itu sendiri.

13/03/14

Aduh Subuh –mengenang sejarah–

Sementara, kami telah melewati banyak subuh di sini. Ribuan subuh yang cekam oleh amuk perang. Hingga kami menamakannya dalam hati: subuh penuh peluh. Tapi kami melewatinya senantiasa. Sambil berpura-pura gembira seperti tidak pernah terjadi apa-apa. 

Tahun 90-an,
Subuh; bagi kami adalah pertanda agar liang mesti siap dibuka. Akan ada tubuh diliput subuh. Tak berpeluh, hanya darah yang membasuh. Dan kami, dengan sigap merangkai kafan sambil saling sembunyi badan. Sebab di balik subuh, ada intai tak bertubuh oleh mata yang tak pernah utuh. Inilah resiko kerja kifayah, kata imum meunasah

Sementara, kami telah melewati banyak subuh di sini. Subuh yang kerap kabur oleh banyaknya jerit mengaduh. Hingga, ketika jam malam berangsur usai, kami berteriak serempak: Aduh subuh! Tapi kami melewatinya dengan rona muka biasa. Sambil berpura-pura gembira seperti baru saja ditraktir makan mertua kaya.

Awal 2000-an,
Subuh; tak lebih sama. Dua, tiga, atau tujuh tetua sudah kembali berjama’ah seperti dulu-dulunya.  Sudah ada kerlip kendaraan satu dua di jalan raya. Sedang di utara, suara bedil masih kerap menyalak. Menyerang galak seperti tak menginginkan azan mengudara. Tapi imum meunasah berpesan, “Toh, mereka tak punya rencana menembak Tuhan. Biarkan saja. Setidaknya subuh kita sudah berjalan seperti pesan para orang-orang tua.”

Meureudu - Banda Aceh|medio 2004-2012

wikipedia

Hasil penelusuran

idola saya